Pages

Senin, 08 Juli 2013

Aku Suka yang Manis-manis..



Hai Hati, apa kabarmu ? Rasa apa yang engkau rasa ?

--------------------------------------------------------------------------------------------


Rasa di lidah bisa manis, pedas, asam, asin dan pahit. Rasa di hati pun bisa bermacam-macam. Keluaran dari mulut yang digunakan untuk mengungkap rasa pun demikian. Juga otak untuk memproses rasa, macam-macam rasa. Karena tiap rasa mengandung nilai.

MahaBesar Allah..

Masing-masing insan memiliki kecenderungan terhadap rasa. Pun kesukaan, ketidaksukaan, anti, apapun itu. Begitu pun diriku. Aku menyukai rasa manis yang tercipta. Ah, mau narsis deh guwehh. Kliyatan !! :p

Oke. Mungkin kalo gue pake kata-kata cem di atas, hanya orang tertentu yang bakal mudeng. Selain gue juga susah nulis dengan gaya kea gitu, heh. Jadi emang bener kok kaya giut..

Aku suka yang manis. Sejak lahir mungkin ya. Dari ke lima rasa di lidah, manis adalah favorit. Manis > asin > asam > pedas > pahit (untuk pahit gue rasa hampir semua orang ngga suka ya, bisa juga paling karena harus. Misalnya obat gitu).
Tapi kitanya juga harus sadar, kalo makan yang manis-manis terus ya jangan. Kan tiap rasa mengandung nilai, untuk ini nilai gizi. Juga kalo terlalu manis kan bisa bikin eneg. Dan jika tidak sesuai porsi, akan ada penyakit yang menunggu. Jangan berlebih, itu. Kalo makannya manis-manis terus ada penyakit diabetes kan ? Nah

Karena mempunyai kesukaan terhadap manis, aku akan langsung menolak jika harus melahap rasa pedas, apalagi teramat pedas. Ini juga sejak lahir kok kaenyah. Kecuali jika tidak diberitahu bahwa itu pedas, maka aku akan memakannya dan kemudian tidak lagi. Sampai-sampai aku heran dengan orang yang doyan dan suka rasa pedas, kuat gitu yah.. Etapi mereka yang doyan juga heran sama yang ngga doyan. Hihih

(Ngga doyan pedes itu lebih karena ngga bisa makan. Tiap mulut kemasukan pedes yang ada 'sakit' yang ngga sakit rasanya.. Beda ama ngga suka pedes. Ngga suka itu yang bisa makan, cuma ngga suka. Menurut guwa sih)

Walo udah tau ngga doyan, kadang aku pengin nyobak kalo liat temen yang lahap banget masukin sambel rawit ke mangkuk sotonya, misal. Aku tau, satu sendok aku masukin ke mangkuk aja aku ngga kuat dan bakal mubazir sotonya karena ngga aku makan. Maka nyobanya sedikit banget, udah kerasa. Sama temen diketawain, "haha dasar bayik !"

Walo ngga doyan pedes, aku tetep doyan sambal botolan (saus), bukan yang extra pedas pasti ya. Karena sambal botolan biasanya ngga terlalu pedas, apalagi kalo sambal tomat. Dan ternyata sambal botolan kaya gitu sama beberapa pecinta pedas dibilang 'ngga kerasa'. Memang beda masing-masing orang itu, hehe.

Rasa favoritku selanjutnya adalah asin. Rasa-rasain aja kalo elo makan manis-manis terus. Elo pasti eneg. Kemudian elo makan asin dan elo ngga eneg. Rasa memang harus berbaur. Dan lidah ngga bisa boong :D

Bagaimana kalo rasa itu aku samakan dengan hati ?

Seperti kecenderunganku terhadap manis, aku pun lebih menyukai sikap-sikap manis kepadaku daripada sikap-sikap pedas. Apalagi yang terlalu pedas, aku ngga bisa menerimanya, kecuali mungkin sedikit (sama seperti ketika aku mencoba makanan sangat pedas yang tidak aku ketahui)

Dan sama juga seperti akibat kebanyakan manis, yaitu akan adanya penyakit. Aku pun percaya kalau aku dapat yang manis-manis terus aku akan 'sakit'. Karena ini hidup, mau ngga mau rasa akan berbaur. Jangan manja donk ! Seperti doyannya aku dengan saus sambal botolan, aku bisa menerima kepedasan itu, tapi sedikit, bukan banget.

Aku suka manis, tapi yang pas saja. Aku ngga suka kemanisan karena lebih cepat membuatku eneg. Begitu pun dengan sikapmu kepadaku.

Ngga semua orang bisa bersikap manis ke aku. Mungkin dia bisanya bersikap asin. Dia bisanya asam. Dia bisanya pedas. Dan dia bisanya pahit.

Jika manis aku terima, bolehlah kamu ibaratkan sikap lembut. Manis itu senyum :)

Asin aku terima, bolehlah kamu ibaratkan itu melucu. Kadang suatu hal yang disampaikan dengan sedikit humor mudah diterima. Asin itu melet :)

Asam bisa sedikit aku terima, bolehlah kamu ibaratkan itu sindiran halus berisi nasihat. Asam itu menggelitik :)

Pedas bolehlah aku terima, yang tidak terlalu pedas. Awalnya aku akan doyan, lama-lama aku akan berhenti. Jika terlalu pedas, lemparkan sajalah. Sedikit pedas, bolehlah. Mungkin dengan kata-kata yang keras kepada orang di seberang agar terdengar. Pedas adalah airmata. Pedas adalah panik.

Pahit, bolehlah aku terima. Kadang kata-katamu yang pahit untukku bisa mengobatiku laiknya obat. Mungkin.

Begitu ?

(Dewi, 19 tahun, masih anak-anak)


Mana Da'i Buat Gue ?????



Hari ini, 2 Juli 2012 (geelakk yesss, dah lama baru dipost !), aku ditabok oleh hal yang benar-benar membuatku tertabok. Ada pesan untukku. Dari orang yang belum aku kenal sebelumnya, dan dia pun belum mengenalku. Namun, di pesan itu ada suatu harap darinya. Pesan itu menyiratkan satu hal penting, bahwasanya kita dibutuhkan.. Bahkan teramat sangat dibutuhkan!

Akan aku ketikkan suatu hal bahwa 'kita' memang dibutuhkan. Berdasar garam yang pernah aku makan ya.. (baca : pengalaman)

Paragraf pertama di atas itu pemanasan. Ini mau aku matengin.
'Kita' yang aku maksud adalah manusia, atau bolehlah Aktivis Da'wah  yang menyerukan, mengajak  kebenaran pada siapapun.  (sepertinya aku belum termasuk aktivis yes? Masih nyubi bangett! Belum punya MR juga #eh)

BismiLlaahirrahmaanirrahiym.. Hanya berniat untuk berbagi padamu, Kawans.. Berharap bermanfaat.

Rasa galau mau tidak mau memang kadang datang pada diri, entah itu anak-anak, remaja, dewasa, ataupun remaja yang mengaku bocah. Galau pun berbeda macamnya, ada galau positif dan galau negatif.

Galau positif adalah suatu galau yang memaksa kita  untuk berbuat positif, mencari tahu, bergerak mengenai kebaikan. Pikiran belum akan tenang jika belum tahu kepastiannya. Misalnya tentang agama. Ada yang bingung hukumnya ini, ada yang kalut bagaimana harusnya setelah melakukan ini, galau apa yang harus dilakukan atas ini, dan lainnya. Dan galau seperti ini bisa membuat diri mempunyai cemungut #eh semangat untuk terus melahap ilmu, berusaha mengamalkan dan selalu berpikir agar lebih baik, lebih baik dan lebih baik dari waktu ke waktu.

Sayangnya, galau mereka kadang mentok, tidak tahu harus ditanyakan kepada siapa, melihat ilmu mereka juga dirasa ngga cukup untuk menanyakan itu pada diri sendiri. Tanya ke temen ? Yah, wong temennya juga sama aja. Tanya keluarga? Sama aja.. Tanya Ustadz? Ustadz yang kaya' apa? Wong Ustadz sekarang banyak macemnya. Terus, tanyanya gimana ? Ah banyakan nanya lu ah.
Kadang juga rasa keterlaluan malu yang menyelimuti. Padahal panas malah diselimuti kan. Huh

Setelah berbagai pilihan untuk 'membuang galau' belum ditemukan, bisa saja si penggalau menanyakannya malah kepada orang yang belum dikenal, tapi dipercaya. Dengan harap tinggi di dada.

Seperti barusan yang aku alami, tiba-tiba ada sms 'aneh' untukku di siang hari. Karena tarif operator yang ikut menggalau, aku balas smsnya malam-malam. Dan, aku menyesal. Menyesal kenapa tak aku balas sejak siang saja. Apalah arti pulsa.. Dia, adalah seorang yang membutuhkan 'kita'. Simak cerita di paragraf-paragraf selanjutnya.

#jengjengjeng

Adapun galau negatif  adalah galau yang 'tidak penting'. Misalnya, bingung mau makan apa sampai curhat di socmed, lapar sampai ngeluh di socmed, beli baju model apa, diputusin pacar, dan lainnya yang malah menjerumuskan ke arah negatif dan tidak penting. Galau positif juga bisa berujung galau negatif apabila kita malas. Malas mencari solusi atas kegalauan.

Oke, kembali ke cerita. Jadi, pada tanggal 2 Juli ada sms yang kira-kira bertulis, "Ukht, namaku ****. Aku ini lesbi, tolong aku.."
(Maaf tidak bisa aku copas atau dicapture, karena smsnya telah terhapus sehubungan dengan dihard resetnya hapeku dan ngga bisanya hapeku, tapi intinya seperti iut)

Sms itu benar-benar mengagetkanku. Kadang memang ada sms untuk 'minta sharing', tapi itu biasa datang dari anggota sms Muslim Teenagers yang telah mendaftar sebelumnya, dan biasanya pertanyaan tentang agama. Aku benar-benar bingung harus membalas apa, bagaimana.. Karena aku tidak tau bagaimana lesbi itu terjadi. Aku hanya tau itu penyimpangan seperti kaum Nabi Luth 'alayhissalaam dan dosa besar. Kaum Nabi Luth 'alayhissalaam dulu diazab karena perilaku tersebut, pun penduduk kota Pompeii, Italia.

Karena dirasa aku belum cukup tau dan takut salah, aku mengirim sms ke orang yang ku anggap tau. Tapi setelah beberapa lama ditunggu tidak membalas (Ini salah satu hal yang disayangkan. Saat seseorang benar-benar dibutuhkan tapi tidak merasa dibutuhkan. Atau mungkin ini balasan untukku gara-gara telat membalas sms, entahlah). AlhamduliLlaah, Allah memperkenalkanku dengan Mba Lani yang kuliah psikologi. Aku bertanya pada beliau, dan subhanAllaah.. Pengetahuanku memang masih minim.. Beliau memberiku pengertian dan kisah orang yang kelainan seperti itu. Untuk membalas smsku kepada saudari kita yang butuh pertolongan ini.. Sebut saja Tulip.

"Ukh, aku ingin sembuh. Tapi rasanya susah banget. Aku udah cinta banget sama ceweku."

"Aku begini karena aku benci cowo. Dulu bapakku suka kasar. Sewaktu kecil aku juga pernah mendapat pelecehan dari cowo!"

"Aku benci bapakku."

"Temenku ngga ada yang tau kalo aku lesbi kecuali pacarku. Ibu-ayahku juga ngga, dan jangan sampai tau."

"Aku sudah bergaul dengan orang-orang yang berkerudung dan suka ngaji, tapi aku tetap begini. Susah banget mau berubah. Apalagi kalo udah ketemu temen-temen lesbiku."

Begitulah garis besar sms kami.

Aku benar-benar cenat-cenut, masalah lesbi ini terlalu dewasa untuk aku hadapi. Sebelum kemudian aku melihat umurku, ternyata sudah menua.. :'( Saat aku membuka timeline twitter, ada temanku, Bang Ade yang meretweet link tentang kelainan, lesbi. Kebetulan sekaliiii. Aku buka linknya..

Ternyata lesbi itu memang bisa saja bukan keinginan si penderita, tapi karena faktor luar. Antaranya penganiayaan, salah diberi pendidikan, kesepian, trauma, pelecehan, pergaulan, minimnya pengetahuan akan agama dan lainnya. Mereka bukan harus kita marahi, tapi harus kita bantu, rangkul. Mungkin pendekatan spirituil lebih berhasil dan bermanfaat, pikirku. Ya, memang itu yang terbaik, kan?

Dari Mba Lani, aku dapat kisah. Dulu ada seorang pemuda tampan yang 'kesepian'. Kurang kasih sayang orang tua. Akhirnya dia mencari kasih sayang itu dan didapatinya laki-laki. Tujuannya untuk mencari perhatian orang tua. Tapi kebablasan..
Dia punya keinginan kuat untuk sembuh. Melalui berbagai terapi.. Sempat berhasil. Tapi saat dia bertemu dengan kawan gay(maho)nya, rasa itu menguat kembali. Jadi, harus punya keyakinan sembuh, usaha total, bantuan kita, juga menjauhi lingkungan yang bisa menjerumuskan. Itu poin yang aku dapat. Tentunya dengan ridho Allaah.. Selalu mendekatkan diri padaNya.

Aku mengirimkan kisah itu ke Tulip. Tanggapannya hanya ingin sembuh, tapi susah. Ibu jangan sampai tau.

Ogut jadi was-was.. Info yang aku dapat, dia seangkatan denganku dan akan kerja, tidak melanjutkan kuliah. Dan mungkin akan kerja di luar kota. Itu berarti dia jauh dari ceweknya, pikirku.

Tapi, ada sms.. "Sekarang aku mau pulang ke kota, Ukh. Aku kangen banget sama cewekku."

rel mana rel :'(

Aku sarankan dia untuk berteman dengan orang yang care dengan agama, dia jawab katanya sudah. Teman-temannya kebanyakan berkerudung malahan. Tapi mereka juga tidak tau penderitaaan yang dialami Tulip. Deja vu.. Sms dulu terulang lagi.

Ternyata susah ya, meyakinkan orang lewat tulisan.. Padahal dulu saya jadi agak manis begini karena tulisan-tulisan :D #eh #malahcurcol


Beberapa lama kami tidak saling sms. Nomor hpnya pun hilang karena tidak di back up dulu. Tapi beberapa hari yang lalu (bulan Oktober 2012) Tulip sms aku. Dia ada masalah dengan kerjaan. Dia sedang berada di kota X dan kerjaan yang sebelumnya dijanjikan ngga ada. Dan dia bersama pacar lesbinya. *gedubrak* :/ -.- :| :<

Jauh-jauh dari kampung halaman bersama pacarnya. Aku kira udah sembuh.. Malah curhat kerjaan aaaaaaaakkkkkkk gemes !!!!! >,< #emaap
Dan sering kalau Tulip sms pas aku ngga punya pulsa. Jadi telat bales.. Malah dulu karena aku sms  ke banyak nomor termasuk Tulip tentang neraka, dia mbales "kalo dosa lesbi di neraaka diapain mbak?"

*jedyeeeerrrrrr*

Dari situ aku mendapat pelajaran kalau Aktivis Da'wah memang amat teramat sangat DIBUTUHKAN ! Bukan aku, bukan aku. Kejadian Tulip ini, mungkin karena kalau dia minta bantuan ke teman yang dia kenal dia akan malu, pun kepada Ustadz atau Ustadzah karena akan berhadapan langsung, tatap muka. Maka dia mencari pelarian, aku. Karena aku pastinya ngga tau siapa dia sebenarnya. Dan kemungkinan untuk menceritakan kepada keluarga dan temen-temannya (yang ditakutinya) amat sedikit. Seperti kata di atas, di paragrah tujuh dan delapan. (Apa susahnya scroll-up sih ?!)

Kenapa aku? Mungkin karena aku dulu biasa mengirimkan sms-sms kepada member jadi dianggap "tau". Padahal.. >,<
Padahal aku ini masih nyuuuubiiiiiiiii banget yang juga teramat sangat membutuhkanmuhhh

Harus bagaimana lagi meyakinkan Tulip ini. Kasihan dan gemes. Apalagi sekarang informasi banyak sekali dan mudah diakses. Informasi yang baik maupun menyebalkan dan salah arah.. Dan untuk anak seusianya, sebenarnya masih lebih mudah 'dibentuk'. Katanya sih.

Dengan ini, aku tidak setuju kalau orang lesbi dan maho dianggap terlalu sangat menjijikan untuk kita yang normal. Tapi bukan berarti aku mendukung adanya keadaan mereka. Lesbi dan homo itu penyakit yang memang susah disembuhkan, tapi BISA. Dan kalau caranya dengan memojokkan mereka, mungkin kita tidak akan berhasil. Tapi kalau didukung ala orang-orang liberal, aku lebih tidak setuju. Karena mereka membenarkan kesalahan. Itu ngga boleh. Yang bisa dilakukan kita, mungkin terus mendorong mereka untuk sembuh. Terus dirangkul, didorong.. Tapi bukan didorong ke jurang yes !

Dulu Mba Fitri pernah memberitahu kalau ada pasangan maho tanpa malu mengumbar 'cinta' di twitter. Aku penasaran dan melihatnya. Yassalaam.. Benar-benar membuatku geleng-geleng kepala. Akun itu berfoto dan bukan anonim. Ada juga blognya. Dan kisah 'cinta' sepasang maho itu ada disana, dari awal perjumpaan sampai jadilah pasangan..
AstaghfiruLlaah.. Orang-orang maho udah terang-terangan di socmed yang bisa dibaca semuaaaaaaaa huwaaaaaaaaaaaa :'(
Ngerikkkkk banget pake k !

Dan mungkin di luar sana memang sudah ada banyak. Karena di kota-kota besar, katanya mereka suka nongkrong di mall. Ada juga yang di bus. Aku dapat info ini dari #UBL. Dan, ada pula yang ikut-ikutan artis atau band idolanya. Mereka dengan bangga mengatakan mereka cinta sejenis. Mereka dengan bangga memperlihatkan kejahilan mereka. Oh, apa hebatnya artis-artis itu? Apa kelebihan mereka, para artis dibanding teladan kita, RasuluLlah Muhammad shallaLlaahu'alayhiwassalaam ??? :'(

Dulu sempat aku lihat info profil di facebook salah satu penggemar band yang personelnya cewek-cewek, tertulis;
gue cumma saiiank samma THE VIRGIN ,,,
guee cumma saiiank amma hp guee ,,,
tapii guee juga saiiankk ama ortu gue !!!
bagii guee THE VIRGIN sgallanya !!!
EVERLASTING !!! Bio: ╔══╗ ♥ ♫ ♥
║██║ ♫ ♥ ♫
║(O)║♥THE VIRGIN♥
╚══╝♥mitha nd dara♥
♥ - Cinta Terlarang♥
♥ - Belahan Jiwa♥ ♥ - Love Setengah Mati ♥
♥ - Demi Nama Cinta♥
█ ▄ █ ▄ ▄ █ ▄ █ ▄
Play_ GW BANGGA JADII BELLOKERZ ..
MESKIPUN ITU DOSA ,,
TAPII GW NYAMAN BGNII ..

(˘̩̩̩╭╮˘̩̩̩)


band idola segalanya, lebih sayang hp ketimbang orangtua. Lalu, kemanakah Tuhannya ? :(
Menurut orang-orang yang aku tanyai, bellokerz adalah pecinta sejenis. Cmiiw ya.

Ini, tugas untuk kita sebagai Muslim kan?? Saling mengingatkan dan tolong-menolong dalam kebaikan tanpa pandang dia anak baik atau anak nakal ?? Karena nyatanya sekarang banyak orangtua yang belum mampu mendidik dan memberi kasih sayang secara benar. Maaf. Tapi ini benar, kan?? :'((

Misalnya ya kaya Tulip tadi. Dia begitu karena trauma akan sikap bapaknya semasa kecil. Dan ingatan kala kecil adalah sulit untuk dilupa. Apalagi jika tidak berusaha untuk melupakannya. Atau melupakan tapi dengan cara yang salah.

Ini hanya salah satu contoh saja. Ya, tentang LGBT ini hanya satu contoh. Duhai, di luar sana sungguh banyak orang-orang yang haus akan ilmu, ni'matnya beribadah.. Tapi dunia ini mungkin terlihat lebih indah dari itu..  Lihatlah, betapa banyak anak yang ingin benar-benar mencinta Islam. Sambutlah.. Sambutlah mereka yang ingin, dan ajaklah yang terlupa.

Tidak mau kan, kalau generasi penerus adalah generasi galau hedon dan hobi maksiat ?? :')

Yap, jika ditanya siapa yang ingin masuk Syurga pasti semua menjawab ingin. Tapi keinginan kadang tidak disertai tindakan. Banyak yang masih terlena dengan muslihat maksiyat.

Jadi, misal ada remaja yang lebih suka ke mall daripada menghadiri kajian, mungkin saja karena memang minim pengetahuan dan belum tau betapa lebih pentingnya kajian. Jadi bukan untuk dinyinyiri, tapi digandeng. Lihat diri kita, kalau ada orang begitu langsung dinyinyir tanpa mengingatkan mereka, apa kita ngga sama aja ? Jangan sampai menyakiti hati. Jangan sampai lidah lebih tajam dari pedangnya Aragorn. Jangan sampai jempol sama jari lebih mematikan dari AK47. *notetoself

Dan sebisa mungkin jangan sampai sikap kita malah dijauhi oleh orang yang sejatinya membutuhkan. Terutama kaum nyubi kea gue. Karena fenomena di lingkungan da'wah sekarang memang luar biasa yes. Perbedaan harokah dan lain-lain..
*duduk di bawah pohon pisang lutut disatukan muka ke lutut tangan meluk lutut*


"Kalo gue gaul sama geng gaul dan gue ngomongin tentang agama, paling gue dicap 'sok suci'. Tapi kalo gue gaul sama 'aktivis', kok malah lebih kejam ya? Bisa dikatain ahlul bid'ah, murjiah, khawarij, tukang ghibah... Itu menyakitkan banget. Padahal bukan tujuan gue juga mendebat dan berbuat salah, wong gue cuma pengen tau dan lagi belajar. Gue cuma belajar. Belajar aja ampe dikata-kata kaya gitu. Katanya aktivis kok ngga husnudzon. Gimana sih. Dan gue lebih mending dikata sok suci sih. Karena gue bisa memaklumi kelabilan geng gaul………"

Hanya ilustrasi, hehe :D
Kalau missal ada yang seperti ilustrasi di atas, sayang banget yes. Hehe

Adakah selama ini kita ramah? Adakah selama ini kita menyakiti dan kasar? Adakah kita berbuat untuk Allah semata, meninggikanNya? Ataukah kita ingin meninggikan nama sendiri dengan berharap pujian bertubi-tubi dari manusia ? Walaupun yang tertulis di twit dan facebook engga ?! *heh*

Ya kan kita ini berbeda. Orangtua berbeda, keluarga berbeda, tetangga berbeda, teman berbeda, pergawlan berbeda.. Kita ngga diberi opsi untuk memilih siapa Orangtua kita, memilih di keluarga kaya atau miskin, keluarga yang berpaham Islam benar, salah atau pas-pasan dan lainnya. Mungkin jika bisa memilih, kebanyakan akan memilih memiliki Orangtua kaya raya, baik hati, baik agamanya, baik lingkungan dengan teman yang baik pula. Tapi dunia kan kadang berbeda dengan keinginan.

Maka itu, kita harus bisa memilih yang terbaik kan. Memimpin diri sendiri. Syukuri apa yang ada dan jangan berkeluh kepadaku, kepadaNya saja. Dan jika kita kebetulan berada dalam lingkungan yang bagus dengan keluarga yang bagus Islamnya, jangan kemudian mengunderestimate mereka yang terlahir berbeda. Kalo begitu nanti sama saja dengan dia. Kan orang berbeda-beda, jangan disamakan. Aku hanya titipan, kamu juga. Jaga diri bae-bae yaaaa.. T^T

Aku harap untuk merangkul kaum nyubi jangan jadi Leonidas. Dulu aku nonton sekali filmnya, Leonidas ni ngga mau mundur. Sering menang perang soalnya pasukannya hebat-hebat dan kompak gitu. Spartaaaaa !!!!! Kalo ngga kabur ya matik. Dan ada orang yang ingin jadi pasukan Sparta, tapi memiliki cacat jadi Leonidas ngga mau nerima. Dan yang cacat tu sakit hati jadinya mengkhianati Leonidas dengan bersekutu sama musuhnya, Xerxes. Akhirnya kan Leonidas dan pasukannya yang cuma berapa ratus dikepung ama ribuan dari berbagai sudut, matiklah. Walo ngga menyerah sih. Tapi di akhir, sepertinya si 'pengkhianat' itu menyesal karena keteguhan Leonidas. Itu karena salah paham. Karena ngga tau arti kata-kata Leonidas. Jadinya malah dendam, heu. 

Hubungane apa Dew ? :|

Apa yeuh ? :| ya poko'nya gitu, kalo ngasih tau caranya yang bae-bae. Leonidas aja kan di film keliatan aga bae kea gitu tetep ditangkep salah. Nah kalo yang ngomongnya sambil dengerin lagu rock (baca : keras) ??

coba baca juga postingan stelah ini.

Dan Dari biologi sampai ke Palestine

Dah ah.

((Dewi, 18 tahun (sekarang 19 tahun ding), bocah yang masih nyubi))