Pages

Senin, 01 Februari 2016

Ekspedisi Empat Pantai di Kebumen

BismiLlaahirrahmaanirrahiym
Assalaamu'alaykum wa tahmatuLlaahi wa baarakaatuh

Apa kabar ? Semoga baik. Sebaik perasaan hatiku yang habis jalan-jalan menelusur Kebumen. Hihi

Hari Ahad, tanggal 24 Januari kemarin aku sama tiga lainnya menuju empat pantai di Kebumen. Niatnya mau ke Panta Karang Agung, Pantai Pecaron, Pantai Lampon dan Pantai Suwuk. Aku sama Mba Zai (navigator) dan Mba Ihsan sama Mba Tika. Tepat seminggu sebelumnya aku juga ke Kebumen, ke pantai Menganti dengan tim yang berbeda. Disana (Menganti) beneran unforgettable deh. Soalnya pantainya ngga sesuai ekspektasi, dan aku jatuh duduk karena kepeleset. Sakit banget. Bukan karena sakit menanggung malu, tapi asli sakit banget. Haha
Efek jatuh itu aku jadi ngga bebas bergerak. Lebih dari seminggu. Sekarang (tanggal 1 Februari 2016) masih kerasa efek jatohnya. Sempat mikir juga, apa aku bisa ya menjelajah 4 pantai sekaligus.. And this is it :3 heaaaa

Wacananya, kita mau berangkat pukul 6 pagi. Sehari sebelumnya Mba Zai bilang diundur jadi pukul 6.30 karena mu nganter ade kosan. Esoknya pas pukul 6 pagi, aku minta diundur jadi pukul 7 aja. Sekalian dhuha haha
Nyatanya berangkat pukul 7.45 dari rencana semula. Sampai di Kebumen sekira pukul 9 atau 10. Pokoknya ini lebih cepet daripada waktu ke Menganti. Soalnya ngga nyasar-nyasar dan lewat jalan terobosan. Kecepatan normal, dari 40-70km/jam aja.

Bocoran nih. Aku baru empat kali ke Kebumen, seingatku. Dua perjalanan kesana yang teerakhir bikin aku banyak-banyak nyebut. Kenapa ? Soalnya Kebumen masih nampak asri banget. Hamparan sawah sejuk menghiasi sepanjang perjalanan ke pantai. Ma sha ALlah :')
Kata Mba Meli, "kayanya cuma ente anak petanian yang teriak-teriak liat sawah. Liat tuh Umi Fifi sama Anida aja kalem". Hahaha

Kebumen asri banget,, dattebayo !!!

1. Pantai Pecaron
Pantai pertama yang kami sambangi adalah pantai Pecaron, anggap saja pantai pribadi. Karena pantainya masih asri, sepi pengunjung dan kerasa alamnya. Jalannya pun lumayan bagus (berarti banyak jeleknya). Ombaknya besar, ada karang. Pemandangan lautan luas dan perbukitan hijau menghiasi. Di dekat pantai ada banyak pohon kelapa juga. Waktu itu aku liat ada yang ngecamp di sekitar situ.

Waktu itu kami dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5000. Di tiket tersebut tertulis tiket khusus hari raya dan hari besar. Stok lama sepertinya. Hihi
Dulu kata Mba Zai ngga ada tiket, cuma bayar parkir.

Ada perbukitan yang bisa dijamah. Cuma aku ngga menelusur lebih jauh lagi. Mungkin karena waktu itu ribet bebawa jaket lol
Kata Mba Zai di bukitnya bagus pemandangannya. Menganti jadi keliatan. Aku liat dari kejauhan emang bagus sih. Alami.. Ore wa suki desu ! :D
Kapan-kapan kalo kesana lagi bakal aku sambangi deh, in sha ALlah :)
Ada dua atau tiga warung sederhana dan ada toilet. Karena masih sepi, pantainya masih cenderung bersih. Sampahnya kebangakan sampah-sampah alam.

Udah merasa puas, kami cus mau ke pantai selanjutnya. Tetiba ada dua bapak - bapak nyamperin dan ngajak kenalan. Mereka menyodorkan tangan mereka, kemudian tangan kami mengatup tanda ngga salaman. Tapi sama mereka tetep ditempelin. Aku yang udah liat jadi memundurkan tangan biar ngga nyentuh.

Setelah menanyai kami, salah satu bapak bilang kalau aku itu GAFATAR, aku beda sendiri karena ngga mau salaman, non muhrim (mahrom, red) katanya. Padahal ngga ada yang salaman sama doi. Apa karena aku ngga make jaket organisasi ato gimana. Mungkin bapaknya sudah melihat dari kejauhan penampilan kami. Soalnya waktu bapaknya dateng kami udah make jaketnya dengan rapi, tertutup rapat.

"ini gafatar ini"
"ini yang paling beda"
"bentar lagi pake cadar" (sebenernya emang mau pake cadar, tadinya aku pegang-pegang. Tapi karena kata Mba Zai deket jadi aku urungkan. Aku pake cadar sebagai pengganti masker)
"ini gafatar ini. Bentar lagi ilang"
"ini yang gafatar nanti ilang kaya dokter yang di Jogja"
"walah dari Purbalingga. Beneran nanti ilang ini yang gafatar"

Berulang kali aku dikatai sebagai GAFATAR. Pertamanya sih aku pikir itu hanya sekadar guyon. Tapi guyon kalo diulang-ulang bukan jadi guyon lagi namanya. Apalagi itu sensitif. Aku ngga bisa nyembunyiin perasaan di muka, kalo bete ya mukanya bete. Tapi bapaknya ngga peka. Untung Mba Zai ngasih kode. Akhirnya aku terbebas.

Sebenernya pengen aku kasih tau (ngebilangin), tapi mbok dikata saru. Jadi cuma mbathin aja. Mungkin orang sana belum terbiasa dengan perempuan keren kaya aku dan tim ekspedisi yang berjilbab lebar. Bukan cumen aku yang risih sama 'candaan' bapaknya, tapi temen setim juga. Haha

2. Pantai Pasir
3. Pantai Lampon
Next pantai Pasir dan pantai Lampon. Untung jalan sepi, jadi walo berkelok-kelok khas pegunungan, tetep bisa terasa cepet. Sekitar sepuluh menit dari pantai Pecaron. Pantai Pasir sama pantai Lampon deketan, cumen dipisahin ama karang menjulang. Kami ngga tertarik sama pantai Pasir. Soalnya bau amis, isinya kebanyakan memang kapal nelayan. Jadi kami menuju pantai Lampon.

Jalan ke pantai Lampon ternyata lebih ekstrem daripada ke pantai Pecaron. Haha
Ada jalan menanjak yang sudutnya tajam, cuma disemen sedikit hanya muat untuk satu motor. Awalnya ragu karena melihat dari kejauhan dan mau jalan kaki aja. Tapi pas dideketin ternyata ngga semengerikan yang terbayang.

Yattaa. Aku berhasil sampai ke atas. Tapi Mba Tika jatuh.. :(
AlhamduliLlah akhirnya sampai ke atas juga. Kalau naik motor, ada tantangan, intinya yaqin. Jangan ragu..
Setelah di atas, tinggal ada jalan bebatuan. Ngga halus. Dari jalan itu terlihat betapa indahnya pantai Lampon yang ketjil mungil. Hihi

Disana disediakan tempat parkir yang nyaman, ada dua warung, satu musholla dan empat toilet (dua untuk pria dan dua untuk wanita). Tempat yang bisa dikunjungi bukan cuma pantai Lampon saja, ada beberapa tapi aku lupa. Seingetku ada curug, karang-karangan dan air terjun. Coba gugling aja deh :v

Di atas pantai Lampon ada perbukitan hijau. Darisana kita bis melihat samudera dan pantai Lampon dari atas. Ada satu spot yang indah nan romantis, tapi riskan. Hanya dipagari bambu. Jadi jangan sampai terpeleset, soalnya bisa-bisa langsung ke laut. Hihi

Pantai Lampon ada di bawah. Kami harus berjalan lumayan jauh, paling 5 menit sih. Di perjalanan itu kami berpapasan dengan segerombolan cowok. Celutukan mereka,
"rai-rai pondokan kabeh kiye"
(muka-muka pesantren semua itu)
Well, itu ngingetin gue ama bapak-bapak yang ketemu di pantai Pecaron tadi. Dari itu kami konklusikan kalo di Kebumen makhluk sekeren aku (kami) masih jarang. Jadi aku (kami) harus sering-sering kesana biar pada ngga aneh kalo ngeliat :v

Pas nyampe disana, sepi sih. Tapi kalo dibandingin pantai Pecaron lebih rame ini. Dan aku lebih suka pantai ini. Berasa lebih indah. Ada beberapa karang yang seolah memanggilku. Namun apa daya, aku ngga bisa ngambil risiko. Selain badan lagi ngga 100% efek jatuh seminggu sebelumnya, sendal yang aku pake kegedean satu nomor, dan aku ngga bisa berrenang. Aku ngga bisa ngambil risiko seperti itu. Disana juga ngga ada penjaga pantai. Watir nyemplung

Pantai Lampon tak begitu luas, tapi dia menarik. Indah, berpasir, berkarang, biru dan menarik. Eksotis ! Me gusta !

Jam menunjukkan sekitar pukul 11.30, sinar mataharinya menyengat (aduch gue gak pake sunscreen), kami naik ke atas buat sholat dan melanjutkan ekspedisi. Ternyata... Capek ugha. Cumen dari Pantai Lampon ke tempat parkiran doank padahal. Ngga terlalu tinggi tapi menguras tenaga. Ngebayangin es teh kayanya bakal nikmat banget.

Pas sampe di atas, aku masih terkesima dengan betapa kotornya kaos kaki dan rok gamis. Terlanjur basah. Tapi panas. Aku sambangi warung yang ada. Harganya selisih Rp 500 dari harga Purwokerto. Waktu itu aku beli es. Berasa pusing dan seakan mau hilang kesadaran, ternyata laper :p

Oh iya, tiket masuk per orang kayaknya Rp 4000, parkir Rp 2000 per motor. Untuk toilet seikhlashnya, dipakein kotak. Musholla free, ada karpet sajadah, sarung dan mukena.

Karena merasa udahan, udah hepihepi liat pantai, niat ke Pantai Suwuk mau diurungkan. Mau cari makan aja. Haha
But..

4. Pantai Suwuk
Selagi jala dari Pantai Lampon, aku nanya ke Mba Zai apakah Pantai Suwuk jauh apa engga. Katanya paling 10 menitan. Rada jauh tapi sepi, jadi bisa cepet. Aku pun berpikir, gimana kalo makan di Pantai Suwuk aja. Soalnya denger cerita Mba Zai sama Mba Tika, katanya harga makanan disana ngga terlalu mahal. Pun, mumpung di Kebumen gitu. Biar menjamah sekalian:D

Challenge accepted ! Yattaaa !

Sebenernya, Pantai Suwuk ini pantai yang paling pengin aku kunjungi. Soalnya waktu tahun pertama kepengurusan di LDF, diajak sama Om Samsul ke Pantai Suwuk tuh anak-anak Humas-Media. Katanya pantainya indah dan ada 'orang pinter' dibidang pertanian. "Hah ? Pertanian ? Kan pantai, kok bertani sih. Jadi penasaran gue". Tapi gagal soalnya Om Samsul keburu pindah amanah jadi pres BEM dan sekarang udah lulus :v

Tapi emang bener, di Kebumen walau banyak pantai, banyak juga lahan sesawahan terhampar luas. Samudera hijau.

Tiket masuk ke pantai Suwuk Rp 4500 per orang. Dan masih bayar parkir lagi sebesar Rp 2000. Padahal di tulisan per motor itu Rp 2000, dan Rp 4500 udah sama biaya parkir. Tapi nyatanya masih ditarikin parkir lagi. Pas aku tanya, "uang tunggu, Mba", jawab si tukang tunggu. Sebenernya itu terjadi juga sama pantai sebelumnya. Apa memang begitu, ato aku yang cupu. Tapi sepertinya yang terakhir. Aku cupu.

Awal menginjakkan roda motor di parkiran, aku agak kaya keinget sama sesuatu. Pas menuju pantai, aku semakin yakin kalo Pantai Suwuk ini mirip ama Pantai Pangandaran yang aku kunjungi beberapa tahun yang lalu. Ramainya pedagang dan juga turis..

Lucunya di Pantai Suwuk, ada binatang-binatang cem di bonbin kek rusa gitu. Haha
Yang aku liat, banyak toilet disini. Masjidnya belum aku liat. Tempat main anak-anak juuga banyak. Pedagangnya lebih banyak. Sungguh, ini yang terramai. Berbanding dengan banyaknya sampah plastik di pantainya. Duh

Niatnya emang cumen numpang makan, ya kita langsung nyari tempat makan. Liat-liat dulu harganya biar ngga kena jebakan betmen. Ternyata emang bener kata Mba Tika sama Mba Zai, harganya standar. Ngga kaya di tempat wisata kebanyakan yang harganya dimahalin. Pilihan menunya pun beragam. Yang jadi daya tarik sini sepertinya Yutuk. Hihi

Yutuk itu hewan laut yang bisa dimakan. Mirip-mirip udang gitu. Dulu waktu ada KKN pertama kali di rumahku, ada satu mahasiswa yang sering bawain Yutuk.

Menu yang paling menarik perhatian adalah es kelapa muda. Soalnya waktu kepanasan di Pantai Lampon tadi, ada yang bawa kelapa muda katanya harganya Rp 10.000 dan itu pun ngga dijual. Sedangkan di Pantai Suwuk, satu kelapa dihargai CUMA Rp 6000. Kenyang deh
Itu aja aku berdua sama Mba Tika hihihi

Waktu itu kami makan di tempat yang tepat sepertinya. Penjualnya ramah. Abis makan kami cek ke pantai. Panas banget. Payung-payung yang ada di pinggir pantai disewain seharga Rp 20.000.

Kuda. Pengin banget naik kuda disana. Cuma terik matahari bisa mengalahkan rasa pengin itu. Next time deh.

Di seberang Pantai Suwuk ada Pantai Karang Bolong. Cumen beberapa meter doang. Biaya nyebrang Rp 10.000. Menurutku ngga kaya pantai. Soalnya aernya hijau kegelapan gitu. Kaya bukan air laut.

Itu dulu..
Planning awal ke Pantai Karang Agung dicancel. Karena medannya yang agak berat dan pertimbangan beberapa hal. Pantai ini lokasinya paling deket diantara pantai lain yang telah kami kunjungi. Denger-denger ini indah juga. Next time eah :D

Kalo penasaran silakan sambangi sendiri dan rasakan sensasinya. Ada satu pesan, jangan bawa sampah, jangan buang sampah sembarangan. Lestarikan lingkungan. Utamanya di Pantai Pecaron dan Pantai Lampon yang masih nampak sebegitu asri. Tolong.

Selesai diketik tanggal 1 Februari 2016 pukul 10:54 pm. Pake Mas Lumy 535

Salam

Selasa, 05 Januari 2016

Jam Malam dalam Zona Peperangan

BismiLlaahirrahmaanirrahiym..
Assalaamu’alaykum wa rahmatuLlaahi wa baarakaatuhu..

Lama ngga jumpa, ya. Apa kabar ?
Aku harap kamu baik-baik aja, tetap menapaki jalanNya, mendapat ridloNya, berjuang untukNya, dan tidak mengalami apa yang aku alami (yang akan aku tuliskan di bawah ini). Tentang waktu.

Aku sudah menjalani lima semester kuliah di salah satu kampus negeri di Purwokerto. Selama lima semester ini, aku mendapat banyak hal. Salah satunya adalah tentang waktu, jam malam untuk akhowat. Aku tergabung dalam suatu Lembaga Da’wah Kampus, (LDK) sebutan untukku, dan yang sepertiku adalah Aktivis Da’wah Kampus (ADK). Yang mendapat jam malam adalah kami, para akhowat yang tergabung dalam LDK. Meski sampai sekarang aku tidak menemukan perihal jam malam di dalam peraturan LDK yang berlaku. Namun, katanya itu untuk menjaga izzah dan iffah kami.

Kami harus pulang, harus sudah di kosan sebelum pukul 9 malam.
Peraturan yang dulu aku dapat dari kosan. Aku ngekos di kos binaan, katanya. Untuk tinggal di kos binaan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah patuh akan jam malam. Aku sih, fine-fine aja. Lagian ngapain juga gue nglayap malem-malem. Kaya yang hafal jalan aja.
Tapi ternyata jam  malam itu bukan hanya dalam kondisi fisik, tapi dalam dunia maya juga. Berat ! Itu yang aku rasakan. Seolah aku  sedang dibunuh, dibinasakan perlahan, bukan dibina. Aku punya alasan.

Pengalaman Pertama
Pernah, dulu, ada tugas kelompok yang harus aku selesaikan malam itu juga. Pekerjaan itu dikerjakan di kos teman dan selesai pukul 9 lewat. Itu juga sudah dikebut. Sebenarnya was-was, tapi aku berpikir mengerjakan tugas kelompok itu termasuk ke alasan syar’i dan bisa dimaklumi. Namun pada kenyataannya pas pulang ke kos aku seperti dibentak, dikerasi langsung pas aku masuk rumah.
“Tau ngga ini jam berapa !”
“Nggak !” My attitude depend on yours...

Aku terheran dan  terkaget sendiri. Ini toh caranya ? Main kekerasan.. Nggak nanya dulu sebab apa yang melatarbelakangi aku buat pulang malem. Langsung dihakimi saja. Oh, begitu..
Padahal, pukul  9 lebih beberapa menit itu kami kebut dan  memacu motor juga ngebut. Karena aku bawa temen, boncengin temen, yang kami sama-sama kelaparan, jadi kami putuskan untuk membeli makan dulu dan dibawa pulang. Diatas pukul 9 sudah  ngga ada warung ramesan yang cepat saji. Pun waktu itu kami masih maba, belum tau tempat mana yang dapat menyajikan makanan dengan cepat. Menunggu makan agak lama, setelah itu aku nganter temenku ke kosannya. Jadi, aku pulang sekitar pukul 10 malam, kurang beberapa menit. Capek iya, jengkel iya, kecewa iya. Nggak jadi laper, udah kenyang karena itu. Maregi. Oh, I just need to sleep.

Nggak nyangka aja, sekelas ADK yang termasuk senior menghakimi begitu saja tanpa tabayyun dulu. Keras. Ini adalah pengalaman pertamaku yang mengerikan. Bukan ketaatan yang ingin aku perbuat jadinya, malah ngeberontak adanya. Jadi kalo misalnya aku makan malam, sekalian main ke kos temen, Cuma buat nunggu waktu sampai pukul 9 kemudian pulang. Bandel ?

Selain  itu, perasaan seperti disiksa dan dibinasakan aku rasai ketika pelarangan untuk online diatas pukul 9 malam. Padahal, aku ini anak dunia maya. Dulu, aku anak twitter. Jam produktif kami adalah jam malam ADK. Karena selain jam tersebut, ‘teman mainku’ banyak yang belum keluar dari peraduan. Katanya aku hanya boleh nyimak. Biar ikhwan terjaga katanya . Aku tak tahan dikerangkeng seperti itu.

Media sosial adalah lahanku. Lahan mencari ilmu dan mencari teman membaginya. Aku adalah introvert, dan internet bisa diibaratkan surga untuk kami. Tapi kemudian dilarang. Aku ngga bisa berbuat banyak. Walau aku mengelak dari ‘larangan’ itu, tapi tetap ngga plong seperti biasanya. Disitulah aku mulai merasa tak berdaya. Tak ada bahan untuk curhat, untuk menulis. Hidup monoton, seperti dalam penjara.

Aku bandel ?
Aku ngga bisa jaga kehormatan ?
Aku harus meninggalkan comfort zone ?

Mungkin sebagian besar teman-teman akan menganggapku bandel, menyebalkan dan ngga bisa jaga izzah. Aku terima saja. Itu persepsi kalian, aku hormati. Walau kalian ngga bisa memahami keadaanku.

Tidak hanya itu saja..
Aku dapati kalau jamal itu boleh dilanggar kalo kamu ikut rapat suatu lembaga da’wah, tapi bukan organisasi lain. Eksklusif sekali.

Aku sadar diri. Aku memposisikan diriku sebagai akhwat bandel yang sering dianggap buruk, sering diistighfarin. Tapi, untuk kali ini, aku boleh membela diri ? Aku takut kalau anggapan-anggapan kalian menjadi doa. Sejujurnya aku tidak mau menjadi yang demikian, aku harap aku tidak sejelek, tidak seburuk yang kalian pikirkan. Doakan saja aku, yang baik-baik. Toh nanti akan balik ke kalian juga.

Aku hanya sedih..
Ketika ada, ketika terlihat akhwat masih di luar kos atau rumah, hanya ada pandangan sinis, omongan negative, seolah akhwat tersebut sangat hina. Lebih buruknya lagi, itu disebarkan di forum. Jadi, siapa yang ngga bisa jaga kehormatan ?
Di Purwokerto sini yang aku tau, yang aku rasakan,
Jika ada akhwat seperti itu akan disamaratakan, akan digeneralisasi. Tanpa tabayyun ke yang bersangkutan. Padahal aku pikir, seorang akhwat, ADK, tidak sebodoh itu dan pikirannya tidak sependek itu untuk keluyuran malam-malam tanpa alasan yang jelas, yang bisa ditoleransi. Pasti ada suatu kebutuhan yang dia harus penuhi sendiri, tidak bisa meminta tolong ke orang lain, apalagi ke penghakim ulung seperti kalian.

Pengalamanku, aku keluar lewat jam malam ketika aku atau temanku kelaparan. Bisa jadi karena belum makan nasi seharian. Lalu kalian katakan kami tidak persiapan. Ya silakan.Yang aku pahami, membiarkan saudaranya dalam kelaparan adalah kedzaliman. So aku pikir, daripada aku jadi dzalim lebih baik aku dikata-katai kalian.
Bisa pula karena akademik, kerja kelompok dengan anak non ADK. Aku ngga bisa seenaknya izin. Aku juga ngga bisa bohong demi bisa pulang pukul 9. Karena aku ngga ngekos di kosan yang pukul 9 malem dikunci, masa harus boong ? Aku sudah mengatur jam malam maksimalku pukul 10 di dunia nyata.
Lagi, tiba-tiba ballpoint habis waktu mengerjakan laporan padahal deadline sebentar lagi dan masih ada list agenda. Aku pernah seperti itu. Deadline, ballpoint habis. Punya teman kos semuanya dipakai, akhirnya aku keluar pukul 11 malam demi beli ballpoint. Menghemat waktu. Tidak diterima ?
Aku tidak peduli.

Realita seringkali berbeda dengan harapanmu, Kak. Mbok ya ada maklumnya gitu. Aku kasih tau sesuatu, ya.
Purwokerto itu sepi, sunyi. Walau mungkin lebih sepian hatimu sih, Kak. Pukul 9 malam ke atas Purwokerto sudah mulai sepi, toko mulai tutup, tempat makan menyedikit. Sebagai manusia biasa kami sebagai wanita juga agak takut sebenarnya kalau pulang malam. Tapi mau bagaimana lagi ?
Bukannya dimengerti, kami (aku) malah tambah ngeri melihat kelakuan kalian yang zero tolerance. Saklek untuk satu hal. Tapi kadang tidak tepat dan #salaharah.

Apalagi, sekali aku melanggar maka aku selamanya dicap sebagai pelanggar. Seperti ketika aku mencoba melaksanakan jam malam. Karena aku sadar, rumah hunianku lebih jauh daripada rumah kalian, bisa dua atau tiga kali jauh tempat kalian. Tapi komen yang keluar,
halah, sok-sokan jam malem. Biasanya juga beli makan jam 10.”

Padahal aku cuma sekali doang minta ditemani untuk beli makan, karena sedari siang belum makan sedangkan tanggung jawab baru selesai pukul segitu. Intinya, orang-orang akan megingat segala kesalahan kita tanpa mau melihat lebih dalam lagi. Aku Cuma bisa sabar. Karena sepertinya akan percuma juga ya aku menjelaskan segala sampai mulut berbusa pun. Kalian sulit untuk mau mengerti dan memahami.

Halah, si dewi kebanyakan alasan. Dasar akhwat bandel ! Ngga bisa jaga izzah ! Pecicilan ! Petakilan !
Semuanya aja. Tapi hati-hati kalo itu menjadi doa, yang akhirnya membalik ke dirimu sendiri. Hehe. Ngga apa dikata-katain begitu. Udah biasa. Udah kebal. Tahan banting. Ngga apa dikata-katain begitu sama orang yang selalu melihat masalah tanpa bisa memberi solusi, tanpa mau memahami.

You seems to find the dark, when everything is bright. You look for all thats wrong instead of all that rights. Does its feel good to you, to rain on my parade. You never say a word, unless its to complain.. its driving me insane..

Dunia nyata dan dunia maya itu bedanya bisa tipis bisa tebal. Apapun itu, tetap saja ada bedanya. Di dunia nyata aku di luar rumah pada malam hari, aku takut. Di dunia maya di malam hari aku di dalam rumah, aku tidak takut. Perbedaannya begitu bisa terasa. Semudah itu, sesederhana itu masa ngga paham ?
Aku pun agaknya termasuk orang yang skeptic untuk dunia maya. Hanya beberapa informasi pribadi yang aku berikan. Karena dengan itu aku bisa menjaga diriku sendiri. Itu pun tetap saja dikomentarin. Dah.. aku mah apa atuh. Selalu salah dimatamuh..
Kamu jangan cuma bisa komentarin aku ngga bangga punya nama, aku alay dan sebagainya. Aku bertindak atas kemauanku sendiri, pemahamanku sendiri. Risiko aku tanggung sendiri. Aku ngga mau kamu paksa. Emang kamu siapanya aku ? Emang aku siapanya kamu ?
Aku bisa jaga diri sendiri.

Oh iya, jadi inget obrolanku dengan salah satu ikhwan komentator.
Dia menganggap kami (aku) ngga bisa jaga izzah, dia meminta kami untuk menjaga izzah di dalam forum dan di luar forum, kalo aku bener-bener taat, katanya. Gue seolah ngobrol sama manusia yang hidup di dalam sangkar melulu. Apa masih belum move on dari Muktamar yang udah jadi masa lalu atau bagaimana ?
Aku izin meninggalkan forum karena jamal baru sekali. Itu karena strategi biar fisik tetap fit sehabis touring dan besoknya harus UAS. Itu pun 10 menit sebelum jamal.

Dia mementalkan semua alasanku,
ngapain ngerjain tugas sampe malem-malem tanpa mahrom
Bro, kuliah kan ? Ane pikir ente harusnya tau kondisi mahasiswa itu. Ngga semua kader !
“kalo ngga mau dijudge ya setidaknya harus konsisten dengan sikap. Jangan jadikan alasan jam malem sebagai alasan keluar forum, tapi di luar forum malah ngga menerapkan jamal
Move on. Tunjukkin kata-kata ini ke yang lebih tepat. Yoroshiku
“masa gue harus tabayyun satu-satu
Kalo ngga mau berarti emang adabnya kurang kali ya ? Lagian ngga mau tabayyun udah bisa ngehakimin aja. Canggih amat ente bro
“yang penting sama mahromnya kalo keluar seenggaknya ngga sendiri
Ngga semua akhwat ngekos dan punya temen wanita bro ! Pahit. Kenyataan emang kadang pahit, Bro !
ikhwan ngga bisa berbuat apa-apa kalo ada akhwat motor bochor. Rawan baper. Makanya ikhwan lebih defensive.”
Hahahaha. Ngacha dulu Bro
akhwatnya aja yang pengen diperhatiin sama ikhwan
Gue sih engga bro. Apalagi sama ikhwan yang ngga mau tau walo udah dikasitau
akhwat tu rawan baper
Makanya dijaga !

Dan aku pun teringat pengalaman masa lalu. Ada seorang ikhwan, sebut saja Rafflesia. Dia membuat postingan dengan menyindir akhwat yang kepergok keluyuran malem. Cuma nyindir no solution. Pas dihadapkan dengan akhwat yang benar-benar terpaksa pulang malem dan ketakutan (karena mungkin jarang pulang malem) malah dibiarin aja. Dikawal kek. Diapain kek. Ngga peka amadhhhhhh. Ngga semua akhwat tuh bisa jadi rider professional kaya gue, dan ngga semua akhwat itu tau ikhwan. Kalo dikawal ya ngga usah ngenalin diri kalo emang takut baper elah..
Gue, gue itu perempuan tangguh Bro ! Ngga perlu kawalan ikhwan baper penghakim kaya kelen gue bisa jaga diri in sha Allah. Gue bisa ngebut, ngga perlu perhatian kelen. Ngga kaya kelen.

Pada akhirnya..
Gue mau minta diakui dan dipahami. Don’t judge without understanding the reason, be wise ^_^
Sebagai perempuan Muslim, gue sadar diri kalo jam malam itu penting. Gue pun berusaha untuk menaatinya. Apalagi lingkungan gue tinggal sekarang, beda dari kelen-kelen. Walo ngga di kosbin ato sejenisnya. Sakleklah pada tempatnya. Kebutuhan kita berbeda, saling memahami dan menghormati aja ya. Jangan pandang semua pelanggar jamal itu sebagai orang yang hina-dina. Karena mungkin dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga membenci keadaan itu sambil menjerit-jerit. Cumen lo ngga denger aja. Makanya dibuka telinga hatinya *emang ada

Jamal Freak, jangan merasa jadi yang paling taat. Yakali pulang demi selamat dari ancaman fitnah jamal tapik meninggalkan saudarinya sendirian di jalanan tanpa bantuan. Huh

Jangan biarkan saklekmu membunuh kreativitas saudaramu ya. Online, yuk !

Terus, kalo emang peduli dan pengin yang terbaik, jadiin aja mahrom. Biar ngga nggrundel doank tanpa solusi. Biar ngga cumen bisa modus-modus di belakang. Cih. Aksinya, Bro ! Jan cumen teori teori mele. Elaaah. Jadi keluar galaknya kan gue.

Kalo ada saudaranya yang salah diingetin secara pribadi. Jangan di forum, namanya menghina itu kalo kata Imam Syafii. Jangan main belakang juga. Ghibah itu namanya. Dosa besar, ibarat makan bangkai saudaranya sendiri.
*istighfar*

Baiknya memang perempuan itu ya di rumah. Tapi, kondisi sekarang bagaimana ? dah gitu aja

Semoga bisa dipahami,
Maafkan jika kata-kata ane nyakitin,
Semoga bisa saling memahami sehingga Allah bisa menghadiahkan kita ukhuwwah Islamiyyah yang erat.
Ane cume pengen itu, memahami dan dipahami. Saling memahami. Saling memperbaiki, saling memberi solusi.

We're not gonna be just a part of their games
we're not gonna be just the victim
you taking our dreams then you tear them apart
'Til everyone's the same !
I've got no place to go
i've got nowhere to run
They lov to watch me fall
they think they know it all..
Im a nightmare, a disaster
thats what they always said
im a lost coz not a hero
but i'll make it on my own
i've gonna prove them wrong
me against the world !!!

Ledug, Purwokerto Timur
Selasa, 5 Januari 2016
1.54 am

Dewi, dengan sepenuh kasih dan cinta.
terima kasih Maseratiku, yang telah membantuku mempublish tulisan ini ^^