Pages

Selasa, 10 Oktober 2017

Anak Bawang


Di sini, ada dua peran. Anak emas dan anak bawang. Gue adalah anak bawang, selalu menjadi anak bawang. Bukan karena gue lulusan sekolah di Bawang.. :)

Sering dibuang, terbuang, dianggap angin, tak berguna, tak berdaya, mengecewakan, nakal, tak sesuai. Segala hal buruk sering gue terima. Gue terima. Gue terima..

Gue pura-pura, gue mencoba kuat menerima itu semua. Termasuk dianggap ada ketika hanya dibutuhkan. Gue mah cuma bisa sadar diri. :)
Ya, walau kadang ada bagian dalam otak gue yang berontak dengan keras, meronta-ronta.. #lutuhgabisadiginiinterus

Tapi ketika gue benar-benar meronta, memberontak, akhirnya gue sendiri yang harus salah. Gue yang harus salah. Dan harus interospeksi diri gue. Tapi tidak dengan dia dan mereka.

Udah biasa.

Sejak dibuang di masa lalu itu, gue sadar bahwasanya anak bawang tetaplah menjadi anak bawang. Forum-forum yang gue pikir sebagai bahan belajar dan tanggungjawab, ternyata tidak sebegitunya. Kepedulian ngga cukup. Sampai kadang gue berpikir untuk apatis saja. Tak berguna.




Anak bawang punya dua pilihan. Tetap berjalan, apapun rintangannya harus siap menghadapi. Menjadi diri sendiri dengan prinsip. Atau keluar, menjadi baik, liar, tak terkontrol, atau pun musuh.

Walau bagaimana pun, gue tetaplah harus salah. Kala gue menyapa teman sekelas gue yang cowo demi keinklusifan, gue salah. Padahal katanya janganlah menjadi eksklusif. Gue mencoba berkembang dengan cara gue, gue salah. Karena gue melanggar aturan yang ngga pernah tertulis dan gue ngga pernah dimintai persetujuan.

Kala gue mencari suasana bersama orang yang mau, gue salah. Karena mereka adalah laki-laki dan gue perempuan. Tapi ketidakpekaan para perempuan tidak pernah dijadikan bahan interospeksi akan adanya kasus yang dianggap lebih bahaya.

Ya, kalian memang seperti itu. Gue tau dari dulu. Dan gue sudah hafal kalau gue harus salah. Karena gue hanyalah anak bawang :)

Dear, anak bawang. Kalian ngga sendiri. Ada gue

Tak dum tss ~~~

posted from Bloggeroid

Selasa, 29 Agustus 2017

HASRAT



Mungkin ada benarnya kata guru sosiologi saya dulu, bahwa zaman sekarang ini tontonan menjadi tuntunan dan tuntunan menjadi tontonan. Miris, ketika mengetahui banyak hooman yang menonton sinetron, yang mana itu drama menye-menye banget. Pun, tidak edukatif #halah

Sampai akhirnya saya merasakan sendiri, bagaimana tontonan benar-benar bisa mempengaruhi saya. Contohnya ketika saya nonton Fairy Tail (anime), saya menyukai tokoh Erza Scarlet. Kemudian saya ingin mewarnai rambut saya seperti Erza. Atau ketika saya menonton anime lain seperti One Piece, saya ingin membuat semacam luka di bawah mata agar mirip dengan Luffy. Atau ketika saya menyukai para tokoh wanita yang cantik, kemudian saya ingin terlihat cantik.


Apakah itu saya realisasikan ? Tentu saja tidak. Karena saya punya kekuatan untuk sadar diri. Saya siapa, tidak penting mewarnai rambut seperti Erza. Tidak perlu juga membuat codet seperti Luffy. Tidak juga saya perlu memoles wajah agar Nampak cantik bak tokoh anime. Tapi, mungkin saya bisa sekeren Mikasa :D

Tapi, ada beberapa hasrat yang tersampaikan dan kemungkinan akan tersampaikan. Seperti makan ramen misalnya. Dulu saya nonton Naruto yang terlihat sangat lahap memakan ramen, kemudian saya ingin. Saya pergi keluar demi merasakan ramen, walau akhirnya menangis karena kepedasan. Ramen itu pedas, saya tidak bisa makan pedas (penting ?). Kemudian memakai baju dengan warna yang sama seperti tokoh anime, dan memakai syal berwarna merah seperti Naruto, Mikasa, Hiyori, Ed dan Miwa. Syal dipakai seperti apa juga saya belum terbayang. Belinya dimana juga belum terpikir. Haha

Efek tontonan.
Karena tontonan pula, ada rasa ingin pergi ke Jepang. Negara produksi tontonan-tontonan bermutu (anime). Dari tontonan dan bacaan, saya ketahui kalau masyarakat Jepang adalah masyarakat yang beradab. Saya penasaran. Pun bidang pertaniannya.
“Kenapa suka Jepang ?”
Ya, suka itu terkadang datang tanpa izin
“Kenapa ingin ke Jepang ?”
Ingin bertemu Luffy :v.
Jawaban yang mungkin terasa mengesalkan. Emang gue pikirin. Mungkin itu bisa jadi semangat gue kenapa masih mau niat hidup sampai detik ini. Lolsad
Kadang kita hanya membutuhkan alasan sederhana………
"makan makan makan" ato "ena ena ena", Taiyosaid. lol

Tanggal

Minggu, 27 Agustus 2017

Agrowisata Kebun Teh Kaligua : Wisata Hijau nan Kolosal di Jawa Tengah



Butuh ijo-ijo dan biru-biru yang menenangkan ? Mungkin kamu perlu bertamasya alam. Ijo daun yang nyegerin dan cerahnya langit biru itu kombinasi yang pas. Seolah batu-batu yang nemplok di pundak tuh berguguran menjadi debu.. #eaaa bhay
Itulah yang ane rasain waktu mampir ke Agrowisata Kaligua, Gan !
Lokasinya di Brebes, Jawa Tengah. Sekitar 2,5 jam perjalanan dari Purwokerto (kayaknya bisa kurang deh). Beberapa pekan yang lalu ane ke sana sama anak-anak (anaknya orang) naik motor. Kami lewat jalur normal, ngga nerobos-nerobos, yang mana di beberapa titik ada semacam kemacetan kecil. Jalanannya bagus sih, alus, tanpa kerusakan berarti. Tapi pas udah mendekati Agrowisatanya, kamu kudu sabar.
ijoooooooooo

Iya, kudu sabar dan kudu kuat. Karena jalanannya mulai menyempit, lubang ngga santé dimana-mana. Kek, kamu tuh bukan milih jalan yang mulus tapi kamu kudu milih lubang yang termulus untuk motor lalui. Lubang yang mulus, huh ? Belum lagi kalo ada mobil. Tapi tenang ae, ada juga yang jalanannya masih mulus, setelah kamu melewati para lubang itu.

Ngga cukup sampe situ, kesabaran dan kekuatan kamu harus tetep digenjot. Karena

Sabtu, 08 April 2017

Perawatan, Bukan Dandan



BismiLlaahirrahmaanirrahiym..

Terbersit celutukan pada diri untuk 'seperti dulu'. Mulai belajar untuk menulis lagi, di blog. Kasian dianggurin..
Move-on dari Mas Eji emang susah banget. Udah dua-tiga tahun baru move, ngga on-on. Haha
(Eji adalah Nokia E71)

Sebenarnya ini udah pernah aku tulis di laptop. Tapi lupa naroh di mana. Jadi telat posting dari rencana semula karena tulis ulang. Pake blackberry Q10 dimana dia itu ada keypad fisiknya, kaya Mas Eji dulu :3
Sebenernya ane suka pake keypad fisik kaya gini. Soalnya mengurangi typo berlebih, juga bisa nulis sambil tidur  merem. Hahaha

Btw, sehat kan ?
Aku alhamduliLlah sehat. Doakan biar sehat terus ya baik jasmani dan rohani :'D
Semoga kita selalu menapaki jalanNya. Aamiin


Baik, kali ini aku mau bagiin ke kamu tentang sesuatu yang sebenarnya penting untuk kamu tau. Khususnya para perempuan, ukhti-ukhti di dinding yang biasanya masabodo sama urusan satu ini karena sibuk ngurusin ummat #halah


Apakah itu ?



#jengjengjeng

Senin, 20 Maret 2017

Karena

Manusia itu makhluk sosial. Walaupun dia introvert, pendiam dan sejenisnya, tapi dia tetap butuh orang lain untuk bertahan hidup di dunia yang katanya kejam ini. Kejam, namun juga begitu indah.. #TerMikasa

Katanya, fitrahnya manusia itu ingin menjadi lebih baik. Walau sekarang dia mungkin saja jahat, tapi pasti dia punya bakat untuk baik. Dari buku Chicken Soup for Teenage Soul, "perlakukanlah seseorang sebagaimana ia seharusnya dan sebagaimana semestinya. Karena ia akan menjadi sebagaimana ia seharusnya dan semestinya. Tidak hanya menjadi sebagaimana seharusnya." Kurang lebih seperti itu.

Adapun perubahan untuk menjadi lebih baik bisa karena faktor internal dan faktor eksternal.
Imho, perubahan karena diri bisa jadi atas ilmu yang didapat, atau melihat kebaikan orang lain. Maupun keburukan orang lain.