Pages

Rabu, 19 September 2018

Pendangkalan Aqidah dibalik Serunya Film Horor

Film horor terakhir yang kutonton adalah Pengabdi Setan, versi remake dan versi lawas. Jujur saja, Pengabdi Setan versi terbaru lebih bisa dinikmati dan memanjakan mata dibandingkan dengan versi lawas. Hanya saja ada sesuatu yang kurang sreg bagiku.

Jika di Pengabdi Setan versi lawas, setan-setannya takluk dengan kuasa ALlah lewat perantara Ustaz, di versi terbarunya malah sebaliknya. Tokoh Ustaz atau pemuka agama sama sekali tak berarti, penakut, tak punya magi, dan julid. Yang kemudian tokoh ustaz tersebut berakhir meninggal karena tak berdaya.

Hal tersebut mengingatkanku akan film-film horor Barat, yang menggambarkan pemuka agama mereka juga tak berkutik menghadapi para setan. Contohnya film Annabelle, The Exorcism (atau The Exorcist) dan lain-lain (aku kurang banyak nonton film horor karena tak cukup berani).

Mungkin bagi kebanyakan orang hal tersebut biasa saja. Tapi berbeda dengan yang aku dan temanku rasakan. Seperti ada pendangkalan aqidah 😆 Misalnya, secara tidak langsung kita meyakini bahwa pemuka agama tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan kejahatan setan (jin) dengan ilmu yang dimilikinya, yang dapat mbeleber ke kepercayaan akan kekuatan Tuhan. Aku adalag tipe video, jadi tontonan bisa begitu berpengaruh bagiku. Seperti kala aku nonton anime, lama-kelamaan aku seperti masuk ke dalam dunia itu. Lah. Hmm, aku bingung menggambarkannya.

Yang jelas, ada orang-orang sepertiku yang dapat dengan mudahnya terpengaruh tontonan tanpa sadar (maupun sadar). Nampaknya kita harus lebih berhati-hati lagi akan 'hiburan' yang kita tonton.

Jumat, 31 Agustus 2018

DUNIA DAKWAH ADALAH DUNIA ILUSI

Jangan marah dan menuduhku yang tidak-tidak kalau cuma baca judul. Cobalah untuk mengetahui secara utuh.

Aku pikir setelah aku memasuki dunia ini, aku akan semakin baik. Kenyataannya bisa iya bisa tidak. Ialah aku, seorang naif yang melihat betapa indahnya dunia dakwah kala belum memasuki kampus. Melihat dari kehidupan Twitter akan para seniorku yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus. Bagaimana aku tidak ingin menjadi bagiannya ?

Harap yang membuncah tinggi, tidak ada keraguan kala bergabung, adalah aku di masa muda. Otak dan pikiranku penuh aura idealis yang telah kupupuk sebelumnya.  Sampai akhirnya kenyataan demi kenyataan harus aku hadapi. Lama-lama aku seperti berada pada dunia ilusi.

Dunia dakwah di Lembaga Dakwah Kampus menurut idealitaku adalah dunia yang penuh keadilan, kekeluargaan, keagamanaan dan kebersamaan. Tapi itu hanya embel-embel saja. Mereka yang ada di dalamnya tetaplah manusia biasa.

Sejak tahun pertama, aku melihat ketidakadilan yang begitu kentara. Ada golongan yang dianak emaskan, ada yang dianak bawangkan. Aku sungguh tak percaya kalau itu ada di lembaga yang mengatasnamakan dakwah. Malah aku melihat organisasi lain yang tidak berhubungan dengan dakwah, lebih adil dan lebih kekeluargaan.

Jumat, 17 Agustus 2018

PERNIKAHAN IMPIAN

(((Ini hanyalah ungkapan rasa, sebah celutuk pribadi yang tak mengahruskanmu sama denganku. Mungkin bisa dijadikan pelajaran, bahwa sudut pandang manusia itu berbeda-beda. Dan kita semestinya saling hormat)))


Usia 20an atau hari-hari di mana kita menggarap tugas akhir kuliah, manusia normal cenderung memikirkan tentang pasangan dan pernikahan. Pernikahan dalam Islam merupakan suatu ikatan yang agung, ibadah yang masa aktifnya lama (harapannya). Manusia, dengan keinginan masing-masing tentang masa depan mereka.

Aku seharusnya berada dalam fase tersebut. Fase memikirkan tentang pasangan. Aku pernah ingin menikah, tapi itu tahunan silam. Sekarang, rasa ingin itu tidak besar. Biasa saja. Efek melihat kenyataan dan juga kelakuan-kelakuan para manusia membuatku cukup tahu dan sulit percaya.

Sisi idealisku beranggapan bahwa pernikahan harus didasari iman, dari awal sampai akhir, bahkan sampai 'nanti yang tak berujung'. Pernikahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis atau memenuhi kebutuhan batin, lebih dari itu. Sayangnya, kajian dan ajakan tentang pernikahan seringkali mengesankan pernikahan hanya untuk dua hal tersebut.

Mungkin hampir setiap perempuan ingin melaksanakan pernikahan terbaik dalam hidupnya. Dalam artian, segala macam prosesi pernikahan harus wah. Gaun yang cantik, WO yang baik, make up terbaik, dekor yang membuat terpana, dan sebagainya. Karena ada orang yang bercelutuk, "menjadi ratu sehari".

Entahlah, banyak hal yang bersifat umum atau wajar di khalayak itu, tidak begitu masuk menurutku.

Karena ini adalah blog pribadi dan opini pribadi, tak apa kalau aku menuliskan apa yang ada dalam benakku tentang pernikahan impian, bukan ? Baiklah. Mari kita mulai

Tentang Upacara Pernikahan
Entah kemasukan angin dari mana, aku berpikir bahwa pernikahan tidak harus dengan pesta mewah nan megah, busana yang indah, riasan yang wah. Karena yang terpenting adalah sah dan barakah.
Suatu ketika temanku membuka obrolan tentang biaya pernikahan.

"Kamu tau ngga paketan pernikahan semuanya berapa ?" Tanyanya.
"5 juta ?" Jawabku
"Yee ! Mana bisa ! Puluhan juta tau dew."
"Wew, mahal ugha ya. Padahal gitu doang"

Kalau di daerahku, di Jawa Tengah, hajatan pernikahan atau sunatan umumnya tiga hari. Dua hari untuk menerima tamu dari berbagai penjuru, hari terakhir adalah hari H. Dan masih ada hari kemudian untuk membereskan segala keberantakan yang terjadi. Memikirkan saja membuatku stres. Aku tidak cocok dengan vanyak orang dalam waktu yang lama.

Berbeda dengan di kota-kota yang kalau hajatan hanya sehari, bahkan bisa menyewa gedung. Walau itu juga tidaklah murah.

Waktu aku menemani Ibu ke rumah temannya, beliau vercerita bahwa ada tetangganya yang sampai berhutang untuk maskawin, demi sebuah kepantasan dalam masyarakat. Aku tak tahu kalau ternyata begitulah yang terjadi di masyarakat.

Peminjaman gaun pengantin yang ratusan ribu sampai ratusan juta, panggung yang hanya sehari, dipajang sedemikian.. Aku berpikir itu terlalu voros.

1. Gaun Pengantin
Mungkin bisa diakali dengan membeli dress atau gamis warna putih atau warna pastel berbahan cerruti atau velvet yang roknya lebar. Dress biasa tanpa apa-apa, agar bisa dipakai di kemudian hari. Secara kebermanfaatan tentu akan lebih bermanfaat daripada membuat atau menyewa gaun. Harganya bisa sama.

Begitu juga dengan kerudung. Kerudung persegi bahan velvet yang lebar kiranya cocok menambah keanggunan. Untuk memantasi, sehelai tule bisa disematkan di kerudung. Perempuan akan jauh lebih anggun ketika kerudungnya menjulur lebar, bukan yang dililit-lilit membentuk leher. Itu opiniku. Setelah aku hitung-hitung, harga tersebut hampir sama dengan sewa baju pengantin. Bahkan bisa lebih terjangkau.

Karena ya, aku memikirkan seandainya kita menyewa baju pengantin sampai Rp500.000 untuk sehari. Sayang aja uangnya.

2. Make Up
Tanggungan perempuan di masa kini adalah harus cantik menurut orang lain. Apalagi ketika tutorial make up menjamur di youtube. Segala look dapat menginspirasi orang-orang. Tapi aku punya standard cantik sendiri.

Aku tidak menyukai make up tebal dan membuat pangling. Aku berpikir dan merasa mukaku tidak cocok untuk full make up. Pun secara selera, aku lebih suka dengan warna kulitku tanpa ada sejenis foundation. Oleh karena itu, aku menginginkan pernikahan tanpa make up atau make up sangat minimalis. Cukup bedak agar tidak berminyak dan lipstik agar ada setitik kesegaran (karena biasanya aku terlihat jarang mandi). Tidak perlu yang lain, apalagi sampai contouring. Tidak perlu.

Dengan meminimalisir make up, biaya juga tidak akan membengkak. Aku mendapati sepupuku yang menikah, untuk riasan saja berjuta-juta. Padahal nantinya juga akan (dan harus) dihapus. Untuk apa ?

Hanya saja, ya, ini ditentang oleh teman-temanku. Padahal ini adalah ide cemerlangku. Haha

3. Pesta
Bagaimana kalau kita meniadakan pesta ? Akad, kemudian walimah dengan sederhana saja. Mengundang keluarga dan teman terdekat saja. Dan yang paling utama adalah mengundang yang seharusnya diundang, yaitu para yatim.
Mengundang ? Atau kami (aku) saja yang mendatangi ?

Sepertinya itu ide bagus. Tapi lagi-lagi, ide cemerlangku sedikit ditentang.

___

Tiga poin di atas, nampak sedikit aneh ? Atau banyak aneh ? Tapi kembali lagi ke tujuan menikah dan diadakannya upacara pernikahan. Yaitu untuk menggapai barakah dan mengabari bahwa kita telah menikah. Caranya bagaimana, itu tentunya terserah masing-masing orang bukan ? Karena merepotkan orang lain, apalagi banyak, adalag sebuah beban bagiku.

Iya, aku tahu. Ide-ide impian nan cemerlangku itu butuh perjuangan untuk disetujui para keluarga. Hahaha
Bisa jadi Orangtuaku ingin yang lain. Atau Orangtuamu juga menginginkan hal lain. Yah, tapi itu kan ide. Ide yang logis dan tidak mau rugi :p wekekek

Iya gue tau bahasa gue cenderung kaku dan gak lucu. Tapi emang entah sejak kapan gue berubah jadi dewasa gini :v



Menikah untuk mencapai barakah, membuat generasi-generasi mendatang yang Robbani, tidak hanya sekadae cinta aku dan kamu. Lebih, lebih agung dari itu. Lebih, lebih berat dari itu. Karena ianya adalah peribadatan seumur hidup (harapannya), bukan ?



Pasangan Idaman
Orang yang hanif. Orang yang baik. Orang yang benar.

Betapa.. betapa ya ALlah.. seringkali kudapati orang-orang bertopeng kebenaran dengan menyembunyikan segala kebusukan mereka. Topeng kebenaran, maksudnya adalah topeng agama. Tapi kelakuan bisa sama dengan mereka yang tak bertopeng.

Betapa ya ALlah.. bagaimana bisa aku tak melibatkanMu dalam segala hal ?

Minggu, 01 Juli 2018

KKN DITIADAKAN SAJA !

Kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) sudah tidak asing bagiku. Sejak usia Sekolah Dasar, rumah Orangtuaku sudah dijadikan sebagai posko KKN. Aku pun selalu menyambut baik kedatangan para mahasiswa yang KKN, sebelum KKN tahun 2011/2012.

Kala itu sepulang sekolah, aku mendapati rona lelah dari Ibu yang sedang mencuci banyak piring. Piring kotor yang telah dipakai makan para mahasiswa KKN. Pemandangan yang amat memilukan bagiku.

"Lu pikir Ibu gue apaan ?!" Batinku berteriak, seraya ingin mengusir para mahasiswa dari rumah.

Pagi sekali Ibuku masak untuk kami, termasuk para mahasiswa itu. Tak ada yang membantu, mereka masih nyaman dengan kasurnya. Dan aku harus berangkat sekolah pagi karena jarak cukup jauh. Semestinya ada semacam empati dari para mahasiswa yang katanya berpendidikan untuk membantu meringankan Ibuku. Misalnya mencuci piring makan mereka sendiri-sendiri atau dijadwal dan jadwal piket atas ketidakrapian yang dibuat mereka. Tapi, tidak ada.

Bahkan ada yang membuatku tambah geram dengan menanyakan ke Ibuku, "kok ngga ada lemarinya sih Bu (kamarku) ?"

Andaikan orang-orang (yang katanya) terpelajar itu tahu, apa saja yang sudah dilakukan Orangtuaku untuk menyambut mereka :')

Orangtuaku rela membeli kasur, lemari, dan perlengkapan lain demi menyambut mereka. Tapi memang kami bukan golongan orang kaya harta, maka hanya bisa beli beberapa. Kalau menyentuh masalah finansial, induk semang KKN ada kesepakatan dengan mahasiswa tanpa ada tambahan dari kampus. Dan kala itu, Rp10.000,- per anak per hari untuk tiga kali makan selama 35 hari, sudah termasuk listrik dan lainnya. Hal yang terkesan remeh seperti satu orang dua bantal, air panas, cemilan, mie instan selalu disediakan. Orangtuaku juga tidak masak apa adanya, tapi mencoba masak seoptimal mungkin agar tidak makan sayur melulu. Kurang apa lagi ? :')

Sejujurnya sering kubertanya, "untuk apa ? Mereka kan begitu ?"

Ibuku menjawab dengan santai, "membuat bahagia orang lain kan pahala".

Ya sudah, aku bisa apa ? Baiknya Orangtua memang tidak selalu diwariskan ke keturunannya, ya ? Haha

Tahun ini, Juni 2018, Orangtuaku bilang akan ada KKN lagi. Sontak aku kaget.

"Ha ? Lagi ? Kenapa ngga di tempat Pak Lurah aja ?" Tanyaku.
"Kan belum pemilihan lurah lagi, sekarang gak ada lurah"

Aku pun jadi teringat pengalaman masa lalu itu. Khawatir kalau Orangtuaku didzolimi lagi. Khawatir kalau Ibuku kelelahan, karena usianya semakin menua, tenaganya tak seperkasa dulu. Aku yang biasanya jarang pulang pun jadi ingin cepat pulang.

Benar saja, baru tiga hari KKN sudah ada yang berulah. Dua orang mahasiswi pulang malam sekitar pukul 22.40. Satu diantaranya diantar oleh seorang laki-laki, yang ternyata anak KKN posko desa sebelah. Setelah aku tanyai, mahasiswi tersebut menjawab dengan enteng tanpa rasa bersalah,
"Abis main. Hehe".

Menurutku, itu adalah hal yang tidak pantas dilakukan mahasiswi yang sedang KKN dan poskonya berinduk semang. Dia seharusnya memikirkan kondisi sekitar. Bisa jadi Orangtuaku menunggu mereka pulang demi mengunci pintu dan utamanya demi memastikan keselamatan mereka. Bisa jadi tetanggaku melihat pemandangan perempuan diantar lelaki pulang malam sebagai ketidaksenonohan.

Itu dari segi moral. Belum dari segi kemanfaatan.

KKN zaman dulu, ketika para mahasiswa masih menjunjung tinggi norma, kehadirannya terasa mewarnai masyarakat. Mereka dicintai, diharapkan, disegani dan didoakan kebaikan atas mereka. Semakin ke sini KKN semakin terkesan hanya formalitas. Masyarakat pun tak merasa ada aura kehadiran mereka.

Ketentuan KKN sepertinya berbeda tiap kampus. Ada kampus yang mewajibkan, ada yang tidak.

Tempat penerjunan mahasiswa KKN pun beragam. Ada yang memang membutuhkan KKN, ada yang tidak. Konyolnya, ada kampus yang menempatkan mahasiswa KKN di tempat yang sudah cenderung maju. Ada juga masyarakat yang aji mumpung akan kedatangan KKN. Misalnya dengan mencari keuntungan penyewaan posko, memanfaatkan tenaga KKN untuk 'mengemis' dana demi pembangunan desa, melaksanakan tugas yang seharusnya dikerjakan pegawai balai desa, dan lain-lain.

Pengalamanku KKN, aku ditempatkan di desa yang sudah cukup maju bahkan dekat dengan kota. Cukup membingungkan untuk berKKNria. Aku dapat posko rumah yang tidak ditinggali, tak berinduk semang. Kami datang dengan keadaan rumah yang amat berantakan. Kasur dan bantal seadanya tanpa sprei. Bayar sewa mahal, belum dengan listrik. Haha

Aku pun tak begitu dekat dengan masyarakat. Tak tahu bagaimana cara untuk sekadar membuka obrolan. Aku asosial. Aku sering main bahkan sampai malam, karena tidak berinduk semang. Pulang KKN, berat badan menyusut 5kilogram.

Aku terpikir kalau KKN ini hanya untuk formalitas, kalau kasusnya sepertiku. Semoga ke depan jika KKN tetap akan ada, lokasi penerjunannya benar-benar yang membutuhkan, ada bantuan atau lobian dari pihak kampus agar mahasiswanya tak keluar terlalu banyak uang untuk sekadar formalitas. KKNku habis 2juta sekian untuk tempat tinggal, makan, listrik dan program kerja. Terbilang mahal dibanding posko lain yang per anak hanya Rp750.000.


Well, ada kisah-kisah lucu anak-anak KKN yang aku dapat dari teman-teman dari berbagai penjuru. Tentunya kampusnya aku sembunyikan ya. Hanya saja, kelakuan anak-anak KKN ini sangat tidak patut. Seperti ini;
1. Mabuk-mabukan bersama warga desa setempat atas dasar pendekatan.
2. Minta menu makannya dispesialkan sampai bawa Orangtua ke induk semang tanpa bayar lebih, atas permintaan VIPnya.
3. Menggebrak pintu dan menampakkan kemarahan kepada induk semang karena induk semang mengatakan, "KKN kan biasanya semua bareng-bareng Mba, termasuk makannya", ketika si anak itu minta agar tidak membayar uang makan karena rumahnya dekat (padahal jauh, sekitar 30 menit dari posko).
4. Tidak mau menjalankan program kerja kalau tidak ada es krim dan tiap akhir pekan pulang untuk liburan. Padahal, ah sudahlah..


Ingatlah wahai para mahasiswa, ketika kalian KKN, kalian tidak hanya membawa nama pribadi. Almamater kalian lebih teebawa. Bisa jadi pula akan ada generalisir dari masyarakat.

Sabtu, 05 Mei 2018

Niqabers Jangan Galak

RAMAH DIKIT, BISA ? (Da'wah dengan Hikmah)

Saya percaya bahwa sebagai Muslim, kita berperan sebagai agen. Agen untuk mengenalkan Islam, bagaimana Islam itu. Apalagi untuk yang telah berhijrah..

Maksudnya adalah, berbagi kebaikan dengan sesama Muslim. Misal ada sodara seiman yang butuh ditemenin, yang butuh tau sesuatu atau sebagainya, kita ada di sana. Bagaimana menjaga pergaulan dan bagaimana bersikap. Kita harus jaga, dengan sabar, tidak kaku dan tidak keras tapi tetap berprinsip. Maka dengan itu kita akan diterima.

Ada sesuatu yang membuat saya gemes, kesal dan sedih ketika teman saya pulang ke kosan kemudian bercerita tentang hal yang baru dilihatnya. Ada seorang perempuan berpakaian gelap-gelap, bercadar lengkap sampai sarung tangan, mengisi bensin di SPBU. Cadarnya bukan hanya cadar tali, tapi yang lebih tertutup dari itu (mungkin maksudnya cadar ritz). Dengan demikian auratnya boleh saya bilang sangat terlindungi. Dengan pakaian yang seperti itu, tentu orang-orang bahkan yang awwam kaya saya akan memiliki kesan kalo si pemakai adalah Muslimah banget, beda pemahamannya dari yang lain. WaLlahu a'lam,

sih.

Sayangnya, sandang yang dipakai dengan kesan yang tertempel itu, tidak disesuaikan dengan perilakunya kepada manusia.

"Uangnya, Bu ?" tanya Pak SPBU dengan ramah.
"Tuh !" sambil ngelempar uang ke jok motor, kemudian menunjuk si uang dengan tangannya. Saking ngga mau tersentuhnya mungkin..

Rona wajah Bapaknya langsung berubah ngga enak. Dan melakukan hal yang sama kaya Ibu-ibu yang tadi, ngelempar uang kembalian ke jok motor. Setelah Ibunya pergi, Bapaknya semacam ngedumel dalam bahasa Jawa yang teman saya ngga tau artinya. Kemudian teman saya mencoba mengembalikan mood baik si Bapak dengan berperilaku ramah sepatutnya kepada sesama manusia. Bayangin, pekerja SPBU kerjanya berdiri sambil megangin gagang bensin kemudian ada konsumen yang bertingkah ngga patut ~


Orang-orang bercadar, menurut orang-orang umum itu bisa jadi aneh. Dan mungkin dikesankan ekstrem. Apalagi ditambah sikap yang ngga ramah buat sesama manusia, nampaknya kesan-kesan tidak menyenangkan kepada Muslimah bercadar tidak akan berkurang..

Apa susahnya ngasih uang secara langsung ? Takut tersentuh ?
Bukankah bisa diakali dengan memegang ujung uangnya ? Pun bersarung tangan jua..

Apa susahnya juga berkata lembut ? Suara itu aurat ? Kenapa ga minta suami ato mahromnya aja yang beli bensin sekalian ?
Kzl.

Memang, don't judge the book by it's cover. Ga boleh menghakimi seseorang berdasar sandang yang ia pakai. Tapi, setidaknya ada suatu rasa sadar diri akan apa yang dikenakan dan imbasnya kepada orang lain.
Bisa jadi karena kesalahan satu orang, orang-orang dengan pakaian yang sama menjadi ikut dijustifikasi.
Bisa jadi karena kesalahan satu orang, seseorang yang tadinya terpanggil menjadi memberhentikan diri.
Bisa jadi karena kesalahan satu orang, kebaikan-kebaikan yang sudah dibangun menjadi hilang seketika.


Adab sebelum 'ilmu. Ngaji, harusnya membuat orang bertambah kesantunannya.

Ini sebuah peringatan dan pengingat khususnya untuk diri sendiri.

posted from Bloggeroid

Sabtu, 03 Februari 2018

Protes akan Penggunaan Bahasa "Lo-Gue"



Sejak bermain sosial media, aku memerhatikan bahasa. Bahasa penulisan, bahasa chat, juga perasaan yang terkandung dalam tulisan yang dibuat. Kyaaa

Dari sosial media, aku biasa menggunakan bahasa gaul agar terkesan renyah. Misalnya mengganti aku-kamu dengan gue-elu. Dan ternyata hal tersebut terbawa ke dunia nyata

Banyak yang protes dengan bahasa yang ku gunakan
"Halah orang X aja pakenya gue-elu", "gak cinta sama bahasa daerah !" Etc etc

Kalem dulu yah, funs. Sini baca sambil melek deh

Seperti prolog di atas, salah satu alasan kenapa memakai bahasa gaul adalah agar renyah > lebih mudah diterima. Juga, ada kesan-kesan dalam kata pengganti darinya. Seperti
1. Saya-Anda. Menurutku ini terlalu formal untuk dipakai sehari-hari. Karena aku tidak sekaku itu. Bahasa ini biasa dipakai untuk berbicara dengan dosen atau acara formal atau bicara dengan orang yang baru dikenal

2. Aku-Kamu. Menurutku ini terlalu berkesan manis. Kadang jadi sok imut .-. Aku pakai ini ke perempuan. Atau ke orang yang tidak terlalu akrab tapi tidak bisa pake gue-elu. Mungkin juga ke orang spesial, uhuk. Pret

3. Ane-Ente. Sepertinya ini bahasa yang dari dulu ane pake sih Gan.. bahasa agan-agan kaskuser. Dan ternyata organisasi tempat ane pernah nangkring pake bahasa ini juga. Organisasi Agan Kaskus, OAK lol

4. Gue-Elu. Yaaa kadang emang terkesan galak, sih. Tapi ya gimana.. kadang dengan kata ini, kita jadi susah diakrabin. Tali dengan bahasa ini, kita jadi bisa akrab. Rumit ya ? Cuma bahasa ini sih yang banyak dapet protes

Intinya, memakai bahasa itu tergantung kepada siapa lawan bicara, juga kondisi. Semakin ke sini aku semakin belajar. Kalau aku berbicara dengan lelaki yang mudah baper, aku gak pake bahasa nomor 2. Kalau aku bertemu dosen, aku menggunakan bahasa nomor 1. Dan seterusnya

Juga, penggunaan kata 'kamu' dan 'elu' menurutku kurang sopan jika ditujukan kepada orang yang lebih tua atau senpai dalam beberapa situasi, kalau hubungannya tidak begitu akrab. Jadi sekarang aku pakai kata ganti "Mba X", "Om Y" dsj daripada 'kamu' atau 'elu'. Imho saja

Tentang tidak cinta dengan bahasa daerah, sesungguhnya itu tuduhan yang sangat keji. Aku mencintai dan mendukung pelestarian bahasa daerah. Aku pernah menuliskan tentang kecintaanku padanya tahunan silam di blog (http://dewisaladin.blogspot.co.id/2012/06/ngapak-itu-keren.html?m=1). Aku pun memakainya saat bisa. Fyi gue ngomong pake bahasa krama (walo ngga inggil) ke Ortu

Btw, jadi teringat. Kenapa keterusan pakai gue-elo, juga ada andil besar dari betapa gemarnya aku mengikuti blog dan twitter @Poconggg yang menggunakan gue-elo. Tulisannya tidak hanya menghibur, tapi juga berisi pesan baik. Dulu aku belajar menulis terinspirasi dari betapa renyahnya bahasa @Poconggg. Jadi, keterusan

Sudah ya, intinya itu. Saling menghargai dan saling memahami itu koentji. Jangan hanya bisa protes dan nyinyir atas sedikitnya hal yang kamu ketahui ya, funs-funs aquuh

Dariku, yang sering dikira bukan penduduk Ngapak
Waktu itu ketemu sama temennya Kholid, dia nanya aku orang mana. Setelah tahu jawabnya, dia berucap, "kok ngga kaya orang sini logatnya ?" Pun dengan beberapa orang yang baru kenal

Note : bahasa memang tidak bisa disepelekan. Karena bahasa menunjukkan bangsa, katanya. Aku sangat respek dengan orang-orang yang kaya bahasa. Apalagi dapat merangkainya secara indah, atau secara ringan tapi bermakna sangat dalam. Dan sebaliknya, penggunaan kata-kata kotor sebaiknya dihindari. Gue-elu bukanlah kata kotor

Sudah ya, sudah

posted from Bloggeroid