Pages

Kamis, 27 September 2012

(CERPEN PERDANA GUA) Baju Lebaran untuk Nanda

Tetangga berjenis wanita yang telah menjadi ibu-ibu sedang ribut-ributnya membeli perlengkapan lebaran, terutama sandang. Sudah menjadi 'adat' para ibu menjelang lebaran memang. Untuk pakaian, para ibu kebanyakan membeli lebih dari satu stel untuk anak mereka. Belum lagi untuk mereka sendiri. Padahal, tidak sedikit diantara mereka mengeluhkan kepada ibuku kalau kondisi keuangan mereka, untuk makan saja susah. Saat ditanya kenapa mereka membelanjakan banyak uang untuk sandang, mereka menjawab kasihan dengan anak-anaknya yang menangis. Kenapa bisa, untuk makan susah tapi membeli baju sedemikian banyak bisa?  Hmm mungkin mereka sedang ketiban durian runtuh, husnuzhan saja lah.

Memang, banyak anak kecil yang merengek minta dibelikan banyak baju terutama saat akhir bulan Ramadhan. Tapi biasanya karena lebaran sebelumnya mereka dibelikan banyak baju, juga karena teman sepermainan mereka demikian. Kalau dihitung-hitung, saat hari biasa kalau ada tukang kredit pakaian, anak-anak itu merengek minta dibelikan. Dan sang ibu dengan alasan kasihan membelikan untuk si anak. Tukang kredit datang tidak hanya sekali sebulan, bisa lebih dengan tukang yang berbeda. Kemudian saat lebaran, minimal dua stel pakaian. Sejak kecil anak-anak sudah mempraktikkan gaya hidup hedon! Dan, ini di kampung kecil, bukan kota besar. Haduh.

Kadang aku berpikir, kalau aku tidak bisa bekerja nanti, aku mau jadi tukang kredit pakaian saja. Pasti laku keras, pikirku.

Gaya hedon yang dipraktikkan anak-anak sebenarnya tidak lain adalah hasil didikan orang tuanya, terutama ibu. Dan ibu-ibu biasanya terpengaruh sekitar, juga tayangan televisi. Beruntung sekali aku mempunyai ibu yang tidak suka kongkow bareng tetangga. Jadi, ibuku mendidik anak-anaknya untuk hidup sederhana dan bersahaja. Hehe.
Bukan karena ibuku tak pandai bergaul. Beliau adalah salah satu orang kepercayaan di kampung. Misal akan ada arisan, program pemerintah seperti PNPM dan lainnya, ibuku pengurusnya. Ibuku dikenal banyak orang di kampung dan termasuk 'orang penting'. Maka, banyak pula ibu-ibu yang curhat dengan kondisi keuangan mereka ke ibuku.

“Yan, lebaran sebentar lagi. Kamu mau beli baju baru atau tidak?” Tanya ibuku memecah keheningan.

“Tidak usah, Bu. Bajuku masih banyak, masih bagus. Lagipula, hari-hari ini kan harusnya kita fokuskan untuk beribadah, bukan ke toko baju.”

Ibuku tersenyum, kemudian beliau berkata, “Tapi sudah beberapa lebaran kamu tidak beli lhoo.”

“Tidak apa, Bu. Aku bukan anak kecil.”

“Padahal kalau kamu mau, ibu akan memintamu ke toko sekalian membelikan baju untuk adikmu. Karena lebaran tinggal tiga hari, jadi stok baju di tukang kredit tinggal sisa. Kalau pergi ibu tidak sempat, ayahmu tidak bisa ditinggal lama-lama oleh ibu.”

“Nanda tidak usah dibelikan saja, Bu. Dua bulan yang lalu kan dia sudah beli.”

“Tapi dia masih kecil, Yan. Teman-temannya semua beli.”

“Kecil bukan berarti tidak dewasa kan, Bu? Mulai lebaran ini, Nanda tidak usah dibelikan baju baru. Ini untuk melatihnya agar tidak manja. Aku tidak mau Nanda seperti anak tetangga. Beli baju banyak stel, kalau tidak dibelikan ngamuk. Lebih mementingkan baju daripada shaum dan tilawah. Jangan-jangan nanti Idul Fitri hanya jadi ajang pamer baju bagus.” Jawabku meledak-ledak karena teringat tingkah anak tetangga.

“Iya, Yan. Tapi ibu merasa kasihan. Karena ayahmu sakit, jadi waktu ibu untuk Nanda dikurangi. Ibu hanya ingin membuatnya senang.”

“Tapi Bu, bukankah ini akan memengaruhi kondisi psikisnya? Ayah sedang sakit, pemasukan untuk keluarga berkurang, ibu harus selalu di samping ayah. Biarkan Nanda mengerti kondisi ini, Bu. Biar dia tidak manja. Mungkin untuk membuatnya senang, ibu bisa membuat kue kesukaannya untuk lebaran.”

Ibuku terdiam sejenak. Naluri seorang ibu, pasti ingin membahagiakan anak walau bagaimanapun keadaan.

”Ya sudahlah.” kata Ibuku mengiyakan.

“Lagipula, apa ibu punya uang cukup untuk membeli baju?”

“Ibu punya tabungan sedikit, niatnya akan ibu gunakan untuk membeli baju untukmu juga Nanda.”

“Kalau begitu simpan saja, Bu. Buat persiapan jika ada keperluan mendadak, mengingat kondisi kita sekarang. Aku yakin Nanda akan mengerti.” Aku mencoba membujuk ibuku, padahal sebenarnya aku tidak yakin Nanda akan mengerti, dia masih kecil memang.

Ibuku tersenyum, kemudian beliau menuju kamar karena ayah memanggil. Ayahku sakit sejak sebelum Ramadhan, beliau tidak bisa bergerak banyak, badannya lemas dan lemah. Oleh karena itu, ibuku selalu mendampingi.

Esok hari tanggal 17 September 2012, aku menemui Nanda.

“Nan, kalau lebaran ini kamu tidak pakai baju baru tidak apa-apa kan?”

Nanda terdiam sejenak. Ia memandang ke bawah.
“Tidak apa, Mas. Nanda kan shaumnya ada yang bolong. Jadi, Nanda pantas tidak mendapat hadiah..” Katanya lirih.

Aku kaget mendengar jawabannya. Aku tidak menyangka ternyata adikku bisa berpikir sejauh itu. Nanda memang bolong shaum, tapi itu karena dia sakit.

MashaAllah.” Ucapku dalam hati.

“Nanda, tidak apa kamu tidak shaum karena kamu sakit. Asalkan jangan bolong shaum karena malas. Berhubung hari-hari ini terakhir Ramadhan, kita maksimalkan terus ibadah kita ya. Biar Allah yang memberi kita hadiah.”

“Iya, Mas.” Jawab Nanda dengan wajah imutnya.

Aku seperti menyesal karena telah membujuk ibu untuk tidak membelikan baju untuk Nanda. Karena ternyata Nanda memang tidak seperti anak-anak tetangga. Aku menceritakan percakapanku tadi kepada ibuku. Ibuku tersenyum sumringah.

“Maafkan aku, Bu.”

“Tidak apa, Yan.”

Dalam hati, aku ingin sekali memberikan hadiah untuk Nanda, besok. Karena tinggal besok saja hari sebelum lebaran. Ku buka dompetku, AlhamduliLlah ada tiga lembar uang Rp 50.000,-. Sekiranya cukup untuk membelikan sesuatu untuk Nanda.

Aku berangkat dari rumah pagi berharap jalanan sepi, ternyata salah. Sejak pagi pun jalanan sudah ramai seperti di kota. Seharusnya 30 menit sudah sampai ke toko, tapi karena terlalu ramai, satu jam lebih baru sampai. Belum cukup hanya itu, di tempat itu aku harus berdesakan dengan orang-orang. Karena terlalu ramai, aku mencoba menarik diri dulu.

Setelah cukup lama menunggu dan bosan, bukannya tambah sepi, malah semakin ramai saja. Aku memaksakan diri masuk. Aku memilihkan baju untuk Nanda. Ketika aku mengecek saku celana, tidak ada dompetku. Aku panik. Aku baru ingat ternyata dompetku masih di laci meja kamar. Akhirnya aku pulang dengan wajah tak puas.

Saat sampai di rumah, ibuku sedang sibuk membuat ketupat dan kue untuk lebaran.
“Habis darimana, Yan?”

“Dari toko baju, Bu..”

Ngapain kamu ke toko baju? Katanya kemarin tidak mau beli?”

“Aku berniat membelikan Nanda baju, Bu. Untuk hadiah dia. Tapi dompet beserta uang tertinggal di rumah. Jadi Nanda tidak aku belikan.” jawabku lemas.

“Ya sudah lah, Yan. Tidak apa-apa.” Jawab ibuku sambil tersenyum.

Aku ingin kembali lagi ke toko, tapi tak tega rasanya melihat ibu bekerja sendiri untuk besok. Pun cuaca mendung pertanda hujan akan segera turun. Lagipula, jika aku kembali ke toko, banyak waktuku akan terbuang. Jadi aku putuskan untuk membantu ibu saja. Maafkan aku, Nanda. Untunglah aku masih mempunyai buku untuk hadiah, buku kisah para nabi. Berharap Nanda akan senang.

Lebaran!
Seperti biasa, kami sekeluarga bangun pagi sebelum shubuh untuk mempersiapkan segala hal. Ibuku paling sibuk. Setelah semua selesai, kami berangkat ke masjid, termasuk ayah. Ayah mantap sekali ingin shalat Ied walau masih sakit. Ibu memakai mukena dari rumah. Nanda terlihat sangat manis dengan mengenakan baju berwarna hijau. Walau bukan baju baru, tapi masih terlihat bagus. Sedangkan aku dan ayah memakai baju koko terbagus yang kami miliki.

Setelah hari mulai siang, satu per satu kerabat datang ke rumah untuk bersilaturrahim. Bibiku datang bersama keluarganya. Bibiku memiliki anak perempuan seumuran dengan Nanda. Nanda senang sekali berkumpul dengan anak seusianya. Karena dirasa sudah cukup, keluarga bibi pamit ke rumah kerabat yang lain, Nanda ikut dan aku membuntutinya.

Mereka berdiam lumayan lama di rumah saudaranya. Rupanya keluarga bibi akan bersilaturrahim ke rumah saudara tertua, kakak ayahku. Nanda tersenyum sumringah ingin ikut dengan berjalan bersama sepupu. Kebetulan sudah lama keluarga kami tidak silaturrahim kesana.

“Nanda, kamu jangan ikut ya. Soalnya kamu tidak pakai baju baru, nanti dikira ini bukan lebaran.” kata bibiku dengan wajah tanpa dosa kepada adikku.

Nanda hanya terdiam dan tersenyum kecut. Rona bahagia menjadi kecewa. Aku langsung menghampiri Nanda dan mengajaknya pulang. Dalam hati sebenarnya aku geregetan sekali. Ingin rasanya menimpali, tapi itu akan membuat suasana keruh, apalagi ini hari Idul Fitri yang baru saja bermaaf-maafan. Tak habis pikir, kenapa orang tua bisa berkata tidak pantas seperti itu kepada anak berusia 7 tahun?? Apa dia tidak memikirkan perasaan anak tersebut?

Sampai di rumah, kami menceritakan kejadian tadi kepada ibu. Ibuku juga kaget, terlihat dari ekspresi wajahnya saat pertama kali mendengar.

“Sudah, sudah. Tidak apa-apa ya. Mungkin bibi ingin Nanda pulang menemani ibu dan ayah.” Kata ibuku menenangkan.

“Bu, aku tak habis pikir kenapa bibi bisa berucap seperti itu. Memangnya kalau lebaran harus pakai baju baru ya? Siapa yang mengatur, Bu? Memangnya ada dalilnya?” Jawabku sedikit emosi.

“Ryan, Nanda, Idul Fitri itu hari kemenangan Ummat Islam. Menang itu memang bukan dengan baju baru. Dan untuk menang bukan perkara yang mudah. Apakah kita menang atau tidak, Allah yang paling tahu. Dan diantara ciri akhlaq seorang Muslim adalah sabar dan bisa menahan amarah. Mendoakan orang yang menjengkelkan juga termasuk. Dan yang wajib tidak lupa dikerjakan.” Kata ayahku yang ternyata mendengar pembicaraan kami.

“Tapi ayah, aku juga tidak habis pikir, kenapa sekarang lebaran hanya sebagai ajang ceremonial? Sepertinya banyak yang masih beranggapan seperti itu, yah. Dan baru saja aku saksikan sendiri.”

“Iya, Ryan. Kita jangan sampai seperti itu. Kalau bisa kita da'wahkan bagaimana harusnya Idul Fitri itu. Ryan sama Nanda tidak marah, kan?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan ayah. Nanda hanya menundukkan kepala.

“Sudah ya. Ini kan hari kemenangan kita, tahan amarah. Mungkin itu karena Allah sayang sama kita sehingga memberi cobaan itu kepada kita. Sayang, itu hanya cobaan kecil. Bandingkan dengan cobaan yang RasuluLlah shallaLlahu'alayhiwassalaam alami. Tidak seberapa.. Idul Fitri, kembali suci. Kita sucikan hati dan pikiran kita. Idul Fitri, hari kemenangan. Ingat-ingat apa saja yang sudah kita perbuat di bulan Ramadhan, ibadah kita bagaimana, shaum, shalat lima waktu, shalat sunnah dan lain-lain. Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tapi ibadah kita untukNya. Jangan ikuti kata orang yang buruk. Oke, begitu ya Ryan, Nanda.. Nanda, sebenarnya Mas Ryan mau membelikan baju untukmu, tapi dompetnya tertinggal. Maafkan ayah ya, selama Ramadhan ayah tidak bisa berbuat banyak untuk kalian.” jelas ayah menenangkan.

Aku terdiam dan teringat kata seorang ustadz, bahwasanya seorang Muslim naik kelas jika dia lulus dari cobaan yang Allah berikan. Dan Allah tidak akan membebani seorang Muslim melebihi kesanggupan. Aku mengingat-ingat apakah Ramadhan tahun ini lebih baik atau tidak. Berharap aku kembali suci, menjadi pemenang dan naik kelas. Dan aku bahagia sekali, ternyata ayahku yang selama ini sakit, begitu bijak dan perhatian.

 Tidak memakai baju baru saat lebaran tak masalah untuk keluargaku, tapi ternyata menjadi masalah untuk orang lain. Seharusnya aku tidak ambil pusing. Karena lebaran ini, keluargaku telah menang tanpa baju baru. InshaAllah..

“Ayah, ibu, Nanda, maafkan aku.. Aku sedikit emosi.”

xp
 

2 komentar:

  1. Assalamu alaikum wr wb,,senang sekali saya bisa menulis dan berbagi kepada teman2 melalui room ini, sebelumnya dulu saya adalah seorang Pengusaha Butik, kini saya gulung tikar akibat di tipu teman sendiri, ditengah tagihan utang yg menumpuk, Suami pun meninggalkan saya, dan ditengah himpitan ekonomi seperti ini, saya coba buka internet untuk cari lowongan kerja, dan secara tdk sengaja sy liat situs pesugihan AKI SYEH MAULANA, awalnya saya ragu dan tidak percaya, tapi setelah saya lihat pembuktian video AKI ZYEH MAULANA Di Website/situnya Saya pun langsug hubungi beliau dan Semua petunjuk AKI saya ikuti dan hanya 3 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah Ternyata benar benar terbukti dan 2Miliar yang saya minta benar benar ada di tangan saya, semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha, kata kata beliau yang selalu sy ingat setiap manusia bisa menjadi kaya, hanya saja terkadang mereka tidak tahu atau salah jalan. Banyak orang menganggap bahwa miskin dan kaya merupakan bagian dari takdir Tuhan. Takdir macam apa? Tuhan tidak akan memberikan takdir yang buruk terhadap kita, semua cobaan yang Tuhan berikan merupakan pembuktian seberapa kuat Anda bertahan di dalamnya. Tuhan tidak akan merubah nasib Anda jika Anda tidak berusaha untuk merubahnya. Dan satu hal yang perlu Anda ingat, “Jika Anda terlahir miskin itu bukan salah siapapun, namun jika Anda mati miskin itu merupakan salah Anda.” sy sangat berterimakasih banyak kepada AKI ZYEH MAULANA dan jika anda ingin seperti saya silahkan Telefon di 085298275599 Atau Lihat Di internet ««KLIK DISINI»» saya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui AKI ZYEH MAULANA saya Bisa sukses. Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, AKI ZYEH MAULANA Banyak Dikenal Oleh Kalangan Pejabat, Pengusaha Dan Artis Ternama Karna Beliau adalah guru spiritual terkenal di indonesia.


    PESUGIHAN MENGUNAKAN MINYAK GHAIB

    PENARIKAN UANG MENGGUNAKAN MUSTIKA

    BUAYER ANTIQUE/MUSTIKA

    RITUAL TOGEL/LOTREY

    BalasHapus