Pages

Minggu, 01 Juli 2018

KKN DITIADAKAN SAJA !

Kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) sudah tidak asing bagiku. Sejak usia Sekolah Dasar, rumah Orangtuaku sudah dijadikan sebagai posko KKN. Aku pun selalu menyambut baik kedatangan para mahasiswa yang KKN, sebelum KKN tahun 2011/2012.

Kala itu sepulang sekolah, aku mendapati rona lelah dari Ibu yang sedang mencuci banyak piring. Piring kotor yang telah dipakai makan para mahasiswa KKN. Pemandangan yang amat memilukan bagiku.

"Lu pikir Ibu gue apaan ?!" Batinku berteriak, seraya ingin mengusir para mahasiswa dari rumah.

Pagi sekali Ibuku masak untuk kami, termasuk para mahasiswa itu. Tak ada yang membantu, mereka masih nyaman dengan kasurnya. Dan aku harus berangkat sekolah pagi karena jarak cukup jauh. Semestinya ada semacam empati dari para mahasiswa yang katanya berpendidikan untuk membantu meringankan Ibuku. Misalnya mencuci piring makan mereka sendiri-sendiri atau dijadwal dan jadwal piket atas ketidakrapian yang dibuat mereka. Tapi, tidak ada.

Bahkan ada yang membuatku tambah geram dengan menanyakan ke Ibuku, "kok ngga ada lemarinya sih Bu (kamarku) ?"

Andaikan orang-orang (yang katanya) terpelajar itu tahu, apa saja yang sudah dilakukan Orangtuaku untuk menyambut mereka :')

Orangtuaku rela membeli kasur, lemari, dan perlengkapan lain demi menyambut mereka. Tapi memang kami bukan golongan orang kaya harta, maka hanya bisa beli beberapa. Kalau menyentuh masalah finansial, induk semang KKN ada kesepakatan dengan mahasiswa tanpa ada tambahan dari kampus. Dan kala itu, Rp10.000,- per anak per hari untuk tiga kali makan selama 35 hari, sudah termasuk listrik dan lainnya. Hal yang terkesan remeh seperti satu orang dua bantal, air panas, cemilan, mie instan selalu disediakan. Orangtuaku juga tidak masak apa adanya, tapi mencoba masak seoptimal mungkin agar tidak makan sayur melulu. Kurang apa lagi ? :')

Sejujurnya sering kubertanya, "untuk apa ? Mereka kan begitu ?"

Ibuku menjawab dengan santai, "membuat bahagia orang lain kan pahala".

Ya sudah, aku bisa apa ? Baiknya Orangtua memang tidak selalu diwariskan ke keturunannya, ya ? Haha

Tahun ini, Juni 2018, Orangtuaku bilang akan ada KKN lagi. Sontak aku kaget.

"Ha ? Lagi ? Kenapa ngga di tempat Pak Lurah aja ?" Tanyaku.
"Kan belum pemilihan lurah lagi, sekarang gak ada lurah"

Aku pun jadi teringat pengalaman masa lalu itu. Khawatir kalau Orangtuaku didzolimi lagi. Khawatir kalau Ibuku kelelahan, karena usianya semakin menua, tenaganya tak seperkasa dulu. Aku yang biasanya jarang pulang pun jadi ingin cepat pulang.

Benar saja, baru tiga hari KKN sudah ada yang berulah. Dua orang mahasiswi pulang malam sekitar pukul 22.40. Satu diantaranya diantar oleh seorang laki-laki, yang ternyata anak KKN posko desa sebelah. Setelah aku tanyai, mahasiswi tersebut menjawab dengan enteng tanpa rasa bersalah,
"Abis main. Hehe".

Menurutku, itu adalah hal yang tidak pantas dilakukan mahasiswi yang sedang KKN dan poskonya berinduk semang. Dia seharusnya memikirkan kondisi sekitar. Bisa jadi Orangtuaku menunggu mereka pulang demi mengunci pintu dan utamanya demi memastikan keselamatan mereka. Bisa jadi tetanggaku melihat pemandangan perempuan diantar lelaki pulang malam sebagai ketidaksenonohan.

Itu dari segi moral. Belum dari segi kemanfaatan.

KKN zaman dulu, ketika para mahasiswa masih menjunjung tinggi norma, kehadirannya terasa mewarnai masyarakat. Mereka dicintai, diharapkan, disegani dan didoakan kebaikan atas mereka. Semakin ke sini KKN semakin terkesan hanya formalitas. Masyarakat pun tak merasa ada aura kehadiran mereka.

Ketentuan KKN sepertinya berbeda tiap kampus. Ada kampus yang mewajibkan, ada yang tidak.

Tempat penerjunan mahasiswa KKN pun beragam. Ada yang memang membutuhkan KKN, ada yang tidak. Konyolnya, ada kampus yang menempatkan mahasiswa KKN di tempat yang sudah cenderung maju. Ada juga masyarakat yang aji mumpung akan kedatangan KKN. Misalnya dengan mencari keuntungan penyewaan posko, memanfaatkan tenaga KKN untuk 'mengemis' dana demi pembangunan desa, melaksanakan tugas yang seharusnya dikerjakan pegawai balai desa, dan lain-lain.

Pengalamanku KKN, aku ditempatkan di desa yang sudah cukup maju bahkan dekat dengan kota. Cukup membingungkan untuk berKKNria. Aku dapat posko rumah yang tidak ditinggali, tak berinduk semang. Kami datang dengan keadaan rumah yang amat berantakan. Kasur dan bantal seadanya tanpa sprei. Bayar sewa mahal, belum dengan listrik. Haha

Aku pun tak begitu dekat dengan masyarakat. Tak tahu bagaimana cara untuk sekadar membuka obrolan. Aku asosial. Aku sering main bahkan sampai malam, karena tidak berinduk semang. Pulang KKN, berat badan menyusut 5kilogram.

Aku terpikir kalau KKN ini hanya untuk formalitas, kalau kasusnya sepertiku. Semoga ke depan jika KKN tetap akan ada, lokasi penerjunannya benar-benar yang membutuhkan, ada bantuan atau lobian dari pihak kampus agar mahasiswanya tak keluar terlalu banyak uang untuk sekadar formalitas. KKNku habis 2juta sekian untuk tempat tinggal, makan, listrik dan program kerja. Terbilang mahal dibanding posko lain yang per anak hanya Rp750.000.


Well, ada kisah-kisah lucu anak-anak KKN yang aku dapat dari teman-teman dari berbagai penjuru. Tentunya kampusnya aku sembunyikan ya. Hanya saja, kelakuan anak-anak KKN ini sangat tidak patut. Seperti ini;
1. Mabuk-mabukan bersama warga desa setempat atas dasar pendekatan.
2. Minta menu makannya dispesialkan sampai bawa Orangtua ke induk semang tanpa bayar lebih, atas permintaan VIPnya.
3. Menggebrak pintu dan menampakkan kemarahan kepada induk semang karena induk semang mengatakan, "KKN kan biasanya semua bareng-bareng Mba, termasuk makannya", ketika si anak itu minta agar tidak membayar uang makan karena rumahnya dekat (padahal jauh, sekitar 30 menit dari posko).
4. Tidak mau menjalankan program kerja kalau tidak ada es krim dan tiap akhir pekan pulang untuk liburan. Padahal, ah sudahlah..


Ingatlah wahai para mahasiswa, ketika kalian KKN, kalian tidak hanya membawa nama pribadi. Almamater kalian lebih teebawa. Bisa jadi pula akan ada generalisir dari masyarakat.

5 komentar: