Pages

Minggu, 30 September 2012

GUE BANGGA JADI BIGOT JOMBLO !


“Jomblo lu !”
Jomblo di zaman ketika para ababil 'menguasa' seperti sekarang ini berarti tidak punya pasangan, atau pacar. Banyak ababil merasa terhina dengan sebutan itu sehingga ia rela melakukan apa saja agar tidak disebut jomblo. Rasa terhinanya para ababil ini mungkin melebihi rasa marahnya ketika RasuluLlah shallaLlaahu'alayhiwassalam dihina.

Sebut saja Mawar. Dia rela pacaran dengan orang begajulan, suka merokok dan suka melakukan hal tidak terpuji dengan kondisi wajah yang tak tampan, hanya agar dia tidak berstatus jomblo. Padahal Mawar berparas ayu (karena make-up) dan bertubuh aduhay. Kenapa mau? Karena ada agenda terselubung dibalik status ketidak jombloan itu. Kalau jomblo, tidak ada yang ngapel datang ke rumah ketika malam minggu, tidak ada yang mengajak (mentraktir) makan, tidak ada yang antar-jemput kuliah dan lain-lain. Nah, ternyata ada keuntungan dengan berstatus tidak jomblo walau pasangan 'seadanya'.

Lain lagi dengan Eva. Dia bersedia pacaran dengan orang yang baru dikenalnya dari facebook beberapa hari yang bahkan wajahnya tak ia ketahui. Eva beralasan kalau dia hanya ingin memiliki teman untuk bersms ria, agar tidak kesepian.

Kejomplangan dan keanehan dalam berpacaran ini tidak hanya dilakukan oleh Mawar dan Eva, tapi oleh banyak ababil yang bertebaran di dunia. Sudah zamannya
.
Godaan untuk melepas status jomblo menjadi berpacaran sungguh besar, apalagi untuk daerah perkotaan. Kebanyakan perempuan ababil baik pelontos maupun berkerudung, ternyata pacaran. Sehingga menimbulkan rasa kebenaran banyak orang untuk pacaran. Yang tidak pacaran dianggap tidak laku bahkan memiliki kelainan. Ada-ada saja anggapan orang-orang.

Mawar dan Eva dianggap orang yang wajar dengan gaya hidupnya mengenai pacaran. Lain dengan Ery. Ery adalah seorang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia berusia 22 tahun berpostur tinggi kurus, berkulit sawo matang. Wajahnya tidak jelek, tapi juga tidak ganteng. Oleh teman-temannya ia selalu dipanggil jomblo. Ketika para ababil merasa jomblo adalah aib yang harus ditutup rapat-rapat, Ery malah bangga dengan panggilan itu. Sungguh aneh, itulah cap teman-temannya. Jomblo yang aneh, manusia yang aneh. Itulah mengapa ia dipanggil jomblo.

Teman-teman Ery penasaran kenapa dia bisa bangga dan tak tergoda untuk pacaran. Mereka selalu mencecar Ery dengan pertanyaan itu bak paparazzi. Paparazzi adalah julukan untuk mereka yang selalu ingin tahu tentana kehidupan Ery. Dan Ery selalu saja tersenyum sambil lalu, seperti tak ada beban dalam hidupnya sebagai ababil kota besar berstatus jomblo.
Tapi ketenangan Ery dalam bersikap itu ternyata berbanding 180° di dunia maya. Para paparazzi sering memergoki Ery memposting rasa galaunya ingin memiliki pacar. Ya, menurut mereka Ery ingin memiliki pacar. Tapi selalu saja ditangkis oleh Ery.



Ery bukan laki-laki yang dikenal rajin mengikuti kajian di kampus, tapi dia berteman dengan "ikhwan" kampusnya. Pun dia kongkow bersama teman-temannya yang ababil. Itu menurut mereka. Gaya berbusananya juga tak seperti ikhwan kampus yang mengenakan celana bahan dan hem panjang. Ia berbusana layaknya mahasiswa lain. Ery memang tidak terlalu terkenal, tapi ia cukup dikenal banyak mahasiswa dan dosen karena ia termasuk BEM dan sering ikut aksi ke jalan.

"Mblo Ery, gue ada cewek nih. Bening, berkerudung juga. Kayaknya cocok buat jadi pacar lu."

"Terus, gue kudu ngapain?"

"Lu tembak lah!"

"Gue ngga mau. Gue ngga sekejam itu, Dit!"

"Lho kok kejam??"

"Iya kalo gue tembak dia, ntar dia bakal mati berlumuran darah karena peluru menembus tubuhnya, terus keluarganya nangis-nangis histeris meratapi kepergiannya. Apa ngga kejam itu namanya ha?!"

"Dodol lu! Ihhhhh lu dodol apa culun dah! Maksud gue ditembak itu nyatain perasaan lu kalo lu suka sama dia dan lu ingin pacaran sama dia. Gitu lho Mbloooo." Jawab Adit sambil menggelengkan kepala.

"Gue ini berusaha untuk jujur, Dit.."

"Terus?"

"Gue ngga suka sama dia dan gue ngga mau pacaran sama dia, masa gue harus bilang suka gitu?? Miapah??"

"Lu kan belum liat orangnya."

"Gue ngga mau liat."

"Dasar jomblo! Kalo lu liat pasti lu bakal suka."

"Hihihihih. Kenapa ngga buat lu aja?"

"Gue belum putus sama cewek gue."

"Udah, putusin aja. Abis itu disambung dengan nikahin dia."

"Gue belum bosen sama cewek gue. Lagian dia juga mantan gue dulu, udah pernah ngerasain. Nyuruh nikah lu. Lu kira nikah gampang apa?!"

"Aduh..gue jadi kasian gini sama cewek deh, Dit." Jawab Ery dengan wajah memelas sok imut.

"Kenapa? Kalo gue sih kasiannya sama elu, soalnya lu belum pernah punya pacar. Gue baca twit elu semalem, Mbloooo."

"Ya abisnya sekarang cewek itu kaya barang aja, dihargai kalo masih suka doang, kalo ngga suka dibuang gitu aja. Pacar bisa ganti-gantian, kalo udah bosen diganti. Mantan pacar temen bisa jadi pacar kita. Kasian kan???? Mendingan gue jadi jomblo daripada gue mainin cewek kaya gitu, Dit.. Udah Dit, kalo emang lu suka, lu cinta ma cewek lu, nikahin dia. Itu yang dianjurkan di agama..karena pa.."

"Ah capek gue ngomong sama lu! Mau bantuin malah diceramahin. Kenapa sih kudu bawa-bawa agama? Sewot dah!" Sahut Adit dengan wajah kesal, padahal Ery belum selesai berbicara. Adit pergi begitu saja tanpa permisi.

"Mau bantuin gue jadi laki-laki pengecut maksudnya?" Ucap Ery lirih sambil nyengir kuda.

Sebenarnya Ery sering ditawari 'cewek' oleh teman-temannya, tapi dia selalu saja menolak. Sampai di usianya yang ke 23, ia tetap saja menolak. Karena itu, para paparazzi menjulukinya Bigot Jomblo. Ery tertawa ketika dijuluki demikian.

"Gue jomblo beriman, cooy. Ngahahaha." Kata Ery melawak. Dan para paparazzi hanya geleng-geleng kepala.

Suatu hari di kantin kampusnya, datang seorang wanita cantik berbusana minim berwarna merah. Wanita itu secara tiba-tiba duduk di samping Ery yang sedang melahap bakso.

"Hai, Ry." Kata wanita itu mengajaknya ngobrol.

Ery hanya menoleh dan tidak menjawab. Ia bergeser tempat duduk untuk menjauh dari wanita itu.

"Kok ngga dijawab sih? Malah menjauh gitu. Ngga sopan banget."

Ery diam dengan wajah cuek dan tetap menikmati bakso. Sampai akhirnya wanita itu memegang tangannya. Ery secara reflek menyingkapnya.

"Woy! Anda ini siapa? Ngga punya malu banget ya megang-megang tangan gue! Ih!" Kata Ery dengan nada keras.

Wanita itu merasa malu juga marah, mukanya merah.

"Aku kan cuma mau kenalan!" Jawab wanita itu sambil menahan rasa malunya.

"Lu kan udah tau nama gue, Mbak. Kalo mau kenalan sama gue tuh yang baik-baik! Pake baju yang sopan, ucapkan salam terlebih dahulu, ngga usah megang-megang gue. Maaf Mbak tadi agak membentak." Ery kemudian menuju penunggu kantin untuk membayar makanan, meninggalkan wanita itu begitu saja.

"Dasar! Pantes aja lu jomblo!" Kata wanita itu kesal.

Esok harinya saat Ery berada di perpustakaan, ada wanita berkacamata dengan busana sopan tapi rambut tak tertutup menghampirinya.

"Salaamu Alaykum, Kak Ery." Kata wanita itu sambil tersenyum manis kepada Ery.

"Wa'alaykumussalaam. Maaf siapa?"

"Namaku Wulan, Kak. Aku mahasiswi jurusan kedokteran, baru masuk tahun ini."

"Oh. Ada apa?"

"Aku mau pinjem buku, Kak."

"Buku tuh ada disana, Dek. Ini kan meja tempat baca." Kata Ery sambil menunjuk rak-rak buku.

"Oh iya, hehe."

Kemudian wanita itu mengambil buku dan kembali ke tempat Ery membaca. Rupanya Ery risih karena di meja itu hanya mereka berdua. Ery pun berpindah ke meja lain duduk di samping seorang laki-laki. Wanita itu terus membuntutinya kemanapun ia duduk sampai tiga kali.

"Kenapa Anda mengikuti saya terus, Dek?"

"Aku ingin belajar agama, Kak."

"Ih ngga konsisten banget ya kamu. Tadi bilang mau pinjem buku, sekarang mau belajar agama. Pffft. Kalo mau belajar agama mah ke Ustadzah, Dek. Bukan ke saya."

"Tapi aku maunya sama Kak Ery."

"Dek, kita ini bukan mahrom ya, berbeda jenis. Jadi lu ngajinya ke wanita dan gue ke laki-laki. Oke? Ni gue kasih nomor temen gue yang ikut kajian. Bye!"

Tanpa pikir panjang Ery langsung pergi meninggalkan perpustakaan. Ia teringat kejadian dulu saat wanita berbaju merah menempelnya di kantin. Ia masih trauma.

Bulan berikutnya, ia juga didatangi beberapa wanita dengan gaya berbeda. Ada yang cantik, tomboy, berkerudung dan seksi. Semua dimentalkan oleh Ery. Kabar miring pun terdengar. Banyak orang menduga Ery mempunyai kelainan!

"Godaan untuk jomblo beriman ternyata berat ya.." Kata Ery dalam hati.

Ery merasa frustasi. Ingin sekali ia memiliki pacar sebenarnya, agar ia tidak diganggu oleh para wanita itu. Juga, agar kabar miring tentangnya hilang. Tapi idealismenya membuatnya mengurungkan niat. Dia tidak mau menjadi laki-laki pengecut dengan memacari wanita tapi tidak menikahinya. Ery berkelana untuk mencari ketenangan, masih di sekitar kampus.

"Woy, Mbloo!" Sapa Erika, teman kongkow Ery di kampus.

"Apa?"

"Udah punya pacar lu, Mblo? Kok sekarang lu jarang gabung ama kita-kita sih?"

"Gue tetep jadi bigot jomblo!" Kata Ery sambil mencoba pergi.

"Eittss tunggu dulu! Beneran?? Kok lu sekarang keliatan beda sama yang dulu ya??"

"Gue cuma pengen tenang, Rik.."

"Emang selama ini lu ngga tenang? Siapa yang gangguin elu? Bilang aja ke kita-kita. Ntar kita bantu ngatasin."

"Gue diganggu ama cewek! Udah beberapa kali gilakkkkk." Katanya sambil mencakar-cakar rambut.

"Diganggu kenapa?"

"Ah ntar lu baca blog gue aja. Gue mau pulang. Bye!"

Teman-teman Ery merasa Ery berubah. Dia jadi lebih kalem. Sesekali dia juga mengganti kata "gue" menjadi "aku". Sungguh hal yang ajaib dilakukan oleh seorang Ery yang terkenal konyol dan pecicilan.

Sore harinya, Erika membuka blog Ery. "GUE BANGGA JADI BIGOT JOMBLO!"
Itulah judul postingan Ery di blog. Di postingan itu dia memuntahkan semua perasaan dan kejadian-kejadian aneh yang ia alami. Mulai dari wanita berpakaian minim yang mendatanginya di kantin sampai wanita tomboy yang mengajaknya berantem. Disana Ery juga menyisipkan sebuah link "kenapa gue ngga mau pacaran, baca disini". Tapi Erika tidak mau mengkliknya. Ia mengirimkan sms ke teman-temannya tentang postingan Ery itu.

"Berhubung udah Ramadhan, siapa aja tolong, jangan ganggu Ramadhanku!!!! Bye!" adalah kata-kata untuk menutup postingan di blognya.
Esok harinya, para paparazzi tidak melihat Ery di kampus. Begitu juga dengan hari kedua dan ketiga. Nomor hp Ery tidak bisa dihubungi, di facebooknya tidak ada kegiatan Ery selama empat hari, twit terakhirnya tiga hari yang lalu dan emailpun tak terbalas.

"Ery kenapa? Dimana?" Tanya Adit ke sesama paparazzi.

"Ngga tau. Gue ketemu dia terakhir 3 hari yang lalau, bray. Katanya dia pengin cari ketenangan. Miapa." Jawab Erika.

"Gue kok jadi penasaran ya, jangan-jangan Ery bener-bener punya kelainan." Kata Yudha.

"Huss! Ngaco kamu Yud!" Kata Erika sambil manyun. "Ery tuh mungkin aja emang mau nenangin diri dari kehidupan ibukota yang kejam ini.." Lanjutnya.

"Hmmm. Tapi mungkin juga loh, guys.. Doi ngejauhin kita karena dia malu deh kayaknya."

"Kalian semua ngaco ya! Tapi, katanya kan pengen tenang, mungkin doi tuh mau jadi kaya ikhwan kampus kita kali yes ??? " Kata Erika dengan tampang mikir.

"Ery mau jadi ikhwan?? Hahahahaha." Kata Yudha.

Kemudian para paparazzi melihat Salim lewat. Karena Salim akhir-akhir ini terlihat sering bersama Ery, mereka pun menghampirinya.

"Lim, lu tau Ery dimana ngga? Dihubungin ngga jadi melulu."

"Lho, kalian belum tau?"

"Apa?"

"Ery masuk rumah sakit karena dikeroyok, kondisinya lumayan parah. Dia belum sadar sampai sekarang."

"Ciyus?!???!! Jangan bercanda lu ah! Dikeroyok sama siapa?!" Kata Erika tak percaya.

"Serius. Ini aku sama temen-temen nanti mau ke rumah sakit. Kalian ikut aja sekalian. Denger-denger yang ngeroyok itu banci yang suka mangkal di minimarket deket kosnya."

"Okelah. Kami ikut!"

Pukul 4 sore, Salim dan para paparazzi tiba di rumah sakit. Mereka masuk ke kamar tempat Ery dirawat. Di dalam ternyata ada Juna yang sedang menungguinya. Juna adalah teman sekamar Ery dan dialah yang membawa Ery ke rumah sakit. Dia adalah salah satu "ikhwan" kampus.

"Jun, Ery kenapa?" Tanya Erika.

"Dia dikeroyok oleh para banci.."

"Kenapa bisa? Memangnya dia ngutang ato gimana?"

"Engga, dia hanya membela diri. Kalian tau kan, kalo di kampus agak rame memberitakan si Ery punya kelainan? Ternyata itu terdengar oleh geng banci. Mereka nggoda Ery sewaktu dia mau beli keperluan di minimarket. Ery ngga mau, tapi tetep dipaksa. Akhirnya kejantanan para banci itu keluar. Mereka ngeroyok Ery yang sendirian, temen-temen banci yang lain juga diundangnya. AlhamduliLlaah warga sekitar datang walau agak terlambat."

"Ery..." Panggil Yudha dengan wajah menyesal karena telah menganggapnya mempunyai kelainan.

"Maafin gue, Ry. Lu bener-bener jomblo beriman, gue akui." Kata Adit di dekat Ery.

"Kenapa kondisinya bisa separah ini, Jun??? Kapan Ery akan sadar??" Tanya Erika seperti akan menangis.

"Aku juga ngga tau, Mbak. Tapi sebelum kejadian, Ery keliatan banyak pikiran, ngga kaya biasanya. Kondisi badannya juga ngga fit." Jawab Juna. "Padahal, dia berniat mau mengajak kalian untuk menjadi jomblo, mumpung bulan Ramadhan katanya." Lanjutnya.

"Mengajak menjadi jomblo????"

"Iya, dia cerita sama aku."

"Bingung dah gue."

Para paparazzi terus memantau kabar Ery. Di hari kelima ia dirawat, akhirnya ia sadar. Terlihat olehnya ibu dan Juna berada di sampingnya.

"Ery, kamu sudah sadar, Sayang..AlhamduliLlaah.." Kata ibunya.

"Mama.." Kata Ery sambil berusaha tersenyum.

Di hari ke tujuh, kondisinya mulai membaik. Paparazzi datang kembali ke rumah sakit.

"Eryyyyyyyy!!!!!!!!" Seru para paparazzi.

"Kita kangen eluu tau!!!!"

"Hey paparazzi. Apa kabar kalian???"

"Gue kesepian tanpa elu, Ry!" Jawab Erika.

"Gue juga, ngga ada yang gue panggil jomblo di kampus. Rasanya kaya hambar." Jawab Adit. "Gimana kondisi lu???"

"Aku baik-baik aja, AlhamduliLlaah.." Jawab Ery sambil tersenyum kalem.

"Kata Juna, lu mau ngajakin kita jadi jomblo pas Ramadhan ya, Ry? Ciyus???" Tanya Yudha penasaran.

"Hehehe, dasar. Kalian ngga berubah yahh! Iya, Yudh. Ramadhan ini aku mau ngajak kalian ke jalan yang udah membuatku tenang. Menjadi jomblo.."

"Apaan sih lu dah ah. Ngajak tuh yang baik-baik."

"Jomblo itu baik tau! Daripada pacaran kaya kalian.."

"Ciyus?? Miapah??"

"Alay kamu. Hehe. Sebenarnya aku berniat mulai awal Ramadhan mau ngajak kalian buat ikut kajian. Kajian itu membuat hidupku lebih tenang dan aku ingin kalian merasakannya juga. QadaruLlaah, ternyata aku tertimpa musibah dipukuli orang-orang itu. Padahal aku berniat membeli perlengkapan untuk mengundang kalian.."

"Bahasa lu berubah banget. Kesambet Ustadz mana lu Ry?" Ketus Yudha.

"Aku ngga kesambet, Yudh."

"Kajian sama siapa, Ry? Kajian apaan deh?"

"Kajian agar kita menjadi Muslim bahagia. Salah satunya bahagia menjomblo."

"Pffft..jomblo bahagia. Ada-ada aja lu."

"Eh, Ry. Jawablah pertanyaan kami sejak dulu, kenapa lu betah menjomblo gitu???"

"Saudaraku fiLlah. Sebenarnya aku ingin memberitahu alasanku. Tapi kalo aku mau ngejelasin, kalian sukanya pergi gara-gara ngga suka diceramahin. Akhirnya aku niat bikin postingan di blog, tapi masih ada di laptop. Kalian baca aja di laptopku yaa."

"Oke oke, sini."

Erika adalah orang yang pertama kali membaca tulisan Ery. Selesai membaca, wajahnya tampak pucat. "Pacaran adalah Jerat Setan", itulah judul tulisan itu. Ery menuliskan kejadian yang ia alami sampai kegundahannya. Kemudian Erika memandangi Ery. Rambut panjangnya yang terurai ia gunakan untuk menutup wajahnya.

"Ry..."

"Nape lu, Rik?"

"Lu baca aja, boy.."

Kemudian Yudha dan Adit membacanya bersama. Sama seperti Erika, mereka pucat.

"Maaf ya kawan-kawanku.." kata Ery sambil tersenyum manis.

"Ry.."

"Maafin gue. Gue baru tau tentang hal ini. Maafin gue."

"Ngga usah minta maaf, itu pembelajaran buat kita."

"Ry, gue salah! Sebenernya gue yang nyuruh cewek berbaju merah di kantin, Wulan dan lainnya. Itu karena gue malu ada anggota geng gue yang jomblo.." Kata Adit penuh penyesalan. Mukanya benar-benar pucat.

Ery nampak kaget. "AstaghfiruLlah..Dit."

"Maafin gue juga, Ry. Gue juga ngedukung Adit.." Kata Erika.

"Hmmmm. Yaudah ngga papa. Asal jangan diulangi lagi.. Ini kok kaya di drama-drama aja ya? Kaya di tv. Hehe."

"Makasih Ry. Ya, namanya juga hidup di ibukota, Ry.."

"Ry, gue pengen ikut kajian.."

"Bisa Rik. Tapi kajian kamu buat wanita ya, ngga bareng sama aku."

"Kalo gitu nikahin gue aja Ry, biar gue bisa ngaji sama lu!"

"Erika!!!!" Kata Yudha dan Adit kaget.

"Wah, maaf Rik. Aku ngga bisa."

"Ehehe, gue juga bercanda kok."

"Baydewey,, alasan apa sih Ry, yang buat lu istiqomah menjomblo????"

"Gini, dulu pas SMA aku pernah suka sama cewek. Dia cantik dan kalem. Waktu itu dia punya pacar. Dalam hatiku, aku mau macarin dia. Nunggu dia putus sama pacarnya. Tapi ternyata cewek itu dihamili. Aku kecewa banget. Gara-gara itu aku murung. Dan tingkahku itu ketauan sama mamaku. Beliau memberiku nasihat agar jangan pacaran sebelum gue dewasa. Dan wanita itu, lupakanlah. Dia bukan wanita baik-baik. Beliau menjelaskanku panjang tentang cinta."

"Lu kok kuat ya? Padahal kan lu gaul ama kita-kita.. Yang kita sering bawa gebetan kita kalo kita kumpul-kumpul.."

"Entahlah.. Mungkin karena aku takut kecewa seperti dulu.. Tapi, aku juga tidak mau melawan kata-kata ibu. Sebenernya godaan itu gede banget! Dulu aku lagi di jalan, ada anak SMA ngegoda gue. Anaknya cantik sih. Tapi murah banget. Masa' mau dikencani asal ngasih 50ribu??? Nawarin diri lagi. Dan karena itu, aku nyari ketenangan spiritual. Aku ketemu sama ikhwan-ikhwan kampus. Aku ikuti kajiannya. Ternyata pacaran itu ngga boleh.. Maaf, akhir-akhir ini aku memang berubah menurut kalian, aku sedang menenangkan diri di kajian."

"Ery.."

"Kalian juga pasti tau kan, gaya pacaran anak zaman sekarang?? Banyak cewek yang menjual diri, banyak laki-laki hidung belang, hanya kesenangan yang mereka cari. Seolah hidup hanya untuk uang, uang, dan uang. Banyak pula laki-laki yang bisa memacari tapi tak mau menikahi..itulah lelaki pengecut!"

"Berarti gue pengecut dong?!" Tanya Adit kaget.

"Maaf, Dit. Jawab sendiri aja."

Paparazzi terdiam. Akhirnya pertanyaan mereka sekian lama terjawab sudah. Selain mendapat jawaban, mereka juga mendapat pelajaran dalam hidupnya.

"Kita ini pemuda, generasi masa depan, penerus. Sayang sekali kan kalo masa ini kita sia-siakan dengan pacaran?? Dan sebagai generasi harapan, harusnya kita bentengi diri dengan akhlaq."

Saat mereka berbincang, datang seseorang.

"Salaamu Alaykuum."

"Wa'alaykumussalaam."

"Kayfa haluk, Akh Ery??" Sapa seorang bapak yang tak dikenal paparazzi.

"AlhamduliLlah khayr." Jawab Ery sambil tersenyum.

Paparazzi bengong melihat kehadiran bapak berjenggot tebal itu.

"Temen-temen, kenalin, beliau Pak Fuad."

"Salaam."

"Siapa Ry??"

"Calon mertua, inshaAllah.." Jawab Ery tenang.

"Aapppppaaaahhhhh??!!!!??!!" Kata paparazzi kaget.

"Kenapa? Maaf belum sempat memberitahu. Niatnya aku mau nikah awal Ramadhan, tapi batal karena kejadian ini."

"Ery bigot jomblo..." Kata Erika dengan tatapan kosong.

"Eh, kalian puasa kan???"

Teman-temannya bengong.
"Kadang, Ry.." Jawab Yudha.

"Puasa itu wajib, ngga bisa ditinggal kalo ngga ada halangan!"

"Gue ngga tau Ry.."

"Makanya mulai sekarang puasa."

"Iya Ry.."

Ramadhan yang menakjubkan, itulah kata Ery. Walaupun ia tertimpa musibah dan batal menikah, tapi ia bahagia karena para paparazzi sedikit demi sedikit berpindah haluan. Erika sekarang mengenakan jilbab. Yudha dan Adit ikut LDK Kampus. Dan mereka adalah orang berpengaruh di kampus. Ery berharap mereka bisa menjadi bigot jomblo beriman berikutnya.

Di Ramadhan selanjutnya, Ery telah memiliki anak. Dan panggilan jomblo kini melekat untuk Adit dan Yudha. Kehidupan dunia ini sungguh adil.

Hey MAHAsiswa !!!!!!!!!


“AlhamduliLlaah lulus!!”
“AlhamduliLlaah diterima !!”

Kata pertama adalah ketika lulus UN, kata kedua adalah ketika diterima di perguruan tinggi impian. Hampir semua atau mungkin semua siswa ingin meneriakan kata itu, walau berteriak dalam hati. Kata pertama berhasil diucap, tinggal menunggu penuh harap untuk kata kedua.

SNMPTN Tulis. Tes masuk PTN yang diikuti oleh banyak siswa yang baru lulus atau yang pernah lulus. Tentu saingan banyak, dari yang pandai, sedang, miskin dan kaya. Oiya, sebelumnya aku ucapkan kepada sahabat semua yang telah diterima di PTN/PTS impian :) tapi tetap baca sampai selesai yaa,, ada hal yang ingin aku sampaikan untukmu ;)

Saat selesai mengikuti tes SNMPTN Tulis beberapa minggu lalu, aku menanyakan pada teman-temanku, “gimana tesnya, bisa dijawabin semua ngga?”
dan kebanyakan dari mereka menjawab, “susaaahh dew..”

Yang aku rasakan sih emang kaya' gitu. Soalnya sama yang aku pelajarin ngga jodoh. Hehe. Tapi sahabat, optimis haruslah tetap. Satu hal yang bisa diambil dari percakapan di atas,
Kebanyakan sahabat kita juga susah mengerjakannya, sama seperti kita. Hasil tes tidak dipublikasikan. Itu berarti harapan kita diterima masihlah besar. Jadi, tidak patutlah kita pesimistis. :)
Andaikan kita belum diterima, percayalah itu yang terbaik untuk kita. Karena kita sudah berusaha. Yakin, Allah telah menyiapkan tempat yang lebih baik.

Ada kisah dulu dari kakak kelas kita. Beliau ingin menjadi guru bahasa inggris. Oleh karena itu, beliau harus mengikuti tes di bidang studi IPS, padahal beliau IPA. Sepuluh hari sebelum hari H, beliau baru belajar. Dan kawan-kawannya ada yang nyinyir, “hah 10 hari lagi baru mau belajar?? Oalah..”
tapi dalam hati kakak kelas kita ini, ada keoptimisan, “walaupun tinggal 10 hari ngga apa, aku harus berusaha lebih lagi. Lihat saja nanti.”

hari H, karena harus memilih dua program studi, beliau akhirnya memilih Akuntansi di pilihan pertama, walau niatnya ada di pilihan kedua yaitu pendidikan bahasa inggris.

#jengjengjeng

pengumuman, ternyata beliau diterima di jurusan akuntansi !! Beliau ngga sedih. Karena dulu dalam doanya,
“Ya Allah, tempatkan aku di tempat yang terbaik untukku dan agamaku”
dan Allah mengabulkan. Allah memberi apa yang terbaik untuk kita, bukan apa yang kita ingini. Ternyata di jurusan itu beliau menemukan teman-teman yang luar biasa. ;)
nah

Ada juga motivasi dari kakak kelas kita yang lain. Jika sebelum tes kita belajarnya dirasa kurang, harapan haruslah lebih besar. Seperti saat perang Badar, RasuluLlah shallallaahu'alayhiwassallam dan para Shahabat radiyaLlaahu'anhum diserang tanpa persiapan. Bermodal keyaqinan dan harap besar padaNya, akhirnya pasukan RasuluLlah pun menang. So, jangan pesimis.


Mari Luruskan Niat
Sahabat, kita kan ngarep banget nih diterima di kampus idaman.. Itu sebenernya buat apa sih? Kita mau ngapain gitu disana?
Belajar?
Nggaya?
Nurut ortu aja?
Buat nyari kerja?
Nyari jodoh?
Yahh daripada ngga ngapa-ngapain di rumah..

Pfft..

Belajar tu ngga harus kuliah loh.. Nggaya, kaya' udah bisa nyari duit sendiri aja. Nurut ortu sih iya, tapi masa' kaya' kepaksa gitu.. Lah, ko' nyari kerja? Mahasiswa tu harusnya bikin lapangan pekerjaan donk, kalo bisaa.. Secara, kuliah itu kan makan waktu sama biaya. Jangan nyari-nyari jodoh gitu juga, maksudnya jangan diutamakan ampe fokus belajarnya hilang. Jodoh udah ada yang ngatur ko', persiapkan diri aja. Kan selain kuliah bisa juga ke tempat kursus atau apa kek, pondok pesantren gitu. Muehehehe :D

Tujuannya harus jelas, Kawan :)

Kuliah itu untuk mencari ridlo Allah dan ilmu yang pasti. Sayangnya kebanyakan hanya untuk mencari ilmu untuk dunianya saja. Karena beberapa orang yang aku tanyai jawabnya ngga ada yang nyerempet-nyerempet ke akhirat. WaLlaahu a'lam, semoga saja di hatinya ada. hehe
Semoga kita bukan termasuk pecinta dunia ya :')

Rugi adalah jikalau masa kuliah hanya untuk sekadar formalitas dan dunia semata. Karena kuliah itu tidaklah sebentar. Jika sudah lulus, biasanya akan mencari kerja, bukan membuka lapangan pekerjaan. Kemudian menikah. Kapan kita mencari untuk bekal akhirat ? Karena kita tidak melulu hanya shalat dan shaum Ramadhan, Kawan.

Lihat di seberang sana, banyak sekali Muslim yang membutuhkan. Jangankan yang di seberang, di sini pun ada, bukan? Mereka yang belum punya rumah, mereka yang penuh keterbatasan baik fisik maupun finansial, dan lainnya. Muslim itu kan ibarat satu tubuh, jika yang lain sakit maka kita juga sakit.
Pernah lihat acara TV "Orang Pinggiran", kan ??
 Apa yang kita lakukan? Apakah hanya mendoakan mereka dengan 'berharap' kepada pemerintah? Kita bisa melakukan yang lebih, kan?

Kemarin setelah pengumuman hasil SNMPTN, diri ini melihat banyak tweet berseliweran tentang SNMPTN. Ada yang galau, ada yang senang dan ada yang bernostalgia. Dan yang menarik, ada yang menganggap kuliah (dengan mengikuti tes SNMPTN) tujuan akhir adalah untuk bekerja.
“lulus SNMPTN tu ngga ngejamin dapet kerja nantinya”
“gw ngga kuliah aja bisa kerja”
“kerja tu ngga mesti harus lulus SNMPTN kok”
“kerja itu yang penting bisa buat anak-istri”
dan kicauan senada lainnnya.

Hmmm. Tak rela rasanya jika kuliah yang menyita waktu, tenaga juga dana hanya untuk mencari kerja. Harusnya lebih donk :)
Pastilah ada waktu di kala kuliah untuk bersilaturrahiym dengan saudara Muslim.
Pastilah di perguruan tinggi ada UKM.
Manfaatkan, kawan ! Manfaatkan !
Jangan mau hanya jadi pekerja yang mencari pekerjaan. Jadilah yang memberi lapangan pekerjaan.

Mereka yang tidak kuliah juga ingin bekerja (menjadi karyawan).

Kawan, banyak saudaramu yang tidak bisa kuliah dan mereka butuh pekerjaan. Kalau yang kuliah dan yang tidak kuliah sama-sama mencari pekerjaan, bagaimana ?
Kalau bisa, Kawanku, engkau kuliah dan bukalah usaha. Bantu saudara-saudara kita. Ya, walau ada, yang tidak kuliah bahkan putus sekolah malah menjadi pengusaha yang pekerjanya adalah sarjana. Hehe
Semangat berwirausaha yahh ! ;)


Saudara FiLlah,
di Gaza, Palestina, ada seorang mahasiswi farmasi yang membuat pil anti nyeri tanpa efek samping. Di Gaza, kamu tau kan? Daerah yang sedang dihancurkan oleh israhell, dan penuh keterbatasan. Juga di Palestina, ada yang bisa membuat listrik bertenaga matahari.  Jika dibandingkan Indonesia, tentulah Indonesia lebih aman. Tapi disana mereka bisa mencipta. Bagaimana disini, hey mahasiswa ? ;)
Apa harus berada di daerah konflik untuk mencipta sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak?

Sahabat FiLlah,
kamu resah ngga, pada pemberitaan di media sekuler yang sering sekali memojokkan Islam? Sampai-sampai Islam dicap teroris. Celana cingkrang, bercadar, gara-gara pemberitaan media kan jadi terkesan teroris.. Dan, berita tentang Muslim yang didzalimi pun jarang bahkan tidak pernah terdengar. Kamu tau tentang Muslim Rohingya?
Ngga adil ah emank pemberitaannya.

Sahabat FiLlah,
kamu tau ngga tentang vaksinasi? Katanya sih vaksinasi atau imunisasi tu bikin anak sehat. Nyatanya?
Vaksinasi itu program konspirator agar umur manusia pendek. Dan itu diiyakan oleh seorang dokter dari Barat. Lihat, manusia sekarang rata-rata umurnya segitu-gitu aja. Iya, walaupun sebenarnya umur Allah yang menentukan.

Sahabat FiLlah,
kamu tau ngga tentang ekonomi dunia? Itu pake sistem orang barat. Kapitalis ya. Yang lemah semakin lemah, yang kuat semakin kuat. Riba, ngga boleh secara syariat. Liat tuh, Eropa lagi krisis ekonomi. Ekonomi dikuasai yahudi untuk menghancurkan kita secara perlahan. Pemakaian uang kertas, mungkin sebentar lagi akan kembali menggunakan dinar-dirham. Amerika telah mempersiapkan, kawan. Mereka mengeruk hasil tambang emas Freeport. Kenapa kita biarkan ??

Sahabat FiLlah,
masih ada, banyak PR untuk kita para pemuda. Pemuda harapan ummat. Bukankah?
Semangat dan kekuatan pemuda haruslah lebih tinggi daripada yang tua. Pemuda itu ya usia aqil baligh sampai 40. Dan kita, adalah pemuda yang masih segar. Hehe.

nah Sahabat, setelah membaca tulisan di atas, apa yang kamu pikirkan?
Masih tetap ingin kuliah buat sekadar kerja, formalitas, prestise atau yang lain? :)

Sahabatku,
ganti yukk niat kita, jangan hanya untuk 'sekadar kerja', tapi 'kerja untuk Allah, untuk ibadah, untuk ummat', bukan hanya 'untuk gue'. Hehe
Dari beberapa masalah yang aku tuliskan di atas, ada pula beberapa saran untukmu Saudara Muslimku..

Jadilah Entrepreneur.
Zaman sekarang ini masih ada loh, pekerja yang tidak boleh beribadah sama bosnya. Udah gitu digaji juga ngga cukup lah buat makan sebulan. Rugi dobel donk. Tapi nyatanya mereka emang butuh pekerjaan. Miris juga liat yang kaya gitu. Gimana Saudaraku?
Dengan menjadi entrepreneur, kamu kan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk Saudaramu seiman..agar mereka dapat pekerjaan, juga berkah untuk semua :)
Dengan menjadi entrepreneur, kamu bisa sekalian berda'wah, berjihad, dengan harta dan atau seminar-seminarmu.
Kamu pun bisa menyaingi pengusaha-pengusaha kafir yang nakal, Saudaraku. :)
Saudaraku, ingatlah mereka yang tidak bisa kuliah karena penuh keterbatasan ! Mereka ingin berkecukupan dan mungkin, kebanyakan dari mereka ingin bekerja. Berilah mereka kesempatan itu.

Dokter.
Lihatlah di Palestina, Suriah, Rohingya, Pattani, Kashmir, dan lainnya Saudaraku.. Mereka didzalimi sedemikian keji. Mereka sakit bathin juga fisik. Tentu saja mereka jua membutuhkan tenaga medis.
Seperti juga konspirasi vaksin. Vaksin dicipta, katanya untuk kesehatan anak-anak, nyatanya malah membuat sakit. Ternyata mereka ingin menyedikitkan kita.
Juga, lihatlah. Banyak cara pemurtadan lewat jalur medis. Contohnya di rumah sakit A, seorang anak sakit, dokter mengatakan harus dioperasi dan sayangnya keluarga si anak tidak memiliki uang. Kemudian pihak rumah sakit menawarkan untuk menggratiskan, asal murtad. Bagaimana ?
Dan, ternyata setelah diperiksa di rumah sakit lain, tidak apa. Mau sampai kapan kita dibohongi?

Untuk yang sekiranya mampu, jadilah dokter beriman !


Penulis, Jurnalis.
Tak diragukan lagi, peran media untuk saat ini sangat berperan membentuk pola pikir masyarakat. Misal, teroris adalah jihad. Teroris adalah Muslim bercelana cingkrang, berjenggot, bercadar dan lainnya. Dari kabar yang saya dapat, 90% media dikuasai oleh 'mereka'. Oleh karena itu, banyak tayangan dari mereka mengandung konspirasi, tak mendidik dan anti Islam. Dari mereka juga gaya hidup seperti makanan, fashion, musik dan semacamnya berkembang sangat pesat.
Untuk kamu ketahui Saudaraku.. Kadang tulisan itu bisa menumbuhkan kekuatan tersendiri untuk pembacanya. Juga bisa membentuk pola pikir. Ingat motto mereka, kesalahan yang terus-menerus ditayangkan, akan menjadi kebenaran.

Juga dengan buku-buku karya kaum kafir munafiq, sangat berbahaya. Apalagi untuk orang 'awwam'.

Mari berkarya !

Untuk lainnya, kamu lebih tau tentang dirimu :)


Kamis, 27 September 2012

(CERPEN PERDANA GUA) Baju Lebaran untuk Nanda

Tetangga berjenis wanita yang telah menjadi ibu-ibu sedang ribut-ributnya membeli perlengkapan lebaran, terutama sandang. Sudah menjadi 'adat' para ibu menjelang lebaran memang. Untuk pakaian, para ibu kebanyakan membeli lebih dari satu stel untuk anak mereka. Belum lagi untuk mereka sendiri. Padahal, tidak sedikit diantara mereka mengeluhkan kepada ibuku kalau kondisi keuangan mereka, untuk makan saja susah. Saat ditanya kenapa mereka membelanjakan banyak uang untuk sandang, mereka menjawab kasihan dengan anak-anaknya yang menangis. Kenapa bisa, untuk makan susah tapi membeli baju sedemikian banyak bisa?  Hmm mungkin mereka sedang ketiban durian runtuh, husnuzhan saja lah.

Memang, banyak anak kecil yang merengek minta dibelikan banyak baju terutama saat akhir bulan Ramadhan. Tapi biasanya karena lebaran sebelumnya mereka dibelikan banyak baju, juga karena teman sepermainan mereka demikian. Kalau dihitung-hitung, saat hari biasa kalau ada tukang kredit pakaian, anak-anak itu merengek minta dibelikan. Dan sang ibu dengan alasan kasihan membelikan untuk si anak. Tukang kredit datang tidak hanya sekali sebulan, bisa lebih dengan tukang yang berbeda. Kemudian saat lebaran, minimal dua stel pakaian. Sejak kecil anak-anak sudah mempraktikkan gaya hidup hedon! Dan, ini di kampung kecil, bukan kota besar. Haduh.

Kadang aku berpikir, kalau aku tidak bisa bekerja nanti, aku mau jadi tukang kredit pakaian saja. Pasti laku keras, pikirku.

Gaya hedon yang dipraktikkan anak-anak sebenarnya tidak lain adalah hasil didikan orang tuanya, terutama ibu. Dan ibu-ibu biasanya terpengaruh sekitar, juga tayangan televisi. Beruntung sekali aku mempunyai ibu yang tidak suka kongkow bareng tetangga. Jadi, ibuku mendidik anak-anaknya untuk hidup sederhana dan bersahaja. Hehe.
Bukan karena ibuku tak pandai bergaul. Beliau adalah salah satu orang kepercayaan di kampung. Misal akan ada arisan, program pemerintah seperti PNPM dan lainnya, ibuku pengurusnya. Ibuku dikenal banyak orang di kampung dan termasuk 'orang penting'. Maka, banyak pula ibu-ibu yang curhat dengan kondisi keuangan mereka ke ibuku.

“Yan, lebaran sebentar lagi. Kamu mau beli baju baru atau tidak?” Tanya ibuku memecah keheningan.

“Tidak usah, Bu. Bajuku masih banyak, masih bagus. Lagipula, hari-hari ini kan harusnya kita fokuskan untuk beribadah, bukan ke toko baju.”

Ibuku tersenyum, kemudian beliau berkata, “Tapi sudah beberapa lebaran kamu tidak beli lhoo.”

“Tidak apa, Bu. Aku bukan anak kecil.”

“Padahal kalau kamu mau, ibu akan memintamu ke toko sekalian membelikan baju untuk adikmu. Karena lebaran tinggal tiga hari, jadi stok baju di tukang kredit tinggal sisa. Kalau pergi ibu tidak sempat, ayahmu tidak bisa ditinggal lama-lama oleh ibu.”

“Nanda tidak usah dibelikan saja, Bu. Dua bulan yang lalu kan dia sudah beli.”

“Tapi dia masih kecil, Yan. Teman-temannya semua beli.”

“Kecil bukan berarti tidak dewasa kan, Bu? Mulai lebaran ini, Nanda tidak usah dibelikan baju baru. Ini untuk melatihnya agar tidak manja. Aku tidak mau Nanda seperti anak tetangga. Beli baju banyak stel, kalau tidak dibelikan ngamuk. Lebih mementingkan baju daripada shaum dan tilawah. Jangan-jangan nanti Idul Fitri hanya jadi ajang pamer baju bagus.” Jawabku meledak-ledak karena teringat tingkah anak tetangga.

“Iya, Yan. Tapi ibu merasa kasihan. Karena ayahmu sakit, jadi waktu ibu untuk Nanda dikurangi. Ibu hanya ingin membuatnya senang.”

“Tapi Bu, bukankah ini akan memengaruhi kondisi psikisnya? Ayah sedang sakit, pemasukan untuk keluarga berkurang, ibu harus selalu di samping ayah. Biarkan Nanda mengerti kondisi ini, Bu. Biar dia tidak manja. Mungkin untuk membuatnya senang, ibu bisa membuat kue kesukaannya untuk lebaran.”

Ibuku terdiam sejenak. Naluri seorang ibu, pasti ingin membahagiakan anak walau bagaimanapun keadaan.

”Ya sudahlah.” kata Ibuku mengiyakan.

“Lagipula, apa ibu punya uang cukup untuk membeli baju?”

“Ibu punya tabungan sedikit, niatnya akan ibu gunakan untuk membeli baju untukmu juga Nanda.”

“Kalau begitu simpan saja, Bu. Buat persiapan jika ada keperluan mendadak, mengingat kondisi kita sekarang. Aku yakin Nanda akan mengerti.” Aku mencoba membujuk ibuku, padahal sebenarnya aku tidak yakin Nanda akan mengerti, dia masih kecil memang.

Ibuku tersenyum, kemudian beliau menuju kamar karena ayah memanggil. Ayahku sakit sejak sebelum Ramadhan, beliau tidak bisa bergerak banyak, badannya lemas dan lemah. Oleh karena itu, ibuku selalu mendampingi.

Esok hari tanggal 17 September 2012, aku menemui Nanda.

“Nan, kalau lebaran ini kamu tidak pakai baju baru tidak apa-apa kan?”

Nanda terdiam sejenak. Ia memandang ke bawah.
“Tidak apa, Mas. Nanda kan shaumnya ada yang bolong. Jadi, Nanda pantas tidak mendapat hadiah..” Katanya lirih.

Aku kaget mendengar jawabannya. Aku tidak menyangka ternyata adikku bisa berpikir sejauh itu. Nanda memang bolong shaum, tapi itu karena dia sakit.

MashaAllah.” Ucapku dalam hati.

“Nanda, tidak apa kamu tidak shaum karena kamu sakit. Asalkan jangan bolong shaum karena malas. Berhubung hari-hari ini terakhir Ramadhan, kita maksimalkan terus ibadah kita ya. Biar Allah yang memberi kita hadiah.”

“Iya, Mas.” Jawab Nanda dengan wajah imutnya.

Aku seperti menyesal karena telah membujuk ibu untuk tidak membelikan baju untuk Nanda. Karena ternyata Nanda memang tidak seperti anak-anak tetangga. Aku menceritakan percakapanku tadi kepada ibuku. Ibuku tersenyum sumringah.

“Maafkan aku, Bu.”

“Tidak apa, Yan.”

Dalam hati, aku ingin sekali memberikan hadiah untuk Nanda, besok. Karena tinggal besok saja hari sebelum lebaran. Ku buka dompetku, AlhamduliLlah ada tiga lembar uang Rp 50.000,-. Sekiranya cukup untuk membelikan sesuatu untuk Nanda.

Aku berangkat dari rumah pagi berharap jalanan sepi, ternyata salah. Sejak pagi pun jalanan sudah ramai seperti di kota. Seharusnya 30 menit sudah sampai ke toko, tapi karena terlalu ramai, satu jam lebih baru sampai. Belum cukup hanya itu, di tempat itu aku harus berdesakan dengan orang-orang. Karena terlalu ramai, aku mencoba menarik diri dulu.

Setelah cukup lama menunggu dan bosan, bukannya tambah sepi, malah semakin ramai saja. Aku memaksakan diri masuk. Aku memilihkan baju untuk Nanda. Ketika aku mengecek saku celana, tidak ada dompetku. Aku panik. Aku baru ingat ternyata dompetku masih di laci meja kamar. Akhirnya aku pulang dengan wajah tak puas.

Saat sampai di rumah, ibuku sedang sibuk membuat ketupat dan kue untuk lebaran.
“Habis darimana, Yan?”

“Dari toko baju, Bu..”

Ngapain kamu ke toko baju? Katanya kemarin tidak mau beli?”

“Aku berniat membelikan Nanda baju, Bu. Untuk hadiah dia. Tapi dompet beserta uang tertinggal di rumah. Jadi Nanda tidak aku belikan.” jawabku lemas.

“Ya sudah lah, Yan. Tidak apa-apa.” Jawab ibuku sambil tersenyum.

Aku ingin kembali lagi ke toko, tapi tak tega rasanya melihat ibu bekerja sendiri untuk besok. Pun cuaca mendung pertanda hujan akan segera turun. Lagipula, jika aku kembali ke toko, banyak waktuku akan terbuang. Jadi aku putuskan untuk membantu ibu saja. Maafkan aku, Nanda. Untunglah aku masih mempunyai buku untuk hadiah, buku kisah para nabi. Berharap Nanda akan senang.

Lebaran!
Seperti biasa, kami sekeluarga bangun pagi sebelum shubuh untuk mempersiapkan segala hal. Ibuku paling sibuk. Setelah semua selesai, kami berangkat ke masjid, termasuk ayah. Ayah mantap sekali ingin shalat Ied walau masih sakit. Ibu memakai mukena dari rumah. Nanda terlihat sangat manis dengan mengenakan baju berwarna hijau. Walau bukan baju baru, tapi masih terlihat bagus. Sedangkan aku dan ayah memakai baju koko terbagus yang kami miliki.

Setelah hari mulai siang, satu per satu kerabat datang ke rumah untuk bersilaturrahim. Bibiku datang bersama keluarganya. Bibiku memiliki anak perempuan seumuran dengan Nanda. Nanda senang sekali berkumpul dengan anak seusianya. Karena dirasa sudah cukup, keluarga bibi pamit ke rumah kerabat yang lain, Nanda ikut dan aku membuntutinya.

Mereka berdiam lumayan lama di rumah saudaranya. Rupanya keluarga bibi akan bersilaturrahim ke rumah saudara tertua, kakak ayahku. Nanda tersenyum sumringah ingin ikut dengan berjalan bersama sepupu. Kebetulan sudah lama keluarga kami tidak silaturrahim kesana.

“Nanda, kamu jangan ikut ya. Soalnya kamu tidak pakai baju baru, nanti dikira ini bukan lebaran.” kata bibiku dengan wajah tanpa dosa kepada adikku.

Nanda hanya terdiam dan tersenyum kecut. Rona bahagia menjadi kecewa. Aku langsung menghampiri Nanda dan mengajaknya pulang. Dalam hati sebenarnya aku geregetan sekali. Ingin rasanya menimpali, tapi itu akan membuat suasana keruh, apalagi ini hari Idul Fitri yang baru saja bermaaf-maafan. Tak habis pikir, kenapa orang tua bisa berkata tidak pantas seperti itu kepada anak berusia 7 tahun?? Apa dia tidak memikirkan perasaan anak tersebut?

Sampai di rumah, kami menceritakan kejadian tadi kepada ibu. Ibuku juga kaget, terlihat dari ekspresi wajahnya saat pertama kali mendengar.

“Sudah, sudah. Tidak apa-apa ya. Mungkin bibi ingin Nanda pulang menemani ibu dan ayah.” Kata ibuku menenangkan.

“Bu, aku tak habis pikir kenapa bibi bisa berucap seperti itu. Memangnya kalau lebaran harus pakai baju baru ya? Siapa yang mengatur, Bu? Memangnya ada dalilnya?” Jawabku sedikit emosi.

“Ryan, Nanda, Idul Fitri itu hari kemenangan Ummat Islam. Menang itu memang bukan dengan baju baru. Dan untuk menang bukan perkara yang mudah. Apakah kita menang atau tidak, Allah yang paling tahu. Dan diantara ciri akhlaq seorang Muslim adalah sabar dan bisa menahan amarah. Mendoakan orang yang menjengkelkan juga termasuk. Dan yang wajib tidak lupa dikerjakan.” Kata ayahku yang ternyata mendengar pembicaraan kami.

“Tapi ayah, aku juga tidak habis pikir, kenapa sekarang lebaran hanya sebagai ajang ceremonial? Sepertinya banyak yang masih beranggapan seperti itu, yah. Dan baru saja aku saksikan sendiri.”

“Iya, Ryan. Kita jangan sampai seperti itu. Kalau bisa kita da'wahkan bagaimana harusnya Idul Fitri itu. Ryan sama Nanda tidak marah, kan?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan ayah. Nanda hanya menundukkan kepala.

“Sudah ya. Ini kan hari kemenangan kita, tahan amarah. Mungkin itu karena Allah sayang sama kita sehingga memberi cobaan itu kepada kita. Sayang, itu hanya cobaan kecil. Bandingkan dengan cobaan yang RasuluLlah shallaLlahu'alayhiwassalaam alami. Tidak seberapa.. Idul Fitri, kembali suci. Kita sucikan hati dan pikiran kita. Idul Fitri, hari kemenangan. Ingat-ingat apa saja yang sudah kita perbuat di bulan Ramadhan, ibadah kita bagaimana, shaum, shalat lima waktu, shalat sunnah dan lain-lain. Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tapi ibadah kita untukNya. Jangan ikuti kata orang yang buruk. Oke, begitu ya Ryan, Nanda.. Nanda, sebenarnya Mas Ryan mau membelikan baju untukmu, tapi dompetnya tertinggal. Maafkan ayah ya, selama Ramadhan ayah tidak bisa berbuat banyak untuk kalian.” jelas ayah menenangkan.

Aku terdiam dan teringat kata seorang ustadz, bahwasanya seorang Muslim naik kelas jika dia lulus dari cobaan yang Allah berikan. Dan Allah tidak akan membebani seorang Muslim melebihi kesanggupan. Aku mengingat-ingat apakah Ramadhan tahun ini lebih baik atau tidak. Berharap aku kembali suci, menjadi pemenang dan naik kelas. Dan aku bahagia sekali, ternyata ayahku yang selama ini sakit, begitu bijak dan perhatian.

 Tidak memakai baju baru saat lebaran tak masalah untuk keluargaku, tapi ternyata menjadi masalah untuk orang lain. Seharusnya aku tidak ambil pusing. Karena lebaran ini, keluargaku telah menang tanpa baju baru. InshaAllah..

“Ayah, ibu, Nanda, maafkan aku.. Aku sedikit emosi.”

xp