Pages

Senin, 01 Februari 2016

Ekspedisi Empat Pantai di Kebumen

BismiLlaahirrahmaanirrahiym
Assalaamu'alaykum wa tahmatuLlaahi wa baarakaatuh

Apa kabar ? Semoga baik. Sebaik perasaan hatiku yang habis jalan-jalan menelusur Kebumen. Hihi

Hari Ahad, tanggal 24 Januari kemarin aku sama tiga lainnya menuju empat pantai di Kebumen. Niatnya mau ke Panta Karang Agung, Pantai Pecaron, Pantai Lampon dan Pantai Suwuk. Aku sama Mba Zai (navigator) dan Mba Ihsan sama Mba Tika. Tepat seminggu sebelumnya aku juga ke Kebumen, ke pantai Menganti dengan tim yang berbeda. Disana (Menganti) beneran unforgettable deh. Soalnya pantainya ngga sesuai ekspektasi, dan aku jatuh duduk karena kepeleset. Sakit banget. Bukan karena sakit menanggung malu, tapi asli sakit banget. Haha
Efek jatuh itu aku jadi ngga bebas bergerak. Lebih dari seminggu. Sekarang (tanggal 1 Februari 2016) masih kerasa efek jatohnya. Sempat mikir juga, apa aku bisa ya menjelajah 4 pantai sekaligus.. And this is it :3 heaaaa

Wacananya, kita mau berangkat pukul 6 pagi. Sehari sebelumnya Mba Zai bilang diundur jadi pukul 6.30 karena mu nganter ade kosan. Esoknya pas pukul 6 pagi, aku minta diundur jadi pukul 7 aja. Sekalian dhuha haha
Nyatanya berangkat pukul 7.45 dari rencana semula. Sampai di Kebumen sekira pukul 9 atau 10. Pokoknya ini lebih cepet daripada waktu ke Menganti. Soalnya ngga nyasar-nyasar dan lewat jalan terobosan. Kecepatan normal, dari 40-70km/jam aja.

Bocoran nih. Aku baru empat kali ke Kebumen, seingatku. Dua perjalanan kesana yang teerakhir bikin aku banyak-banyak nyebut. Kenapa ? Soalnya Kebumen masih nampak asri banget. Hamparan sawah sejuk menghiasi sepanjang perjalanan ke pantai. Ma sha ALlah :')
Kata Mba Meli, "kayanya cuma ente anak petanian yang teriak-teriak liat sawah. Liat tuh Umi Fifi sama Anida aja kalem". Hahaha

Kebumen asri banget,, dattebayo !!!

1. Pantai Pecaron
Pantai pertama yang kami sambangi adalah pantai Pecaron, anggap saja pantai pribadi. Karena pantainya masih asri, sepi pengunjung dan kerasa alamnya. Jalannya pun lumayan bagus (berarti banyak jeleknya). Ombaknya besar, ada karang. Pemandangan lautan luas dan perbukitan hijau menghiasi. Di dekat pantai ada banyak pohon kelapa juga. Waktu itu aku liat ada yang ngecamp di sekitar situ.

Waktu itu kami dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5000. Di tiket tersebut tertulis tiket khusus hari raya dan hari besar. Stok lama sepertinya. Hihi
Dulu kata Mba Zai ngga ada tiket, cuma bayar parkir.

Ada perbukitan yang bisa dijamah. Cuma aku ngga menelusur lebih jauh lagi. Mungkin karena waktu itu ribet bebawa jaket lol
Kata Mba Zai di bukitnya bagus pemandangannya. Menganti jadi keliatan. Aku liat dari kejauhan emang bagus sih. Alami.. Ore wa suki desu ! :D
Kapan-kapan kalo kesana lagi bakal aku sambangi deh, in sha ALlah :)
Ada dua atau tiga warung sederhana dan ada toilet. Karena masih sepi, pantainya masih cenderung bersih. Sampahnya kebangakan sampah-sampah alam.

Udah merasa puas, kami cus mau ke pantai selanjutnya. Tetiba ada dua bapak - bapak nyamperin dan ngajak kenalan. Mereka menyodorkan tangan mereka, kemudian tangan kami mengatup tanda ngga salaman. Tapi sama mereka tetep ditempelin. Aku yang udah liat jadi memundurkan tangan biar ngga nyentuh.

Setelah menanyai kami, salah satu bapak bilang kalau aku itu GAFATAR, aku beda sendiri karena ngga mau salaman, non muhrim (mahrom, red) katanya. Padahal ngga ada yang salaman sama doi. Apa karena aku ngga make jaket organisasi ato gimana. Mungkin bapaknya sudah melihat dari kejauhan penampilan kami. Soalnya waktu bapaknya dateng kami udah make jaketnya dengan rapi, tertutup rapat.

"ini gafatar ini"
"ini yang paling beda"
"bentar lagi pake cadar" (sebenernya emang mau pake cadar, tadinya aku pegang-pegang. Tapi karena kata Mba Zai deket jadi aku urungkan. Aku pake cadar sebagai pengganti masker)
"ini gafatar ini. Bentar lagi ilang"
"ini yang gafatar nanti ilang kaya dokter yang di Jogja"
"walah dari Purbalingga. Beneran nanti ilang ini yang gafatar"

Berulang kali aku dikatai sebagai GAFATAR. Pertamanya sih aku pikir itu hanya sekadar guyon. Tapi guyon kalo diulang-ulang bukan jadi guyon lagi namanya. Apalagi itu sensitif. Aku ngga bisa nyembunyiin perasaan di muka, kalo bete ya mukanya bete. Tapi bapaknya ngga peka. Untung Mba Zai ngasih kode. Akhirnya aku terbebas.

Sebenernya pengen aku kasih tau (ngebilangin), tapi mbok dikata saru. Jadi cuma mbathin aja. Mungkin orang sana belum terbiasa dengan perempuan keren kaya aku dan tim ekspedisi yang berjilbab lebar. Bukan cumen aku yang risih sama 'candaan' bapaknya, tapi temen setim juga. Haha

2. Pantai Pasir
3. Pantai Lampon
Next pantai Pasir dan pantai Lampon. Untung jalan sepi, jadi walo berkelok-kelok khas pegunungan, tetep bisa terasa cepet. Sekitar sepuluh menit dari pantai Pecaron. Pantai Pasir sama pantai Lampon deketan, cumen dipisahin ama karang menjulang. Kami ngga tertarik sama pantai Pasir. Soalnya bau amis, isinya kebanyakan memang kapal nelayan. Jadi kami menuju pantai Lampon.

Jalan ke pantai Lampon ternyata lebih ekstrem daripada ke pantai Pecaron. Haha
Ada jalan menanjak yang sudutnya tajam, cuma disemen sedikit hanya muat untuk satu motor. Awalnya ragu karena melihat dari kejauhan dan mau jalan kaki aja. Tapi pas dideketin ternyata ngga semengerikan yang terbayang.

Yattaa. Aku berhasil sampai ke atas. Tapi Mba Tika jatuh.. :(
AlhamduliLlah akhirnya sampai ke atas juga. Kalau naik motor, ada tantangan, intinya yaqin. Jangan ragu..
Setelah di atas, tinggal ada jalan bebatuan. Ngga halus. Dari jalan itu terlihat betapa indahnya pantai Lampon yang ketjil mungil. Hihi

Disana disediakan tempat parkir yang nyaman, ada dua warung, satu musholla dan empat toilet (dua untuk pria dan dua untuk wanita). Tempat yang bisa dikunjungi bukan cuma pantai Lampon saja, ada beberapa tapi aku lupa. Seingetku ada curug, karang-karangan dan air terjun. Coba gugling aja deh :v

Di atas pantai Lampon ada perbukitan hijau. Darisana kita bis melihat samudera dan pantai Lampon dari atas. Ada satu spot yang indah nan romantis, tapi riskan. Hanya dipagari bambu. Jadi jangan sampai terpeleset, soalnya bisa-bisa langsung ke laut. Hihi

Pantai Lampon ada di bawah. Kami harus berjalan lumayan jauh, paling 5 menit sih. Di perjalanan itu kami berpapasan dengan segerombolan cowok. Celutukan mereka,
"rai-rai pondokan kabeh kiye"
(muka-muka pesantren semua itu)
Well, itu ngingetin gue ama bapak-bapak yang ketemu di pantai Pecaron tadi. Dari itu kami konklusikan kalo di Kebumen makhluk sekeren aku (kami) masih jarang. Jadi aku (kami) harus sering-sering kesana biar pada ngga aneh kalo ngeliat :v

Pas nyampe disana, sepi sih. Tapi kalo dibandingin pantai Pecaron lebih rame ini. Dan aku lebih suka pantai ini. Berasa lebih indah. Ada beberapa karang yang seolah memanggilku. Namun apa daya, aku ngga bisa ngambil risiko. Selain badan lagi ngga 100% efek jatuh seminggu sebelumnya, sendal yang aku pake kegedean satu nomor, dan aku ngga bisa berrenang. Aku ngga bisa ngambil risiko seperti itu. Disana juga ngga ada penjaga pantai. Watir nyemplung

Pantai Lampon tak begitu luas, tapi dia menarik. Indah, berpasir, berkarang, biru dan menarik. Eksotis ! Me gusta !

Jam menunjukkan sekitar pukul 11.30, sinar mataharinya menyengat (aduch gue gak pake sunscreen), kami naik ke atas buat sholat dan melanjutkan ekspedisi. Ternyata... Capek ugha. Cumen dari Pantai Lampon ke tempat parkiran doank padahal. Ngga terlalu tinggi tapi menguras tenaga. Ngebayangin es teh kayanya bakal nikmat banget.

Pas sampe di atas, aku masih terkesima dengan betapa kotornya kaos kaki dan rok gamis. Terlanjur basah. Tapi panas. Aku sambangi warung yang ada. Harganya selisih Rp 500 dari harga Purwokerto. Waktu itu aku beli es. Berasa pusing dan seakan mau hilang kesadaran, ternyata laper :p

Oh iya, tiket masuk per orang kayaknya Rp 4000, parkir Rp 2000 per motor. Untuk toilet seikhlashnya, dipakein kotak. Musholla free, ada karpet sajadah, sarung dan mukena.

Karena merasa udahan, udah hepihepi liat pantai, niat ke Pantai Suwuk mau diurungkan. Mau cari makan aja. Haha
But..

4. Pantai Suwuk
Selagi jala dari Pantai Lampon, aku nanya ke Mba Zai apakah Pantai Suwuk jauh apa engga. Katanya paling 10 menitan. Rada jauh tapi sepi, jadi bisa cepet. Aku pun berpikir, gimana kalo makan di Pantai Suwuk aja. Soalnya denger cerita Mba Zai sama Mba Tika, katanya harga makanan disana ngga terlalu mahal. Pun, mumpung di Kebumen gitu. Biar menjamah sekalian:D

Challenge accepted ! Yattaaa !

Sebenernya, Pantai Suwuk ini pantai yang paling pengin aku kunjungi. Soalnya waktu tahun pertama kepengurusan di LDF, diajak sama Om Samsul ke Pantai Suwuk tuh anak-anak Humas-Media. Katanya pantainya indah dan ada 'orang pinter' dibidang pertanian. "Hah ? Pertanian ? Kan pantai, kok bertani sih. Jadi penasaran gue". Tapi gagal soalnya Om Samsul keburu pindah amanah jadi pres BEM dan sekarang udah lulus :v

Tapi emang bener, di Kebumen walau banyak pantai, banyak juga lahan sesawahan terhampar luas. Samudera hijau.

Tiket masuk ke pantai Suwuk Rp 4500 per orang. Dan masih bayar parkir lagi sebesar Rp 2000. Padahal di tulisan per motor itu Rp 2000, dan Rp 4500 udah sama biaya parkir. Tapi nyatanya masih ditarikin parkir lagi. Pas aku tanya, "uang tunggu, Mba", jawab si tukang tunggu. Sebenernya itu terjadi juga sama pantai sebelumnya. Apa memang begitu, ato aku yang cupu. Tapi sepertinya yang terakhir. Aku cupu.

Awal menginjakkan roda motor di parkiran, aku agak kaya keinget sama sesuatu. Pas menuju pantai, aku semakin yakin kalo Pantai Suwuk ini mirip ama Pantai Pangandaran yang aku kunjungi beberapa tahun yang lalu. Ramainya pedagang dan juga turis..

Lucunya di Pantai Suwuk, ada binatang-binatang cem di bonbin kek rusa gitu. Haha
Yang aku liat, banyak toilet disini. Masjidnya belum aku liat. Tempat main anak-anak juuga banyak. Pedagangnya lebih banyak. Sungguh, ini yang terramai. Berbanding dengan banyaknya sampah plastik di pantainya. Duh

Niatnya emang cumen numpang makan, ya kita langsung nyari tempat makan. Liat-liat dulu harganya biar ngga kena jebakan betmen. Ternyata emang bener kata Mba Tika sama Mba Zai, harganya standar. Ngga kaya di tempat wisata kebanyakan yang harganya dimahalin. Pilihan menunya pun beragam. Yang jadi daya tarik sini sepertinya Yutuk. Hihi

Yutuk itu hewan laut yang bisa dimakan. Mirip-mirip udang gitu. Dulu waktu ada KKN pertama kali di rumahku, ada satu mahasiswa yang sering bawain Yutuk.

Menu yang paling menarik perhatian adalah es kelapa muda. Soalnya waktu kepanasan di Pantai Lampon tadi, ada yang bawa kelapa muda katanya harganya Rp 10.000 dan itu pun ngga dijual. Sedangkan di Pantai Suwuk, satu kelapa dihargai CUMA Rp 6000. Kenyang deh
Itu aja aku berdua sama Mba Tika hihihi

Waktu itu kami makan di tempat yang tepat sepertinya. Penjualnya ramah. Abis makan kami cek ke pantai. Panas banget. Payung-payung yang ada di pinggir pantai disewain seharga Rp 20.000.

Kuda. Pengin banget naik kuda disana. Cuma terik matahari bisa mengalahkan rasa pengin itu. Next time deh.

Di seberang Pantai Suwuk ada Pantai Karang Bolong. Cumen beberapa meter doang. Biaya nyebrang Rp 10.000. Menurutku ngga kaya pantai. Soalnya aernya hijau kegelapan gitu. Kaya bukan air laut.

Itu dulu..
Planning awal ke Pantai Karang Agung dicancel. Karena medannya yang agak berat dan pertimbangan beberapa hal. Pantai ini lokasinya paling deket diantara pantai lain yang telah kami kunjungi. Denger-denger ini indah juga. Next time eah :D

Kalo penasaran silakan sambangi sendiri dan rasakan sensasinya. Ada satu pesan, jangan bawa sampah, jangan buang sampah sembarangan. Lestarikan lingkungan. Utamanya di Pantai Pecaron dan Pantai Lampon yang masih nampak sebegitu asri. Tolong.

Selesai diketik tanggal 1 Februari 2016 pukul 10:54 pm. Pake Mas Lumy 535

Salam