Pages

Sabtu, 03 Februari 2018

Protes akan Penggunaan Bahasa "Lo-Gue"



Sejak bermain sosial media, aku memerhatikan bahasa. Bahasa penulisan, bahasa chat, juga perasaan yang terkandung dalam tulisan yang dibuat. Kyaaa

Dari sosial media, aku biasa menggunakan bahasa gaul agar terkesan renyah. Misalnya mengganti aku-kamu dengan gue-elu. Dan ternyata hal tersebut terbawa ke dunia nyata

Banyak yang protes dengan bahasa yang ku gunakan
"Halah orang X aja pakenya gue-elu", "gak cinta sama bahasa daerah !" Etc etc

Kalem dulu yah, funs. Sini baca sambil melek deh

Seperti prolog di atas, salah satu alasan kenapa memakai bahasa gaul adalah agar renyah > lebih mudah diterima. Juga, ada kesan-kesan dalam kata pengganti darinya. Seperti
1. Saya-Anda. Menurutku ini terlalu formal untuk dipakai sehari-hari. Karena aku tidak sekaku itu. Bahasa ini biasa dipakai untuk berbicara dengan dosen atau acara formal atau bicara dengan orang yang baru dikenal

2. Aku-Kamu. Menurutku ini terlalu berkesan manis. Kadang jadi sok imut .-. Aku pakai ini ke perempuan. Atau ke orang yang tidak terlalu akrab tapi tidak bisa pake gue-elu. Mungkin juga ke orang spesial, uhuk. Pret

3. Ane-Ente. Sepertinya ini bahasa yang dari dulu ane pake sih Gan.. bahasa agan-agan kaskuser. Dan ternyata organisasi tempat ane pernah nangkring pake bahasa ini juga. Organisasi Agan Kaskus, OAK lol

4. Gue-Elu. Yaaa kadang emang terkesan galak, sih. Tapi ya gimana.. kadang dengan kata ini, kita jadi susah diakrabin. Tali dengan bahasa ini, kita jadi bisa akrab. Rumit ya ? Cuma bahasa ini sih yang banyak dapet protes

Intinya, memakai bahasa itu tergantung kepada siapa lawan bicara, juga kondisi. Semakin ke sini aku semakin belajar. Kalau aku berbicara dengan lelaki yang mudah baper, aku gak pake bahasa nomor 2. Kalau aku bertemu dosen, aku menggunakan bahasa nomor 1. Dan seterusnya

Juga, penggunaan kata 'kamu' dan 'elu' menurutku kurang sopan jika ditujukan kepada orang yang lebih tua atau senpai dalam beberapa situasi, kalau hubungannya tidak begitu akrab. Jadi sekarang aku pakai kata ganti "Mba X", "Om Y" dsj daripada 'kamu' atau 'elu'. Imho saja

Tentang tidak cinta dengan bahasa daerah, sesungguhnya itu tuduhan yang sangat keji. Aku mencintai dan mendukung pelestarian bahasa daerah. Aku pernah menuliskan tentang kecintaanku padanya tahunan silam di blog (http://dewisaladin.blogspot.co.id/2012/06/ngapak-itu-keren.html?m=1). Aku pun memakainya saat bisa. Fyi gue ngomong pake bahasa krama (walo ngga inggil) ke Ortu

Btw, jadi teringat. Kenapa keterusan pakai gue-elo, juga ada andil besar dari betapa gemarnya aku mengikuti blog dan twitter @Poconggg yang menggunakan gue-elo. Tulisannya tidak hanya menghibur, tapi juga berisi pesan baik. Dulu aku belajar menulis terinspirasi dari betapa renyahnya bahasa @Poconggg. Jadi, keterusan

Sudah ya, intinya itu. Saling menghargai dan saling memahami itu koentji. Jangan hanya bisa protes dan nyinyir atas sedikitnya hal yang kamu ketahui ya, funs-funs aquuh

Dariku, yang sering dikira bukan penduduk Ngapak
Waktu itu ketemu sama temennya Kholid, dia nanya aku orang mana. Setelah tahu jawabnya, dia berucap, "kok ngga kaya orang sini logatnya ?" Pun dengan beberapa orang yang baru kenal

Note : bahasa memang tidak bisa disepelekan. Karena bahasa menunjukkan bangsa, katanya. Aku sangat respek dengan orang-orang yang kaya bahasa. Apalagi dapat merangkainya secara indah, atau secara ringan tapi bermakna sangat dalam. Dan sebaliknya, penggunaan kata-kata kotor sebaiknya dihindari. Gue-elu bukanlah kata kotor

Sudah ya, sudah

posted from Bloggeroid

6 komentar: