Pages

Senin, 08 Juli 2013

Aku Suka yang Manis-manis..



Hai Hati, apa kabarmu ? Rasa apa yang engkau rasa ?

--------------------------------------------------------------------------------------------


Rasa di lidah bisa manis, pedas, asam, asin dan pahit. Rasa di hati pun bisa bermacam-macam. Keluaran dari mulut yang digunakan untuk mengungkap rasa pun demikian. Juga otak untuk memproses rasa, macam-macam rasa. Karena tiap rasa mengandung nilai.

MahaBesar Allah..

Masing-masing insan memiliki kecenderungan terhadap rasa. Pun kesukaan, ketidaksukaan, anti, apapun itu. Begitu pun diriku. Aku menyukai rasa manis yang tercipta. Ah, mau narsis deh guwehh. Kliyatan !! :p

Oke. Mungkin kalo gue pake kata-kata cem di atas, hanya orang tertentu yang bakal mudeng. Selain gue juga susah nulis dengan gaya kea gitu, heh. Jadi emang bener kok kaya giut..

Aku suka yang manis. Sejak lahir mungkin ya. Dari ke lima rasa di lidah, manis adalah favorit. Manis > asin > asam > pedas > pahit (untuk pahit gue rasa hampir semua orang ngga suka ya, bisa juga paling karena harus. Misalnya obat gitu).
Tapi kitanya juga harus sadar, kalo makan yang manis-manis terus ya jangan. Kan tiap rasa mengandung nilai, untuk ini nilai gizi. Juga kalo terlalu manis kan bisa bikin eneg. Dan jika tidak sesuai porsi, akan ada penyakit yang menunggu. Jangan berlebih, itu. Kalo makannya manis-manis terus ada penyakit diabetes kan ? Nah

Karena mempunyai kesukaan terhadap manis, aku akan langsung menolak jika harus melahap rasa pedas, apalagi teramat pedas. Ini juga sejak lahir kok kaenyah. Kecuali jika tidak diberitahu bahwa itu pedas, maka aku akan memakannya dan kemudian tidak lagi. Sampai-sampai aku heran dengan orang yang doyan dan suka rasa pedas, kuat gitu yah.. Etapi mereka yang doyan juga heran sama yang ngga doyan. Hihih

(Ngga doyan pedes itu lebih karena ngga bisa makan. Tiap mulut kemasukan pedes yang ada 'sakit' yang ngga sakit rasanya.. Beda ama ngga suka pedes. Ngga suka itu yang bisa makan, cuma ngga suka. Menurut guwa sih)

Walo udah tau ngga doyan, kadang aku pengin nyobak kalo liat temen yang lahap banget masukin sambel rawit ke mangkuk sotonya, misal. Aku tau, satu sendok aku masukin ke mangkuk aja aku ngga kuat dan bakal mubazir sotonya karena ngga aku makan. Maka nyobanya sedikit banget, udah kerasa. Sama temen diketawain, "haha dasar bayik !"

Walo ngga doyan pedes, aku tetep doyan sambal botolan (saus), bukan yang extra pedas pasti ya. Karena sambal botolan biasanya ngga terlalu pedas, apalagi kalo sambal tomat. Dan ternyata sambal botolan kaya gitu sama beberapa pecinta pedas dibilang 'ngga kerasa'. Memang beda masing-masing orang itu, hehe.

Rasa favoritku selanjutnya adalah asin. Rasa-rasain aja kalo elo makan manis-manis terus. Elo pasti eneg. Kemudian elo makan asin dan elo ngga eneg. Rasa memang harus berbaur. Dan lidah ngga bisa boong :D

Bagaimana kalo rasa itu aku samakan dengan hati ?

Seperti kecenderunganku terhadap manis, aku pun lebih menyukai sikap-sikap manis kepadaku daripada sikap-sikap pedas. Apalagi yang terlalu pedas, aku ngga bisa menerimanya, kecuali mungkin sedikit (sama seperti ketika aku mencoba makanan sangat pedas yang tidak aku ketahui)

Dan sama juga seperti akibat kebanyakan manis, yaitu akan adanya penyakit. Aku pun percaya kalau aku dapat yang manis-manis terus aku akan 'sakit'. Karena ini hidup, mau ngga mau rasa akan berbaur. Jangan manja donk ! Seperti doyannya aku dengan saus sambal botolan, aku bisa menerima kepedasan itu, tapi sedikit, bukan banget.

Aku suka manis, tapi yang pas saja. Aku ngga suka kemanisan karena lebih cepat membuatku eneg. Begitu pun dengan sikapmu kepadaku.

Ngga semua orang bisa bersikap manis ke aku. Mungkin dia bisanya bersikap asin. Dia bisanya asam. Dia bisanya pedas. Dan dia bisanya pahit.

Jika manis aku terima, bolehlah kamu ibaratkan sikap lembut. Manis itu senyum :)

Asin aku terima, bolehlah kamu ibaratkan itu melucu. Kadang suatu hal yang disampaikan dengan sedikit humor mudah diterima. Asin itu melet :)

Asam bisa sedikit aku terima, bolehlah kamu ibaratkan itu sindiran halus berisi nasihat. Asam itu menggelitik :)

Pedas bolehlah aku terima, yang tidak terlalu pedas. Awalnya aku akan doyan, lama-lama aku akan berhenti. Jika terlalu pedas, lemparkan sajalah. Sedikit pedas, bolehlah. Mungkin dengan kata-kata yang keras kepada orang di seberang agar terdengar. Pedas adalah airmata. Pedas adalah panik.

Pahit, bolehlah aku terima. Kadang kata-katamu yang pahit untukku bisa mengobatiku laiknya obat. Mungkin.

Begitu ?

(Dewi, 19 tahun, masih anak-anak)


2 komentar: