Pages

Senin, 23 Januari 2012

Pelajaran Dari @Poconggg

@Poconggg, siapa sih yang gak tau. lontong keren zaman sekarang gitu. yang followernya udah nyampe 1 juta lebih tapi 0 following di twitternya, udah bikin buku juga. wew, lontong emang kereeeeeeeeeennnnn :D
nih bukunya


oke, gue mau nyeritain pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari @Poconggg alias si Arief Muhammad ini
sebelumnya, gue kenalin siapa si @Poconggg ini. Akun @Poconggg ini dulunya anonim. isinya ngebanyol gaje. biasanya sih penggalauan buat yang jombloh-jomblohhh. tapi, kata-katanya kreatifff :)
@Poconggg pake bahasa yang sederhana tapi langsung mengena.. penasaran ???? cek aja deh di Poconggg.com ;) *siap-siaplah terbang* :p

imo, @Poconggg lebih lucu yang dulu daripada sekarang. soalnya dulu kan belum ketauan siapa yang punya akun, jadi enak aja kalo diejek. muahheheieoehehahheieha :hammer:
tapi, sekarang kan udah ketauan, katanya sih ganteng.. katanya..
tapi bagi gue sih,, biasa aja :) *tung pentung*



PELAJARAN DARI @POCONGGG
@Poconggg itu mau ngeRT tweet dari followernya walo itu hinaan :o hinaan yang dalleeeeeeeeeeemmmmmmmm bangettttt
@Poconggg itu gak suka berbangga diri
@Poconggg itu gak pandang bulu. siapa yang beruntung ya dia yang di RT :p *gue pernah di RT sekali* :p 
@Poconggg itu bahasanya ringan dan mudah dimengerti
Selain lucu, di tulisan-tulisan @Poconggg juga ada motivasi dan inspirasi :p
#eaaaaa

i love @Pocongggg :D

sekian

Minggu, 22 Januari 2012

kata mereka, AKU LAKI-LAKI...

keren ya judulnya ? :hammer:

hehehe :D

gue lagi keinget aja ama tulisan-tulisan seseorang-seseorang dulu..

jadi gini..

jadi gini lohh..

dulu, ada cewek yang ngirim sms ke gue. gue tau dia cewek soalnya bahasa aL4y :p

oki, gue jujur kalo nama gue itu Dewi xD *padahal biasanya gue gak mau ngasih tau identitas gue* hoho
tapi dianya tetep ngeyel kalo gue itu cowokkkk -_-

pernah lagi ada cowo, ngesemes guwe. soalnya gue lagi gak sadar mencet hape, eh tertelepon -__- pulsa gue :(

sebenernya nelpon tanpa sadar sering gue alami. lagi tidur gue juga bisa nelpon loh ;) pas bangun, gue denger ada suara suara halo halo dari Mbak Mbak -_-
pulsa guee :(

begitulah..
oke, kembali ke cowo yang tadi. gue tau siapa cowo itu. maklum, gue kan intel :)) *plak
cowo itu admin fp di fb yang admin lainnya bikin gue eneegggggg :v

haha
dia ngesms tanya siapa nama gue, kok nelpon.
gue jawab "dewi. oh tadi kepencet gak sadar"
eh dianya bales, "anak mana?" biasa lah, anakk alay zaman sekarang tanyanya ya nama sama kota. ngefek gitu ? -_- *lempar sendal*

gue jawab, "bumi."
eh dia ngebales lagi, "nama qm capa yg asli?"

pas gue jujur, gue gak dipercaya :( nama gue Dewi..

aku jawab, "nama gue dewi oyy !"
dia jawab, "ah,, boongk qm. qm pzthi cowo !"


gue ngakak dulu gan :))

gue bales lagi, "cowo darimananyaaaaaaaaaaaa ??"
cowo alay bales, "dari gaya tulisan qm."

xD LOL
ROFL
LMAO
errrrrrrrrrrrrrrrrrr

asli pas baca itu gue ngakak gan :)
apa tulisan seorang wanita itu harus aL4y ???? :)))

 hehe, 
kalo gak salah, dulu kata Kak Edwin, gaya tulisku memang agak atau mungkin sudah persis laki-laki. dan bukan cuma Kak Edwin yang bilang -_-"

Kak Wisnu juga bilangnya gitu -_-"

dan bukan cuma mereka, ada lagi sih..

dulu gue juga pernah tanya ke temen kelas, gue lagi minta kritik.. gue sms ke semua temen kelas yang gue punya nomor hapenya.. ada yang ngebales,
"dewi, maaf sebelumnya.. tapi kayanya kamu itu tomboy apa ya ??"

*jleb* 

:))

iya, dulunya gue emang agaknya tomboy..
tapi sekarang gak kan ???
walo bahasa tulisnya tetep ??? 
:)

sebenernya sih gapapa gue dianggep laki-laki..
kaya gue dulu pas awal-awal fesbukan, pake nama Dewey, tapi seringggg banget dipanggil Bro. aku gpp kok. aku seneng :)

soalnya dengan itu, mungkin temans bisa "jaga hati" sama gue yang kalem ini ;P
#apadeh

Dewi, 17 tahun, wanita perkakas #eh Perkasa maksudnya -_- :P

penggunaan ucapan SUBHANALLAH dan MASHA ALLAH

bismillaahir rahmaanir rahiym..
Berikut kultwit dari Gurunda Salim A Fillah  pada tanggal 29 11 2011

dari Gurunda @salimafillah

1. Secara umum, menyebut asma Allah & berdzikir kepadaNya ialah kebaikan tertuntunkan. Menyertakan Allah dalam tiap kejadian adalah niscaya.

2. Dan tiap penyebutan nama Allah yang bermakna khusus tentu memiliki tempat sesuai tuntunan. Semisal; Istirja' diucap saat kita bermusibah.

3. Nah; bagaimana dengan ucapan "SubhanaLlah" & "MasyaaLlah"? Ada 2 yang mengikatnya; tuntunan Quran-Sunnah & kebiasaan dalam Bahasa Arab.

4. Al Quran menuturkan; SubhanaLlah digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. "Maha Suci Allah dari mempunyai anak, dari..

5. ..apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dll." Ayat-ayat berkomposisi ini sangatlah banyak. Juga, SubhanaLlah digunakan untuk..

6. ..mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik (QS 34: 40-41), dihinakannya Allah tersebab kita (QS 12: 108) dll.

7. Bukankah ada juga pe-Maha Suci-an Allah dalam hal menakjubkan? Uniknya, Al Quran menuturnya dengan kata ganti kedua (QS 3: 191), atau..

8. ..kata ganti ketiga yang tak langsung menyebut asma Allah (QS 17: 1 dll). Sedangkan ia juga terpakai pada; me-Maha Suci-kan Allah dalam..

9. ..menyaksikan bencana & mengakui kezhaliman diri (QS 68: 29), menolak fitnah keji yang menimpa saudara (QS 24: 16). Bagaimana Hadits-nya?

10. "Kami apabila berjalan naik membaca takbir, & apabila berjalan turun membaca tasbih." (HR Al Bukhari, dari Jabir). Jadi "SubhanaLlah"..

11. ..dilekatkan dalam makna "turun", yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya..

12. ..tuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Allah SWT dilekatkan padanya. Adalah Gurunda @ kupinang..

13. ..yang pernah memiliki pengalaman memuji seorang Gurunda lain nan asli Arab dengan "SubhanaLlah", kemudian mendapat jawaban tak dinyana.

14. "AstaghfiruLlahal 'Adhim; 'afwn Ustadz; kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan ana; tolong segera Ant luruskan!", kira-kira demikian.

15. Bagaiamana simpulannya? Dzikir tasbih secara umum adalah utama, sebab ia dzikir semua makhluq & tertempat di waktu utama pagi & petang.

16. Adapun dalam ucapan sehari-hari, mari membiasakan ia sebagai pe-Maha Suci-an Allah atas hal yang memang tak pantas bagi keagunganNya.

17. Bagaimana dengan "MasyaaLlah"? QS 18: 39 memberi contoh; ia diucapkan atau kekaguman pada aneka kebaikan melimpah; kebun, anak, harta.

18. Sungguh ini semua terjadi atas kehendak Allah; kebun subur menghijau jelang panen; anak-anak yang ceria menggemaskan, harta yang banyak.

19. Lengkapnya; "MasyaaLlah la quwwata illa biLlah", kalimat ke-2 menegaskan lagi; tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah.

20. Pun demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab; mereka mengucapkan "MasyaaLlah" pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.

21. Demikianlah pengalaman menghadiri acara Masyaikh; & membersamai beberapa yang sempat ke Jogokariyan; dari Saudi, Kuwait, Syam, & Yaman.

22. Di antara mereka ada yang berkata, "MasyaaLlah" nyaris tanpa henti, kala di Air Terjun Tawangmangu, Bonbin Gembiraloka, & Gunung Merapi.

23. Simpulannya; "MasyaaLlah" adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah; dan memang hal indah itu dicinta & dikehendaki oleh Allah.

24. Demi ketepatan makna keagunganNya & menghindari kesalahfahaman; mari biasakan mengucap "SubhanaLlah" & "MasyaaLlah" seperti seharusnya.

25. Membiasakan bertutur sesuai makna pada bahasa asli insyaaLlah lebih tepat & bermakna. Tercontoh; orang Indonesia bisa senyum gembira..

26. ..padahal sedang dimaki. Misalnya dengan kalimat; "Allahu yahdik!". Arti harfiahnya; "Semoga Allah memberi hidayah padamu!" Bagus bukan?

27. Tetapi untuk diketahui; makna kiasan dari "Allahu yahdik!" adalah "Dasar gebleg!" ;D Jadi, mari belajar tanpa henti & tak usah memaki;)

28. Demikian Shalih(in+at), bincang tentang "SubhanaLlah" & "MasyaaLlah"; moga manfaat. Harap menyimak dari no (1) agar tak keliru. Salam:)

Senin, 16 Januari 2012

kenapa harus CANTIK, bukan TAMPAN???


Bismilaahir rahmaanir rahiym..

AsSalaam Alaykum.. :)

Sobat gue,
pernah gak sih kepikiran, “kenapa harus dengan kata CANTIK, bukan TAMPAN ???”
Memangnya di dunia ini hanya ada wanita ???
Ummm,,

Misalnya seperti ini, “Liverpool bermain cantik saat melawan emyu.”
Kenapa gak kaya gini coba, “Liverpool bermain tampan saat melawan emyu.”
Ato misalnya kaya gini, “Goal cantik untuk Liverpool dicetak oleh Gerrard !!”
Kenapa gak “Goal tampan untuk Liverpool dicetak oleh Gerrard !!”

*bernafas*

Begitu juga dengan hati..
“percantiklah hatimu, niscaya kamu akan dapat yang baik pula.” *maksa

dan biasanya, kalo buat ikhwan cantiknya diganti dengan baguskan, perbaikki.
Kenapa gak “pertampanlah hatimu, maka kau akan dapat yang baik pula.”
Hadehhh :D

*duduk di bawah shower*

Pas gue ngetweet kaya diatas, gue dapet jawaban, katanya

“secara fitrah kata cantik itu sering dinisbatkan kepada hal-hal yang indah, dinamis dan lainnya yang biasanya melekat pada wanita.. dan kata cantik sendiri pada dasarnya disifatkan pada wanita”

Muehehe, masuk akal juga sih :) *benerin kerudung*

“gue tau, gue gak seTampan Krisztian Nemeth, Steven Gerrard, Elijah Wood atau siapa lagi.. dan gue berusaha untuk mempertampan hati gue.. kalo hati gue tampan, yang lainnya pun pasti tampan.. dan Tuhan gue, ALLAH, gak milih orang yang baik berdasar rupa, tapi hati :))

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa dan harta-harta kalian, tapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian.”
(HR Muslim)


Jadi, tampankan hati gue ! #eaaaa
Biar ‘nanti’ dapet yang tampan hati jugak ;P #eaakkk *ditimpuk bunga* *bunga rafflesia arnoldi* *mulai galow*

Fufufufufufuufff ada yang mau nambahin ?????????????

Dewi, 17 tahun, bukan alay


Kamis, 12 Januari 2012

HAKIKAT ILMU TASAWWUF

oleh @sufimuda

Tentang hakikat ilmu tasawuf yang tidak dipelajari lewat bacaan dan hapalan tapi langsung kedalam hati
 

Pernyataan di atas seolah-olah pengamal tasawuf anti membaca dan anti belajar, sebenarnya tidak demikian...


Baik, saya mulai dengan Bismillahirrahmanirrahim....

1. Allah Berfirman : "Pikirkanlah ciptaan-Ku dan janganlah engkau pikirkan Dzat-Ku. #Sufi


2. Ini bermakna bahwa Allah memerintahkan kita untuk mempelajari seluruh hal yang berhubungan dengan hasil ciptaan-Nya.


3. Segala sesuatu yang berhubungan dengan ciptaan-Nya bisa dipelajari dan diteliti untuk diambil manfaat. #Sufi


4. Allah melarang kita untuk berfikir atau meneliti tentang Dzat-Nya. Kenapa? #Sufi


5. Karena Dzat Allah itu memang diluar jangkauan akal pikiran manusia dan mustahil akan bisa menyentuhnya. #Sufi


6. Itulah sebabnya para pencari Tuhan yang menggunakan akal pikiran akan mengalami jalan buntu sebelum sampai tujuan. #Sufi


7. Cara berhubungan dengan Allah Yang Maha Tinggi harus menggunakan dimensi yang lebih tinggi dari akal yaitu Qalbu. #Sufi


8. Qalbu yang telah dibersihkan dengan #Dzikir akan mampu menangkap cahaya Tuhan. #Sufi


9. Tidak ada yang bisa sampai kehadirat Tuhan kecuali cahaya-Nya sendiri. #Sufi


10. Ketika Qalbu telah bersih, maka darisanalah kita mulai berhubungan dengan Allah SWT. #Sufi


11. "Sesungguhnya Qalbu orang beriman itu adalah Baitullah (Rumah Allah)". #Sufi


12. Itulah makna "Allah lebih dekat dari urat leher", Dia bersemayam di qalbu orang beriman... #Sufi


13. Nabi Bersabda, "Matikanlah dirimu sebelum engkau mati". #Sufi


14. Ketika kita telah mengalami "Mati Sebelum Mati" barulah segala pintu gaib akan terbuka. #Sufi


15. "Mati sebelum mati" bukan berarti nafas berhenti dan badan terbujur kaku. #Sufi


16. Mati sebelum mati yang dimaksud adalah akal pikiran tidak dipakai untuk menelaah Dzat Tuhan. #Sufi


17. Ketika telah sampai kepada tujuan, barulah akal pikiran bisa menganalisa segala yang dialami. #Sufi


18. Tidak benar kalau sufi itu tidak mau berfikir dan anti belajar seperti yang dituduhkan selama ini. #Sufi


19. Para Guru Sufi ada yang Profesor, Ahli Fiqih dan banyak pengamal tasawuf yang cemerlang pikirannya. #Sufi


20. Mereka menggunakan akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah bukan untuk menerka nerka Allah. #Sufi


21. Teori Tasawuf yang ditulis termasuk apa yang saya tulis tidak akan bisa mewakili "Rasa" dari Tasawuf yang sebenarnya. #Sufi


22. Setiap kita mempunyai pengalaman spiritual masing2 yang tidak mungkin bisa terungkap lewat kata. #Sufi


23. Setebal apapun buku yang menceritakan tentang enaknya buah apel tidak akan bisa memindahkan rasanya. #Sufi


24. Karena Tasawuf adalah dunia rasa, maka tentang rasa tidak ada perdebatan sama sekali. #Sufi


25. Si A yang telah mengalami rasa, ketika bertemu dengan si B yg juga mengalami hal yang sama akan bisa berbagi cerita. #Sufi


26. Walaupun berbeda Guru Mursyid, dunia tasawuf itu disatukan oleh rasa yang sama. #Sufi


27. Jangan anda mengajak orang yang telah "Merasakan" untuk berdebat tentang Tasawuf karena dia tdk akan meladeni anda. #Sufi


28. Tulisan2 tentang Tasawuf itu diperlukan untuk memberikan gairah kepada kita semua untuk tetap istiqamah. #Sufi


29. Pengalaman tokoh sufi yang tertuang dalam buku memberikan hikmah dan pelajaran untuk para pembacanya. #Sufi


30. Buku2 tasawuf bukan dijadikan sebagai pedoman untuk mempraktekkan dzikir dan amalan secara sendiri2. #Sufi


31. Untuk mempraktekkan amalan tasawuf, anda wajib mempunyai Guru Mursyid yang akan membimbing anda. #Sufi


32. Tanpa Guru Mursyid maka ajaran2 Tasawuf tidak memberi manfaat malah akan menyesatkan. #Sufi


33. Tentang makna Tasawuf sendiri ada banyak pendapat. Seorang pengamat Tasawuf mengatakan ada 78 definisi. #Sufi


34. Yang lebih penting dari sekedar makna adalah mengamalkan ajarannya. #Sufi


35. Ibnu Khaldun menyatakan, “Banyak yg berusaha mengungkapkan arti tasawuf dgn kalimat yg general dgn memberi keterangan maknanya, #Sufi


36. "tetapi tidak satu pun pendapat yg tepat. #Sufi


37. Di antara mereka ada yang mengunkapkan kondisi-kondisi permulaan..ada yang mengungkapkan kondisi-kondisi akhir. #Sufi


38. ada yang mengungkapkan pertanda saja..ada yang mengungkapkan prinsip-prinsip dan dasar-dasarnya. #Sufi


39. . Masing2 dari mereka mengungkapkan apa yang ditemukannya dan masing2 bicara menurut derajat spiritualnya. #Sufi


40. Dan masing2 menyatakan apa yang terjadi pada dirinya, menurut pencapaiannya dlm bentuk ilmu, atau amal, #Sufi


41. Berikut pendapat2 para tokoh sufi tentang makna Tasawuf. #Sufi


42. Ma’ruf Al-Kurkhi mengatakan, “Tasawuf adalah mengambil hakikat-hakikat dan tidak tertarikpada apa yang ada ditangan makhluq. # Sufi


43. Junaid mengatakan, “Tasawuf adalah Yang Haq mematikanmu darimu dan menghidupkanmu dengan-Nya". #Sufi


44. Ibnul Jala mengatakan, “Tasawuf adalah hakikat yang tidak punya bentuk.". #Sufi


45. “Ketunggalan ego yang tidak diterima oleh seseorang dan tidak menerima seseorang". (Al Hallaj) #Sufi


46. Definisi tasawuf yang lain bisa dibaca di buku2 tasawuf... #Sufi


47. Mudah2an penjelasan di atas bisa dipahami, salam #Sufi

Aku Terpaksa Menikahinya


PERHATIAN !!!!!!!!!!

BACA DI TEMPAT SEPI !!

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.

Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, Ibu. Apakah ibu istri dari Bapak Armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.
Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci. Gimana ya, Bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
http://www.fimadani.com/aku-terpaksa-menikahinya/

Sabtu, 07 Januari 2012

Nasihat Persaudaraan dari Syaikh Usamah bin Laden dan Ustadz Ba'asyir

bismilah, artikel keren yang men*jleb*kan hatiku yang lemah ini :(

Oleh: Abu Izzudin al-Hazimi

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Mengutip komentar seseorang di sebuah group Facebook tentang Syaikh Asy Syahid (kama nahsabuh) Usamah bin Laden :
"Beliau tidak berkenan jika di dalam majelisnya ada ikhwah yang membicarakan jamaah-jamaah Islam dengan tidak baik, atau menghinanya. Beliau juga tidak memperkenankan di majelisnya diperbincangkan masalah perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara jamaah-jamaah Islam atau menebar isu”.

Beliau selalu mengatakan :
“Di hadapan kita ada hal yang lebih penting dan lebih besar, dan kita ini sedang dalam pertempuran dan peperangan.”

Jika hal itu terjadi dan kemudian ada suatu kezaliman atau hal yang perlu diingatkan pada satu jamaah tertentu, dan ada orang yang menyampaikan kepada beliau dengan mengatakan :
“Mereka ada begini dan begitu, mereka melakukan ini dan itu”,

Maka Syaikh Usamah segera memotong pembicaraannya dengan mengatakan : “Kecuali orang yang dirahmati Allah.”
"Illa Man Rahimahullah : Kecuali orang yang dirahmati Allah” adalah kalimat yang biasa digunakan orang Arab untuk mengungkapkan bahwa tidak semua orang seperti itu, orang yang Anda katakan atau yang saya bicarakan tidak semuanya seperti itu, atau untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai Allah tidak akan seperti itu.

Rahimallahu Syaikhana Abu Abdillah Usamah Bin Laden wa taqobbala minhu syahadatahu wa rofa'aahu fil Firdaus Al A'laa wa alhaqona bihi wa jami'is syuhada'i fi sabilihi
Suatu hari Ustadz Abu Bakar Ba'asyir hafidzahullah menasehati  saya :
"Saat ini moncong senjata musuh-musuh Allah sudah di depan kepala kita, jika memang umat  Islam ini tidak bisa bersatu, setidaknya janganlah kita  malah  semakin memperlihatkan perpecahan itu kepada musuh–musuh Islam sehingga mereka tertawa gembira menyaksikan kita saling mencaci satu dengan yang lain ..!!" 

Ikhwah Fillah, seperti apapun perbedaan di antara kita, mari kita semaksimal mungkin tetap menjaga akhlaq dan adab sebagai sesama muslim. Seorang ikhwah mujahid mengingatkan kepada saya :
"Orang-orang yang telah Allah tempatkan di fron-front maut mempertahankan izzah Islam dan kaum muslimin, berhadapan dengan kaum kuffar jangan dikira mereka bisa sampai ke sana sebelum punya kredit point berupa
 أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
"Bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir". (QS Al Maidah: 54) 

Maka jika di dunia maya ini sebagian ikhwah, kekerasan dan ketajaman lidahnya kok masih terarah kepada saudara muslim. Lantas kapan Allah sampaikan kepada predikat
 يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Mereka berjihad dijalan Allah, ?" 
==========
Allah Azza Wa Jalla Berfirman (artinya) :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)"."Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya Hizbullah  (golongan Allah) itulah yang pasti menang". (QS. Al Maidah: 54 - 56) 

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan  yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah (Hizbullah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung" (yang dimenangkan oleh Allah)". (QS. Al Mujadilah: 22)

Allahumma allif bayna quluubinaa wa wahhid shufuufanaa "Ya Allah eratkanlah hati kami dan satukanlah shaff shaff kami..!!
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS Ali Imran 147)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hasyr: 10) Amien Ya Rabbal Mustadh'afien. [PurWD/voa-islam.com]

PNS BUKANLAH SEGALANYA

bismillah,
lagi jalan-jalan di eramuslim tetiba gue liat postingan keren yang lagi ngelanda gue ama temans.. sayang kalo ilang. copas yak ;D


Oleh Mujahid Alamaya

Beberapa waktu terakhir ini banyak dibuka lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di berbagai instansi pemerintahan. Penerimaan CPNS tersebut disambut dengan antusias oleh Warga Negara Indonesia, termasuk di antaranya beberapa teman saya, baik yang sudah bekerja maupun belum bekerja.

Mereka tidak hanya mengikuti tes CPNS di satu instansi, tapi hampir semua lowongan CPNS yang ada. Selain memang karena kemauan diri sendiri, ada juga yang disuruh orangtuanya untuk ikut tes CPNS. Berbagai cara dilakukan agar bisa lolos tes. Ada yang memang benar-benar murni usaha sendiri, ada juga yang mengambil 'jalan pintas'.

Ketika saya tanya kenapa begitu antusiasnya mengikuti berbagai tes CPNS, beragam alasan dikemukakan. Dibanding dengan bekerja di instansi swasta, bekerja sebagai PNS merasa lebih tenang, karena PNS itu terjamin, gajinya lumayan, tidak bisa dipecat, mendapat dana pensiun, serta berbagai alasan lainnya.

Dan seminggu yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang sahabat mengenai maraknya tes penerimaan CPNS. Ia tidak tertarik untuk mengikutinya. Saat diskusi membahas mengenai alasan-alasan untuk mengikuti tes CPNS, saya mengemukakan alasan tersebut di atas. Dengan santainya ia berkata, "Wah, musyrik dong."

Menurutnya, jika seseorang merasa terjamin hidupnya karena sesuatu hal, dalam hal ini karena menjadi PNS, dan bukan karena Allah SWT, maka ia termasuk musyrik, karena menyandarkan sesuatu bukan pada Allah SWT. PNS bukanlah segalanya. Dengan menjadi PNS, belum tentu akan terjamin hidupnya, karena hanya Allah SWT-lah yang menjamin segalanya.
Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah, "Allah!" dan sesungguhnya Kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (QS. Saba' : 24).

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Huud : 6).

Maka dari itu, bagi yang berlomba-lomba ikut tes CPNS, luruskanlah niatnya. Jadikan pekerjaan kita sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT. Tanamkan dalam diri kita, bahwa dengan menjadi PNS, sesuai dengan tugasnya, adalah untuk mengabdi pada negara, sebagai pelayan masyarakat, dan tentunya tidak melanggar ketentuan Allah SWT.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyat : 56).

http://alamaya.kotasantri.com