Pages

Minggu, 23 Oktober 2011

Fakta 17 Agustus 1945 Yang Tidak Diajarkan di Sekolah

hahah gue pas pertama baca senyum-senyum sendiri..

 Tujuh belas Agustus merupakan hari besar kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, merupakan hari paling bersejarah negeri ini karena di hari itulah merupakan awal dari kebangkitan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan sekaligus penanda awalnya revolusi. Namun, ada beberapa hal menarik seputar hari kemerdekaan negeri kita tercinta ini yang sayang jika belum Anda ketahui.

1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.
‘Pating greges’, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.
Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. ‘Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!’, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

2. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Dibuat Sangat Sederhana
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun!

3. Bendera dari Seprai
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

4. Akbar Tanjung Jadi Menteri Pertama “Orang Indonesia Asli”
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar ‘orang Indonesia asli’. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. ‘Orang Indonesia asli’ pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993)

5. Kalimantan Dipimpin 3 Kepala Negara
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

6. Setting Revolusi di Indonesia Diangkat Ke Film
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, ‘Tahun Vivere Perilocoso’ (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film – dalam bahasa Inggris; ‘The Year of Living Dangerously’. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik2 menjelang peristiwa berdarah th 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

7. Naskah Asli Proklamasi Ditemukan di Tempat Sampah
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

8. Soekarno Memandikan Penumpang Pesawat dengan Air Seni
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.

9. Negatif Film Foto Kemerdekaan Disimpan Di Bawah Pohon
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

10. Bung Hatta Berbohong Demi Proklamasi
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama ‘Abdullah, co-pilot’. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.
Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Dandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa ‘Abdullah’ itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya.’You are a liar!’ ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru.

http://www.fimadani.com/fakta-17-agustus-1945-yang-tidak-diajarkan-di-sekolah/

Kebenaran Tentang SAYYID QUTHB

kebenaran tentang senior saya , Sayyid Quthb

Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah itu adalah manusia biasa yang juga tak terlepas dari cela. memang benar didalam tulisannya ada beberapa kesalahan2, tapi dari beberapa komentar para ulama, Ust. Sayyid Quthb
tidaklah separah yang dituduhkan oleh salafy...

ada banyak kebaikan2 pada diri beliau. adapun yang menjadi hujatan terhadap dirinya oleh kalangan salafiyyun adalah karena kesalahan2 dalam memahami tulisan Ust Sayyid yang menggunakan bahasa sastra yang tinggi. hanya orang2 yang memilik naluri sastra tinggi yang dapat memahami tulisan2 beliau dengan baik. bahkan terkadang hujatan2 itu adalah fitnah...

misalnya, Sayyid dituduhkan menulis begini begono didalam bukunya, padahal ketika di check di buku asli,
Sayyid tidak menulis sbagaimana yg dituduhkan... itulah sebabnya salah satu anggota Hai'ah Kibar Al
'Ulama Saudi Arabiya, Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid, pernah memprotes dengan mengirim surat kepada Syaikh Rabi', karena Syaikh Rabi' mencela dan menuduh Sayyid Qutb dengan tuduhan bahwa Sayyid berpaham wahdatul wujud. Setelah di check oleh Syaikh Bakr, ternyata tidak ada dalam kitab2 Sayyid Qutb yang menunjukkan bahwa beliau berpaham wihdatul wujud. dan sebenarnya yang terjadi adalah Syaikh Rabi' tidak memahami tulisan2 Sayyid Qutb dengan baik.

Berikut adalah teks surat Syaikh Bakr Abu Zaid untuk Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly,


Bismillaahirrahmaanirrahiym

Kepada yang terhormat Saudara Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly

As-salamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh

Saya akan ketengahkan sesuai keinginan Anda tentang bacaan terhadap buku “Al-Adhwa”. Apakah ada catatan-catatan (dari Syaikh Bakr) terhadapnya?
Kemudian, apakah catatan-catatan tersebut memenuhi proyek itu? Apakah catatan tersebut dapat memperbaiki dan meluruskannya sehingga buku itu layak dicetak dan disebarkan menjadi tabungan akhirat Anda sekaligus sebagai bukti bagi siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya?

Ketika saya hendak mencari kesesuaian antara kandungan isi dan tema, ternyata saya menemukan adanya berita yang mendustakan berita lainnya yang berakhir dengan kesimpulan yang mengejutkan dan dapat memalingkan dan menarik pembaca dari kenyataan sesungguhnya tentang Sayyid. Adapun bagi pembaca yang memiliki kemampuan dan ketajaman mata hati, jika ia membaca isi di dalam buku itu, niscaya ia akan mampu memberi sanggahan yang kuat terhadap tulisan Anda dan dapat mengembalikan rasa
rindu terhadap buku-buku Sayyid Quthb.

Pertama, saya telah membaca halaman pertama—
daftar isi dan penamaan tema. Saya menemukan adanya indikasi dalam diri Sayyid Quthb rahimahullah telah terhimpun pokok-pokok kekafiran, ilhad (atheis), dan zindiq. Misalnya, Sayyid Quthb disebut berpaham wihdatul wujud, menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk, membolehkan selain Allah SWT sebagai
pembuat syariat, berlebihan dalam mengingkari sifat-sifat Allah SWT, menolak hadits mutawwatir, ragu
terhadap masalah akidah yang wajib diyakini, mengkafirkan masyarakat Islam, dan tuduhan lainnya yang dapat mendirikan bulu kuduk dan membuat merinding kulit orang-orang beriman!

Anda merasa kasihan dan menyesal atas kondisi ulama Islam di penjuru bumi, lantaran mereka belum
diperingatkan dari ancaman bahaya ini! Namun, bagaimana mungkin bertemu antara tuduhan-tuduhan
itu dan kenyataan bahwa buku-buku Sayyid Quthb telah tersebar seperti tersebarnya sinar matahari dan manusia mengambil manfaat dari buku-buku tersebut hingga Anda datang dengan sebagian buku yang Anda tulis tentangnya?

Sesungguhnya, aku membenci untuk diriku sendiri, untuk diri Anda, dan seluruh kaum muslimin yang biasa berbuat dosa dan durhaka. Sesungguhnya di antara perbuatan keji dan menipu itu adalah mengajak manusia baik-baik untuk ikut memiliki rasa benci dan permusuhan.

Kedua. Setelah saya lihat, ternyata saya menemukan buku itu telah kehilangan prinsip-prinsip pokok kajian ilmiah, seperti obyektivitas, metode kritik, amanah dalam menukil ilmu, dan tidak boleh ada pengurangan terhadap hak orang lain!

Adapun etika berdialog harus memiliki susunan kata yang elok dan cara yang terpuji. Hal itu tidak terdapat
dalam buku Al-Madkhaly yang penuh dengan kebimbangan! Kepada Andalah hal itu seharusnya
diarahkan.

Pertama, menurut yang Anda ketahui, buku-buku Sayyid Quthb rahimahullah yang Anda jadian rujukan itu
telah direvisi penulisnya setelah saya melihat sendiri buku yang dimaksud dalam cetakan lama, seperti “Azh-ZHilal” dan “Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyah”.

Ternyata, anggapan Anda bahwa buku tersebut telah direvisi adalah tidak benar! (Maksudnya, Rabi’ bin
Hadi mengira buku-buku Sayyid yang beliau rujuksudah diperbaiki/direvisi penulisnya sehingga mewakili
pemikiran terakhir dan resmi dari Sayyid. Ternyata, setelah Syaikh Bakr Abu Zaid memeriksanya, buku
tersebut sama sekali belum direvisi. Itu menunjukkan pengkhianatan terhadap amanah ilmu dan penukilan,
peny.). Jadi, wajib mencukupkan diri kepada prinsip- prinsip kritik dan amanah ilmiah yang baik terhadap teks-teks cetakan lama pada setiap buku sebab segala yang terdapat dalam buku yang telah direvisi telah menghapus segala yang tercetak sebelumnya!

Hal itu tidak tertutup, InsyaAllah, atas segala yang telah Anda ta’limatkan tentang Sayyid. Namun, semoga saja hal itu hanya sekedar khilaf dan sungguh Anda telah diberikan ta’limat sebelumnya. Mengapa Anda tidak memahaminya?

Lihat juga dalam hal ini, pandangan-pandangan Ahli Ilmu! Sebagai contoh, buku Ar-Ruh karya Imam Ibnul
Qayyim rahimahullah. Sebagian mereka (Ahli Ilmu) mengatakan, “Semoga buku ini (Ar-Ruh) disusun pada
awal-awal hidupnya!” Demikian pula buku “Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyah” ternyata adalah buku pertama Sayyid Quthb yang bertemakan keislaman pada masa hidupnya. Wallahu Musta’an!

Kedua, kulit dan bulu kuduk saya merinding ketika membaca daftar isi buku itu. Anda menulis, Sayyid
Quthb membolehkan kepada selain Allah SWT sebagai pembuat undang-undang! Saya segera melakukan
pencarian. Saya kumpulkan perkataan-perkataan Sayyid Quthb yang tertulis di dalam bukunya “Al- Adalah Al-Ijtima’iyah”. Ternyata, perkataan Sayyid tidak membenarkan tuduhan yang mengejutkan itu!

Ketahuilah, seharusnya kita memahami betul di dalam buku Sayyid terdapat keterangan yang wahm
(meragukan) atau umum. Bagaimana kita memalingkan keterangan itu serta meruntuhkan segala yang telah
dibangun Sayyid selama hidupnya? Hendaknya kita menetapkan bagi Sayyid bahwa buah penanya adalah bagian dari dakwah kepada tauhidullah dalam hukum dan perundang-undangan dan meninggalkan undang-
undang buatan manusia. Ia berdiri pada jalan yang demikian! Sesungguhnya, Allah SWT mencintai sikap adil dan seimbang atas segala sesuatu dan tidak berpendapat kecuali kembali kepada keadilan dan keseimbangan!

Ketiga, tuduhan lain yang mengejutkan adalah perkataan Anda bahwa Sayyid Quthb berpaham
wihdatul wujud. Sesungguhnya, perkataan Sayyid Quthb rahimahullah masih samar-samar (mutasyabih).
Di dalamnya banyak tersebar susunan kalimat indah seperti tafsir surat Al-Hadid dan Al-Ikhlash. Lantaran tafsirnya itu Sayyid dituduh berpaham wihdatul wujud.
Anda benar ketika mengutip ucapannya dalam surat Al- Baqarah berupa sanggahan yang jelas dan tegas
terhadap paham wihdatul wujud, yaitu ucapan, “Dari sini, pemikiran Islam yang benar mengingkari
pemikiran wihdatul wujud.”

Sesungguhnya Sayyid Quthb telah membantah pemikiran wihdatul wujud dalam bukunya “Al- Muqawwamat At-Tashawur Al-Islamy”. Oleh karena itu, saya katakan, ‘semoga Allah SWT memaafkan
Sayyid lantaran ucapannya yang mutasyabih (samar), cenderung kepada keindahan bahasa, dan memberi keluasan bagi banyaknya ibarat! Kalimat mutasyabih tidaklah menghalangi kejelasan substansi yang tertera
dalam nash yang terdapat dalam sebagian tulisannya!
Untuk itu, saya berharap, segeralah menghapus nuansa takfir (pengkafiran) terhadap Sayyid rahimahullah.
Sesungguhnya, saya merasa kasihan terhadap Anda (Al-Madkhaly, pent.)!

Keempat. Sesungguhnya, di bawah tanggung jawab Anda (Al-Madkhaly, peny.) tuduhan bahwa Sayyid
Quthb menyalahi ulama dan ahli bahasa dalam tafsir La Ilaha Illallah dan bahwa Sayyid tidak memiliki
pemahaman yang jelas terhadap tauhid rububiyah dan uluhiyah. Wahai yang mencintai sang kekasih, tanpa investigasi, Anda (Al-Madkhaly, peny.) telah meruntuhkan sejumlah ketetapan yang Sayyid utarakan seputar masalah tauhid, tuntutannya, dan kelazimannya yang Sayyid paparkan selama masa hidupnya yang demikian panjang!

Terhadap segala yang telah Anda (Al-Madkhaly, peny.) tuduhkan itu, sesungguhnya tauhidullah dalam
pembuatan hukum dan UU adalah konsekuensi penerapan kalimat tauhid juga. Sayyid rahimahullah
telah memaparkan semua itu.

Kelima tentang tuduhan lain yang tertera dalam daftar isi bahwa Sayyid berpendapat Al-Qur’an adalah
makhluk dan firman Allah SWT adalah penjelasan dari iradah-Nya! Ketika saya rujuk ke halaman yang Anda
(Al-Madkhaly, peny.) maksud, ternyata saya tidak menemukan satu huruf pun yang menjelaskan Sayyid berpendapat demikian! Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Demikian mudahnya Anda men-takfir-kan Sayyid?

Sesungguhnya, saya justru membaca tulisan Sayyid, “Akan tetapi, mereka tidak memiliki kekuasaan
menghubungkan hal itu walau satu huruf semisal Al-Qur’an karena ia dibuat Allah SWT, bukan manusia!”
Itu adalah penjelasan yang tidak ragu lagi kekeliruannya. Namun, mengapa kita menghukumi bahwa dengan itu Sayyid telah berpaham Al-Qur’an sebagai makhluk? Ya Allah! Sesungguhnya, saya tidak
kuasa bersikap seperti itu. Tulisan Sayyid itu telah mengingatkan saya pada tulisan Syaikh Muhammad
Abdul Khaliq ‘Adhimah rahimahullah dalam muqaddimah bukunya, Dirasat fi Uslubil Qur’anil Karim, dan dicetak Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud!

Layakkah kita melempar tuduhan terhadap ucapan tersebut bahwa Al-Qur’an adalah makhluk? Ya Allah, tentu tidak! Cukup sampai di sini bagian-bagian yang amat penting ini”.

Sumber : Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Farid Nu’man, Pustaka Nauka,

WALLAAHU A'LAM BIS SHAWWAB