Pages

Kamis, 11 Desember 2014

Hal Kecil yang Sebenarnya Besar

BismiLlaahirrahmaanirrahiym

AsSalaamu'alaykum wa rahmatuLlaahi wa baarakaatuh

Kita sedang hidup di fase keempat Ummat Islam, yaitu zaman dimana fitnah dan kedzaliman melanda Ummat Muhammad ini. Serangan bertubi-tubi muncul, baik oleh kaum kuffar maupun orrang yang mengaku Muslim itu sendiri. Akhiruzzamaan, batas antara hitam dan putih semakin samar.

Serangan fisik maupun pemikiran dengan lancarnya menghujam. Terutamanya pemikiran, atau keduanya. Terutama kepada generasi penerus Ummat ini. Banyaknya hal-hal yang berbau 'fun', melenakan para pemuda Muslim. Mereka lebih banyak mengenal artis daripada Shohabah radiyaLlaahu'anhum. Film, makanan, musik dan sejenisnya lebih mudah masuk daripada 'ilmu syar'iy.

'Aidh al Qarni dalam bukunya, Selagi Masih Muda, mengatakan bahwa kaum kuffar tidak akan bisa melawan Ummat Islam selagi Ummat Islam dekat dengan Al Quran. Maka, kaum kuffar beserta kroni-kroninya mengedarkan bebas minuman keras dan majalah amoral. Dengan itu, Ummat Islam bisa dikalahkan.

Bisa kita lihat dewasa ini. Lebih banyak Pemuda Muslim yang tidak tahu akan Islam. Lebih banyak berguru kepada tontonan, karena tontonan lama-lama menjadi tuntunan. Agama adalah urusan pribadi, tak perlu diumbar, katanya.

Perang pemikiran memang sangat bahaya, baik bagi yang sadar maupun tidak. Akibat dari perang ini dapat menimbulkan pertikaian, perang fisik, yang paling parah adalah menjauh dari ALlah bahkan kafir. Pemuda, kalangan pelajar dan mahasiswa adalah sasaran yang sangat empuk. Apalagi dengan adanya lembaga bernama Jaringan Islam Liberal (JIL).

Usia pelajar dan mahasiswa adalah usia dimana sedang mencari jati diri. Banyak yang mengatakan masih labil. Sedangkan kampus adalah miniatur negara. Negara ini seperti apa bisa dilihat di kampus. Tentu saja musuh Islam mengetahui bahwa pemuda-pemuda itulah yang akan memegang tongkat estafet, penerus bagi yang sudah tua. Perang pemikiran adalah halus. Apalagi sering bertameng kepada kemanusiaan dengan mengesampingkan Al Quran. Al Quran sudah tidak relevan, katanya. Kata orang-orang liberal, termasuk JIL. Mereka memainkan pola pikir dengan licinnya.

Melihat kondisi aktivis da'wah di kampus, ada yang homogen dan heterogen. Homogen, didominasi oleh satu harokah. Heterogen, beberapa atau banyak harokah bergabung untuk mensyiarkan da'wah. Walau terkadang ada perbedaan yang membuat pengkotak-kotakan. Fanatisme golongan.

Ada juga yang dulunya bergabung dengan aktivis da'wah kampus (ADK), kemudian lepas. Hanya karena para ADK terlalu saklek. Terlalu saklek akan apa yang diyakini. Kemudian tidak mengerti kondisi sesungguhnya diluar kehomogenan mereka. Padahal, tak sedikit pula ADK adalah orang yang baru memasuki kehidupan da'wah. Sebagai ADK yang 'saklek' pun terkadang tak melaksanakan apa yang Islam katakan.

Misalnya, ketika teman dianggap berbuat kesalahan kemudian hanya mendiamkan, menyindir dan menjauhi. Hal seperti itu hanya akan menambah keras. Batu dan batu jika dibenturkan akan pecah. Kenapa tidak melakukan tabayyun? Kenapa teman yang dianggap melakukan kesalahan itu tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan duduk perkaranya? Tabayyun tidak hanya untuk qiyadah, kan?

Begitukah Aktivis Da'wah Kampus kepada sesamanya, kepada saudaranya? Lalu bagaimana dalam menyebarkan da'wah Islam kepada para newbie? Didiamkan juga? Disindir juga? Membiarkan mereka terus dalam dunianya tanpa mengenalkan keindahan Islam? Bagaimana pula mau menjaring yang diluar, kalau yang didalam berantakan? Memperhatikan adab itu penting.

Padahal seringkali kita mendengar kajian tentang kebagusan akhlaq RasuluLlah ShollaLlaahu'alayhiwassallam dan para Shohabah RadiyaLlaahu'nhum. Kenapa kita tidak menirunya?

Seperti kita tahu sendiri, zaman telah berubah. Syaithon dan pengikutnya kian pintar dalam menggoda. Kita jangan mengalah.

Menurut Pak Ryan Martian, Da'wah adalah komunikasi. Inti dari da'wah, dari komunikasi adalah menyeru. Tujuan akhir dari adanya komunikasi adalah feedback, umpan balik. Begitu juga dengan da'wah.
Kalau feedback tidak seperti yang kita harapkan, mungkin ada yang salah dengan cara kita. Kita harus kreatif, jangan mau kalah sama syaithon. Kalau feedbacknya salah, mungkin cara berkomunikasi kita keliru. Maka perbaiki.

Mungkin semua Ummat Islam merindukan kehidupan Islami seperti zaman kekhilafahan dulu. Tak terkecuali di kampus, sehingga sering didengungkan kampus Islami atau kampus madani. Namun jika cara yang kita pakai kurang fun, mungkin akan sulit diterima. Jika cara kita masih mendiamkan seolah memusuhi, selain sulit diterima, mungkin akan membuat citra buruk juga kepada Jamaah atau ADK. Maka untuk menuju cita-cita yang mulia, kampus madani, mulailah dari hal kecil. Mulailah dari hal terkecil yang kita bisa.  Perlakukanlah objek da'wah sebagaimana seharusnya dan sebagaimana semestinya. Karena jika kita memperlakukan sebagaimana seharusnya, ia akan menjadi ia yang seharusnya namun tidak semestinya. Mulailah dari hal kecil, dan tetap perhatikan adab syar'iy. Bisa jadi senyum tulus kita untuk saudara kita, bisa menolong saudara kita yang akan terjun ke jurang.

(Dewi, 20 tahun, pemberontak :v)