Pages

Jumat, 31 Agustus 2018

DUNIA DAKWAH ADALAH DUNIA ILUSI

Jangan marah dan menuduhku yang tidak-tidak kalau cuma baca judul. Cobalah untuk mengetahui secara utuh.

Aku pikir setelah aku memasuki dunia ini, aku akan semakin baik. Kenyataannya bisa iya bisa tidak. Ialah aku, seorang naif yang melihat betapa indahnya dunia dakwah kala belum memasuki kampus. Melihat dari kehidupan Twitter akan para seniorku yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus. Bagaimana aku tidak ingin menjadi bagiannya ?

Harap yang membuncah tinggi, tidak ada keraguan kala bergabung, adalah aku di masa muda. Otak dan pikiranku penuh aura idealis yang telah kupupuk sebelumnya.  Sampai akhirnya kenyataan demi kenyataan harus aku hadapi. Lama-lama aku seperti berada pada dunia ilusi.

Dunia dakwah di Lembaga Dakwah Kampus menurut idealitaku adalah dunia yang penuh keadilan, kekeluargaan, keagamanaan dan kebersamaan. Tapi itu hanya embel-embel saja. Mereka yang ada di dalamnya tetaplah manusia biasa.

Sejak tahun pertama, aku melihat ketidakadilan yang begitu kentara. Ada golongan yang dianak emaskan, ada yang dianak bawangkan. Aku sungguh tak percaya kalau itu ada di lembaga yang mengatasnamakan dakwah. Malah aku melihat organisasi lain yang tidak berhubungan dengan dakwah, lebih adil dan lebih kekeluargaan.

Jumat, 17 Agustus 2018

PERNIKAHAN IMPIAN

(((Ini hanyalah ungkapan rasa, sebah celutuk pribadi yang tak mengahruskanmu sama denganku. Mungkin bisa dijadikan pelajaran, bahwa sudut pandang manusia itu berbeda-beda. Dan kita semestinya saling hormat)))


Usia 20an atau hari-hari di mana kita menggarap tugas akhir kuliah, manusia normal cenderung memikirkan tentang pasangan dan pernikahan. Pernikahan dalam Islam merupakan suatu ikatan yang agung, ibadah yang masa aktifnya lama (harapannya). Manusia, dengan keinginan masing-masing tentang masa depan mereka.

Aku seharusnya berada dalam fase tersebut. Fase memikirkan tentang pasangan. Aku pernah ingin menikah, tapi itu tahunan silam. Sekarang, rasa ingin itu tidak besar. Biasa saja. Efek melihat kenyataan dan juga kelakuan-kelakuan para manusia membuatku cukup tahu dan sulit percaya.

Sisi idealisku beranggapan bahwa pernikahan harus didasari iman, dari awal sampai akhir, bahkan sampai 'nanti yang tak berujung'. Pernikahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis atau memenuhi kebutuhan batin, lebih dari itu. Sayangnya, kajian dan ajakan tentang pernikahan seringkali mengesankan pernikahan hanya untuk dua hal tersebut.

Mungkin hampir setiap perempuan ingin melaksanakan pernikahan terbaik dalam hidupnya. Dalam artian, segala macam prosesi pernikahan harus wah. Gaun yang cantik, WO yang baik, make up terbaik, dekor yang membuat terpana, dan sebagainya. Karena ada orang yang bercelutuk, "menjadi ratu sehari".

Entahlah, banyak hal yang bersifat umum atau wajar di khalayak itu, tidak begitu masuk menurutku.

Karena ini adalah blog pribadi dan opini pribadi, tak apa kalau aku menuliskan apa yang ada dalam benakku tentang pernikahan impian, bukan ? Baiklah. Mari kita mulai

Tentang Upacara Pernikahan
Entah kemasukan angin dari mana, aku berpikir bahwa pernikahan tidak harus dengan pesta mewah nan megah, busana yang indah, riasan yang wah. Karena yang terpenting adalah sah dan barakah.
Suatu ketika temanku membuka obrolan tentang biaya pernikahan.

"Kamu tau ngga paketan pernikahan semuanya berapa ?" Tanyanya.
"5 juta ?" Jawabku
"Yee ! Mana bisa ! Puluhan juta tau dew."
"Wew, mahal ugha ya. Padahal gitu doang"

Kalau di daerahku, di Jawa Tengah, hajatan pernikahan atau sunatan umumnya tiga hari. Dua hari untuk menerima tamu dari berbagai penjuru, hari terakhir adalah hari H. Dan masih ada hari kemudian untuk membereskan segala keberantakan yang terjadi. Memikirkan saja membuatku stres. Aku tidak cocok dengan vanyak orang dalam waktu yang lama.

Berbeda dengan di kota-kota yang kalau hajatan hanya sehari, bahkan bisa menyewa gedung. Walau itu juga tidaklah murah.

Waktu aku menemani Ibu ke rumah temannya, beliau vercerita bahwa ada tetangganya yang sampai berhutang untuk maskawin, demi sebuah kepantasan dalam masyarakat. Aku tak tahu kalau ternyata begitulah yang terjadi di masyarakat.

Peminjaman gaun pengantin yang ratusan ribu sampai ratusan juta, panggung yang hanya sehari, dipajang sedemikian.. Aku berpikir itu terlalu voros.

1. Gaun Pengantin
Mungkin bisa diakali dengan membeli dress atau gamis warna putih atau warna pastel berbahan cerruti atau velvet yang roknya lebar. Dress biasa tanpa apa-apa, agar bisa dipakai di kemudian hari. Secara kebermanfaatan tentu akan lebih bermanfaat daripada membuat atau menyewa gaun. Harganya bisa sama.

Begitu juga dengan kerudung. Kerudung persegi bahan velvet yang lebar kiranya cocok menambah keanggunan. Untuk memantasi, sehelai tule bisa disematkan di kerudung. Perempuan akan jauh lebih anggun ketika kerudungnya menjulur lebar, bukan yang dililit-lilit membentuk leher. Itu opiniku. Setelah aku hitung-hitung, harga tersebut hampir sama dengan sewa baju pengantin. Bahkan bisa lebih terjangkau.

Karena ya, aku memikirkan seandainya kita menyewa baju pengantin sampai Rp500.000 untuk sehari. Sayang aja uangnya.

2. Make Up
Tanggungan perempuan di masa kini adalah harus cantik menurut orang lain. Apalagi ketika tutorial make up menjamur di youtube. Segala look dapat menginspirasi orang-orang. Tapi aku punya standard cantik sendiri.

Aku tidak menyukai make up tebal dan membuat pangling. Aku berpikir dan merasa mukaku tidak cocok untuk full make up. Pun secara selera, aku lebih suka dengan warna kulitku tanpa ada sejenis foundation. Oleh karena itu, aku menginginkan pernikahan tanpa make up atau make up sangat minimalis. Cukup bedak agar tidak berminyak dan lipstik agar ada setitik kesegaran (karena biasanya aku terlihat jarang mandi). Tidak perlu yang lain, apalagi sampai contouring. Tidak perlu.

Dengan meminimalisir make up, biaya juga tidak akan membengkak. Aku mendapati sepupuku yang menikah, untuk riasan saja berjuta-juta. Padahal nantinya juga akan (dan harus) dihapus. Untuk apa ?

Hanya saja, ya, ini ditentang oleh teman-temanku. Padahal ini adalah ide cemerlangku. Haha

3. Pesta
Bagaimana kalau kita meniadakan pesta ? Akad, kemudian walimah dengan sederhana saja. Mengundang keluarga dan teman terdekat saja. Dan yang paling utama adalah mengundang yang seharusnya diundang, yaitu para yatim.
Mengundang ? Atau kami (aku) saja yang mendatangi ?

Sepertinya itu ide bagus. Tapi lagi-lagi, ide cemerlangku sedikit ditentang.

___

Tiga poin di atas, nampak sedikit aneh ? Atau banyak aneh ? Tapi kembali lagi ke tujuan menikah dan diadakannya upacara pernikahan. Yaitu untuk menggapai barakah dan mengabari bahwa kita telah menikah. Caranya bagaimana, itu tentunya terserah masing-masing orang bukan ? Karena merepotkan orang lain, apalagi banyak, adalag sebuah beban bagiku.

Iya, aku tahu. Ide-ide impian nan cemerlangku itu butuh perjuangan untuk disetujui para keluarga. Hahaha
Bisa jadi Orangtuaku ingin yang lain. Atau Orangtuamu juga menginginkan hal lain. Yah, tapi itu kan ide. Ide yang logis dan tidak mau rugi :p wekekek

Iya gue tau bahasa gue cenderung kaku dan gak lucu. Tapi emang entah sejak kapan gue berubah jadi dewasa gini :v



Menikah untuk mencapai barakah, membuat generasi-generasi mendatang yang Robbani, tidak hanya sekadae cinta aku dan kamu. Lebih, lebih agung dari itu. Lebih, lebih berat dari itu. Karena ianya adalah peribadatan seumur hidup (harapannya), bukan ?



Pasangan Idaman
Orang yang hanif. Orang yang baik. Orang yang benar.

Betapa.. betapa ya ALlah.. seringkali kudapati orang-orang bertopeng kebenaran dengan menyembunyikan segala kebusukan mereka. Topeng kebenaran, maksudnya adalah topeng agama. Tapi kelakuan bisa sama dengan mereka yang tak bertopeng.

Betapa ya ALlah.. bagaimana bisa aku tak melibatkanMu dalam segala hal ?