Pages

Senin, 20 November 2017

Pengalaman Tinggal dengan Penjahat

Hidup ini kadang begitu lucu. Para manusianya tak kalah lucu. Dan tentunya gue juga lucu nan menggemaskan. *kemudian diprotes warganet
Terinspirasi dari banyak dan lamanya jerawat yang tumben. Udah diobatin tetep ae ada. Terus teman nyetus, "jangan banyak pikiran makanya, tuh yang di rumah. wkwk".

Baiklah. Kali ini gue mau menceritakan pengalaman gue yang pernah dan masih hidup bersama manusia yang tak patut dicontoh, selama beberapa bulan. Ini pengalaman buruk, semoga bisa diambil pelajaran. Biar kalo polos gausah polos-polos amat

Lupa sejak kapan, tapi sepertinya Ramadan tahun ini gue dichat melalui WhatsApp oleh cewe yang sejak maba gue kenal. Dia menanyakan apakah ada kamar kosong di hunian gue.

Gue tinggal di rumah Pakde yang baik hati seorang diri, karena rekan serumah sudah lulus. Tapi waktu itu sudah dibooking sama Anida. Ada dua kamar yang diperuntukkan oleh Pakde. Satu kamar yang luas dipake gue, yang lebih kecil buat siapa yang gue kehendaki.

Maka bilanglah gue kalau sudah ada Anida. Tapi teman gue itu merayu, "aduh gimana ya, aku udah diusir dari kosan. Belum nemu pesantren. Kalo sementara gimana ?"
Diusir ? Karena gue merasa kasihan dan tak enak hati, maka gue terimalah. Toh dia hanya sementara, pikir gue. Gue pun pindah ke kamar sebelah, dan mereka sekamar berdua. Karena gue introvert yang butuh me time lebih.



Walau kenal sejak maba, dan mungkin orang lain mengira dekat, sesungguhnya gue tidak mengetahui tentangnya secara lebih kala itu. Dari penampilannya semakin ke sini nampak semakin shalihah karena baju-bajunya semakin gombrong, kerudung menjulur lebih lebar. Tutur katanya kalau ngobrol juga seperti orang bener. Walau gue agak sadar kalau sorot mata dan mimik mukanya mengundang kepalsuan, gue urungkan atas nama husnuzhon.

Sampai suatu hari segala kebohongannya terungkap. Ada beberapa orang yang terkena fitnahnya. Beberapa adalah teman sendiri, yang juga teman gue.

Jadi, cewe itu pernah bilang kalau ibu kosnya jahat. Tidak sebaik dulu. Dia juga menceritakan aib teman kosannya yang seharusnya tidak dia ceritakan ke orang asing (gue). Kemudian gue ketahui kalau Bapak-Ibu kosannya adalah orang baik dan taat agama. Mereka tidak menyukai kelakuan cewe ini yang hampir tiap hari membawa teman cowo ke kosan dan menjadi perbincangan tetangga. Dan teman kosan yang difitnah, tidak menyukai kalau ada cowo masuk kosan.

Tetangga pada bilang, "kok sekarang kosannya jadi kos ikhtilath ?"

Gue pikir dia diusir karena kosannya mau buat kos cowo atau apalah sesuai cerita dia. Ternyata diusir karena bawa cowo. Dan teman kosannya bukan stres karena penyakit mental seperti yang cewe itu katakan, tapi karena kelakuan cewe itu yang gak tau diri bawa cowo ke kosan terlampau sering. Padahal pakaiannya gombrong.

Syok dong gue.

Dewi, kebodohan macam apa yang udah lo perbuat ?

Gue percaya ngga percaya sebelum akhirnya melihat langsung dengan mata kepala gue sendiri. Mendengar dengan telinga gue sendiri. Hilanglah respek gue. Berasa hati gue tuh ditusuk-tusuk pake jarum. Sakit, Gan.

Tapi gue ga bisa berbuat banyak. Hanya menyimak dengan diam segala tingkahnya. Mencoba biasa saja walau mimik muka gue ga bisa berdrama.

Sudah harus dipahami oleh lingkungan ikhwah, bahwa boncengan non mahrom tidak diperbolehkan syariat. Dan hampir tiap hari kala itu gue melihatnya. Dan gue hanya bisa diam. Segala tutur-katanya zaman dulu terasa sangat palsu. Mungkin dia hanya ingin terlihat shalihah.

Rumah yang sejatinya menjadi tempat gue recharge energi, kini tidak lagi. Berbulan-bulan gue berasa hampa. Menjadi orang lemah. Semakin ke sini mata gue semakin terbiasa melihat yang seharusnya tidak terlihat. Mungkin mata gue sudah maklum. Padahal seharusnya tidak. Tapi gue hanya bisa memendam rasa. Karena kala itu, perasaan lebih dominan daripada otak.

Suatu ketika, gue pulang jalan-jalan sama Anida sama anak-anak. Kemudian cewe itu bilang tadi ngepel rumah. Dan gue diam saja, karena kaki gue bisa merasakan lantai yang sudah terpel dan belum. Kaki gue bisa mendeteksi kebohongan.

Walau kamar gue seringkali berantakan, gue merasa itu tidak apa-apa karena itu untuk gue pribadi, masih sendiri. Berbeda jika itu 'ruang bersama'. Untuk gue, sebisa mungkin rapi dan bersih.

Akhirnya gue kena juga..
1. Dewi sering banget makan berdua sama cowo.
Memang pernah, tapi tidak sering banget. Satu tangan saja masih lebih jarinya.
2. Dewi sekarang genit banget, dandannya lama.
Gue lebih pede bareface kemana-mana, adapun jika gue lama itu bukan dandan. Gue hanya sedang merawat apa yang ALlah kasih.
3. Dewi suka banget drama romance.
Silakan cek laptop gue.
4. Dewi yang ngajak 'aku' ke sini.
Padahal lu yang minta. Gue ga pernah minta orang buat tinggal di sini.

*tepuk tangan*
Mungkin ada lagi di luar sana.

Pernah, malam pukul 23.30 dia baru pulang bersama cowo. Tanpa ada permintaan maaf. Tanpa ada rona sesal. Gue cuma bisa istighfar.

Don't judge the book by it's cover. Iya, benar sekali. Cewe itu penampilannya memang seperti orang taat. Sampai gue tertipu akannya. Tapi kelakuan tak lebih baik dari yang sadar bahwa dia salah.

to the point ae, ngaps basa-basi
gue mengirim gambar tak senonoh dan bertanya, yang tidak dijawab
kerudung panjang :(((((



Gue takutkan kalau pandangan orang-orang akan perempuan berjilbab syar'i disamaratakan seperti cewe itu. Tidak ada bedanya bahkan lebih parah dari yang tidak berkerudung. Karena tidak jarang pula dia di kosan cowo sampai malam. Sedangkan banyak yang mengira mereka taarufan. Taaruf model apaan, Sugiono ?

Gue takutkan pula akan pandangan tetangga-tetangga gue. Rumah isi cewe semua dengan penghuni terlama cenderung asosial (gue), kerudung lebar-lebar, tapi kok sering diboncengin cowo ?
Aduh pusing adinda.

Kesal ketika gue yang polos dan cupu ini mendapatinya. Memang pernah sekosan zaman dulu. Tapi gue dikick dari grup sejak pindah, gatau perkembangan semua. Kemudian ampasnya gue yang terima. Seolah gue menjadi tempat pembuangan atas masa lalu itu.

Ternyata masa dulu juga pernah ditabayyunin sama orang sekosan. Tapi memang tidak pernah ada jawaban. Tidak pernah ada rona sesal. Tidak pernah ada rona salah. Pun ketika Bapak kosan memberinya nasihat.

Kosan dengan rumah itu rasanya berbeda. Jika di kosan saja yang kamar per kamar sedongkol itu, apalah daya gue yang serumah. 


Perilaku munafik :)

Padahal sebelumnya cewe itu menyesalkan kelakuan rekannya yang sudah tak lagi berjilbab syari dan pacaran. Tapi sendirinya melakukan. Jangan merendahkan orang lain deh, siapa tahu kita tidak lebih tinggi darinya.

Lucunya, dulu pernah ditanya akan siapa cowo yang biasa nganter, yang kadang sembunyi-sembunyi di pos ronda. Dikiranya tetangga gue ga liat kali. Cewe itu bilang ke Anida kalo dia hanya teman. Ada juga cowo lain yang pernah nganter-jemput, katanya teman SMA. Kelitannya aduhai.

"Mba dewi, itu ada anak laki-laki yang sering ke sini siapa ya ? Saudara atau temennya ?" 

Mamam lah gue yang kena :')
Sebenarnya tetangga gue ga masalah kalo ada cowo mau main. Emang bukan lingkungan yang agamis amat. Tapi kan jarang cowo yang ke rumah _,_ Kecuali sejak ada penghuni baru. Ewh

Pernah izin untuk nginep di luar, katanya kunjungan bisnis. Pake ngucap asma ALlah. Eh perginya ke Jogja sama cowo.

Pernah ngaku sakit, katanya kesel tiap abis maghrib ga bisa ngapa-ngapain. Eh abis isya pergi sama cowo nginep di Gombong. Otaknya masih sehat ?

Pernah ditanya  mau ***** sama cowo itu apa engga. Dijawabnya pengen yang hafizh, yang shalih, gamau sama cowo itu. Minimal kaya Akh X ato Akh Z. Hatinya masih berfungsi ?
Terus ngapain sering amat ke kosan cowo yang katanya cuma temen tapi fotonya mesra pake banget itu ? Mana ngelakuinnya di depan orang asing. Ga inget sandang ? #SaveOtak

Ikhwan shalih mau ?

Kzl.

Sebenarnya gue udah empet overdosis. Tapi denger dia mau liqo, gue kasih kesempatan. Ternyata sama aja. Wkwk
Dan hari ini cewe itu mau pindah. Entah dipercepat gara-gara gue ngechat nanya ke cowonya ato gimana. Tapi lucunya ga bilang apa-apa. Semacam tidak tau terima kasih, tidak sadar diri, atau tidak punya hati. Ada peribahasa Jawa, "ditulung menthung". :)

Pesantren ?
Wkwkwk


Gue belajar. Agar tidak mudahnya percaya kepada orang. Karena kadang kebaikan kita dimanfaatkan. Di belakang kita ditusuk bertubi. Perih, Kak

Pakaian baik tak selamanya orangnya baik. Ada juga yang hanya menjadikannya kedok agar nampak baik.

Rajin membaca ayat suci tak mencerminkan shalihnya seseorang. Apalah jika rajin membacanya tapi tak menghindarkan dari maksiat dan menyakiti saudaranya ?

Postingan agamis di sosial media tak mencerminkan taatnya seseorang. Sering banget dia posting seolah dia adalah korban. Sangat memuakkan duhai kalian yang playing victim.
Paras menawan, cara bertutur lembut, tak lantas menjadikan manusia itu baik dan benar.


Lebay lu dew.
Nee, oni-chan.. you haven't walk on my path :)

Menyaksikan setiap hari. Untuk tetap waras, itu susah. Ditambah orang-orang kebanyakan memojokkan gue tanpa mau menemani. Gausah dipojokin dong guenya kalo emang ga mau nemenin haha. Gue tau, gue ga sabar, gue hanya manusia bodoh yang biarkan semua kini permainkan ku berulang-ulang kali :'v

Menyaksikan hal-hal seperti itu bukanlah hal mudah buat gue. Bukan hal mudah untuk emnerima semua itu juga. Mungkin gue akan maklum jika dia adalah 'orang biasa' dan tidak tinggal di rumah hunian gue. 

Udahlah wi. Gausah dipikir.
Kalo bisa sih ga gue pikir. Tapi kalo seatap dan keliatan terus ? Gue bukan orang yang bisa secuek itu. Bahkan dalam diam, gue tetep berpikir sampe males mikir.

Kasihan, iya. Tapi engga. Buat keduanya sih. Mungkin karena tidak ada teman lain maka mereka sering bersama. Tapi kalo emang mau punya teman, ya ubahlah sikap. Jadilah benar-benar baik dan benar, bukan kenampakan doang. Berhenti memfitnah dan menaburi micin terlalu banyak atas setiap kalimat. Dikira pada ngga tau, ya ? Stop being fake :)

Semoga kelen segera menuju ikatan halal, ya. Aamiin


Akhlaq, adab, etika, tolonglah..
posted from Bloggeroid

0 komentar:

Posting Komentar